Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Waspada Ancaman Badai Petir, Petani Sukoharjo Tewas Tersambar

13 Februari 2020, 06: 40: 59 WIB | editor : Perdana

Area persawahan tempat di mana korban Joko Wibowo tersambar petir.

Area persawahan tempat di mana korban Joko Wibowo tersambar petir. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Nasib nahas dialami Joko Wibowo, 33, warga Bangsri Gede RT 01 RW 10 Kelurahan Kriwen, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. Berniat membantu menggarap sawah, dia harus meregang nyawa karena tersambar petir saat hendak pulang, Rabu (12/2). Sementara dua rekannya berhasil lolos dari maut.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo, kejadian bermula ketika Joko membantu menggarap sawah milik Paidi, 62, bersama Handoko, 41, sekitar pukul 14.00. Keduanya merupakan warga Kelurahan Kriwen, Sukoharjo. Namun, sekitar 15.30 kondisi cuaca hujan deras. Ketiganya lantas memutuskan pulang ke rumah.

Sawah yang tengah digarap terletak di area persawahan Bangsri Cilik RT 01 RW 01, Kriwen, Sukoharjo. Saat itu Joko menggunakan motor sendiri. Sedangkan dua rekannya sudah naik sepeda motor duluan dan berada tidak jauh di depan Joko. Sialnya, ketika Joko sudah menaiki motor dan akan melintasi jalan sawah, petir menyambar dan mengenai tubuh korban. Joko lantas terjatuh dari motor dan tidak sadarkan diri.

“Korban langsung meninggal di tempat. Para saksi yakni Paidi dan Handoko segera meminta pertolongan warga sekitar,” terang Kapolsek Sukoharjo Kota AKP Gerry Armando.

Warga kemudian melapor ke Polsek Sukoharjo Kota dan membawa jenazah korban ke rumah duka. Petugas Puskesmas Sukoharjo Kota lantas melakukan pemeriksaan pada jenazah. “Hasil pemeriksaan memang meninggal akibat serangan jantung karena disambar petir. Dan pihak keluarga juga sudah menerima dan langsung diserahkan ke pihak keluarga,” imbuhnya.

Bapak dua anak ini lantas disemayamkan di rumah duka dan akan dimakamkan di Astanoloyo Bangsri Gede pada Kamis (13/2) pukul 11.00. Selain itu, AKP Gerry mengaku kejadian orang tersambar petir memang baru pertama terjadi di Sukoharjo. Pihaknya mengingatkan agar masyarakat tidak beraktivitas di luar ruangan ketika hujan deras3

“Masyarakat harus bisa melihat kondisi cuaca. Jika hujan deras, sebaiknya berteduh. Karena kalau ada petir, berbahaya jika berada di luar ruangan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Kasi Data Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Iis Widya Harmoko mengatakan, potensi badai petir akan terus ada selama musim peralihan berlangsung. Menurut dia, kemarin (12/2), Sukoharjo memang menjadi salah satu daerah yang mendapat peringatan cuaca ekstrem.

“Peringatan cuaca ektrem diperkirakan terjadi sekitar 15.00. Di mana terjadi hujan berpotensi sedang sampai lebat dan disertai petir. Kami sebenarnya sudah membuat warning lewat grup-grup di media sosial. Mungkin karena keterbatasan akses sehingga masyarakat tidak tahu,” terangnya.

Iis mengatakan jika akses informasi BMKG diharapkan bisa sampai pada masyarakat. Namun, jika masyarakat tidak dapat menjangkau, tetap bisa menandai ciri-ciri yang muncul ketika akan terjadi badai. Hal tersebut dapat terlihat dengan kemunculan awan cumolonimbus yang menyebabkan badai.

“Masyarakat bisa niteni. Kalau tiba-tiba muncul awan putih lalu berubah menjadi hitam. Itu namanya awan cumolonimbus yang bisa menyebabkan petir dan angin kencang,” katanya.

Bila awan tersebut telah terlihat, Iis mengimbau agar masyarakat menghindari tempat terbuka. Selain itu, masyarakat juga tidak boleh berteduh di bawah pohon ataupun tiang listrik. Sebab, potensi tersambar cukup besar. Sehingga lebih aman masyarakat masuk dalam ruangan.

“Pada musim peralihan seperti ini potensi petir sangat berbahaya. Meski kami sudah memberi peringatan, potensi bencana hidrometereologi memang selalu ada di Indonesia. Karenanya masyarakat harus berhati-hati,” terangnya. (rgl/bun)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia