Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Tantangan di Era Teknologi, Media Massa vs Pencaplok Berita

13 Februari 2020, 10: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/2).

Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/2). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Era teknologi digital menjadi tantangan bagi media massa. Tidak hanya bersaing dengan media sosial penyebar informasi, tapi juga dengan pencaplok berita atau news aggregator. Sebab, mereka inilah yang justru mendapat keuntungan lebih dari mencaplok berita di media massa lain.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun saat melakukan verifikasi faktual di kantor Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/2). Dia menjelaskan, ada tiga tantangan berat yang harus dihadapi media massa saat ini. Pertama, berubahnya pola konsumsi informasi di masyarakat. Jika dulu orang mengandalkan 80 persen media massa untuk mencari informasi, sekarang justru sebaliknya. Orang lebih suka mengonsumsi informasi dari media sosial.

Kedua, kemajuan teknologi membuat orang ingin mendapat informasi secara gratis. Masyarakat lebih suka mencari informasi dari media sosial yang belum pasti kebenarannya. Selain itu, majunya teknologi membuat berita-berita media massa dengan mudah dicaplok oleh news aggregator.

”Sekarang orang mencari berita lewat mereka (media sosial), dan news aggregator inilah yang mendapat keuntungan. Teknologi membuat media massa tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.

Ketiga, menurunnya kualitas produk jurnalistik secara keseluruhan. Sehingga membuat masyarakat mulai beralih ke media sosial. ”Kalau dulu hanya ada 1.000 media, kita bisa melihat mana yang bermutu mana yang tidak. Sekarang ada 40 ribuan media,” jelasnya.

Bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN), Dewan Pers bersama tokoh-tokoh pers bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Salah satu agendanya terkait pembahasan soal regulasi untuk memproteksi media massa agar tidak dirugikan.

”Presiden Jokowi mulai memerhatikan nasib media massa. Meminta membuat usulan regulasi ke pemerintah agar media massa ini terproteksi. Salah satu contoh, pihak yang mencaplok berita harus ada izin dari media yang beritanya diambil. Itu memang rumit mekanismenya, tapi sudah diterapkan di Thailand,” jelas dia.

Menurut Hendry, pemerintah sudah mulai ada kesadaran untuk melindungi produk jurnalistik yang baik. Sebab, ini berkaitan generasi penerus, agar tidak diracuni informasi dari media sosial yang belum pasti kebenarannya.

”Itu bisa mengancam massa depan generasi penerus. Untuk itu, media juga harus membuktikan daya jangkau dan kredibilitasnya ke masyarakat lebih baik,” tandasnya. (adi/bun)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia