Rabu, 26 Feb 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Duh Sayang, Museum Masih Dianggap Galeri tanpa Makna

15 Februari 2020, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Seminar nasional tentang Hari Pers Nasional di Hotel Sahid Jaya, kemarin (14/2).

Seminar nasional tentang Hari Pers Nasional di Hotel Sahid Jaya, kemarin (14/2). (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Semua hal yang menyangkut museum menjadi tidak seksi untuk diperbincangakan. Masyarakat hanya melihat museum sebagai sebuah galeri tanpa makna.

Hal itu disampaikan pegiat Solo Museum Society Hanintianto Joedo dalam Seminar Nasional Refleksi Sejarah Pers Indonesia Melalui Revitalisasi Monumen Pers Nasional di Hotel Sahid Jaya, Jumat (14/2).

Menurutnya museum di Indonesia belum berfungsi sebagaimana mestinya. Secara umum, museum memiliki fungsi informasi, pendidikan dan rekreasi. 

“Tapi ketika ada yang rekreasi ke museum, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Misalnya ada barang di museum, hanya ada tulisan don’t touch (jangan dipegang). Harusnya diberi informasi tentang barang tersebut disertai peragaan atau sejenisnya,” kata Joedo.

Dia juga mengkritik keras pameran museum yang mendatangi kampus-kampus di Indonesia. Kedatangan puluhan museum dalam satu event itu mengerdilkan proses pengenalan museum kepada masyarakat. Semestinya masyarakat yang memiliki inisiatif untuk datang ke museum-museum tersebut.

“Dengan adanya (pameran museum di kampus) masyarakat jadi tidak pernah ke museum. Karena sekali datang ke acara itu sudah bisa tahu puluhan museum di Indonesia,” tandasnya.

Joedo mendorong masyarakat agar berani membuat museum sendiri dan dikembangkan secara maksimal. Dia juga mempersilakan museum dijadikan sebuah bisnis berkelanjutan. Selain itu, museum juga harus mengikuti kemajuan teknologi.  “Digitalisasi museum itu perlu agar museum tak ketinggalan zaman,” ucapnya.

Sementara itu, wartawan senior Kemala Atmojo mengaku telah menyerahkan ratusan koleksinya ke sejumlah museum, termasuk Monumen Pers Nasional. Kemala memiliki banyak koleksi edisi lawas seluruh media di Indonesia. Dia mengumpulkan terbitan pertama setiap media di tanah air.

“Ada orang datang ke saya sekadar mencari iklan BH pertama kali. Untuk apa? Untuk melihat kapan modernisasi wanita di Indonesia dimulai,” katanya.

Kemala mendorong masyarakat agar mendokumentasikan setiap hal yang digandrungi. Meski nampak tidak bermanfaat, namun kebiasaan tersebut nantinya bakal membuahkan hasil. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia