alexametrics
Rabu, 03 Jun 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Bukit Sidoguro Longsor, Dua Rumah Rusak, 6 KK Mengungsi

17 Februari 2020, 09: 35: 59 WIB | editor : Perdana

WASWAS: Kondisi longsor yang terjadi di perbukitan Sidoguro di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat. 

WASWAS: Kondisi longsor yang terjadi di perbukitan Sidoguro di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.  (ANGGA PURENDRA)

Share this      

KLATEN –Hujan deras yang mengguyur Desa Krakitan, Kecamatan Bayat membuat Bukit Sidoguro longsor pada Sabtu (15/2) sekitar Pukul 17.30 WIB. Hal ini membuat dua rumah yang berada di lereng perbukitan tepatnya di Dusun Tobong Ngasem, RT 02 RW 20, Desa Krakitan itu terancam longsor.

Kedua rumah itu milik Sapar, 55, dan Ramlan, 60, sehingga sejak semalam mengungsi ke lokasi yang aman. Pasalnya, potensi longsor susulan masih bisa terjadi yang berakibat pada robohnya rumah.

”Saat kejadian saya sebenarnya sedang duduk-duduk dengan istri di teras. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, yang ternyata dari bagian halaman rumah saya yang longsor. Langsung saja saya dengan istri menyelamatkan diri,” ucap Ramlan saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di lokasi kejadian, Minggu (16/2).

Ramlan menceritakan sebelum terjadi longsor memang sudah ada tanda-tanda beberapa waktu lalu. Yakni munculnya retakan pada bagian lantai teras rumahnya, yang akhirnya kini sudah longsor.

Dalam peristiwa longsor itu tidak ada korban jiwa, tetapi terdapat empat rumah di bawahnya yang terdampak. Meski begitu ke empat rumah itu tidak mengalami kerusakan berat. Hanya saja dahan pohon mengenai bagian genteng salah satu rumah di bawahnya.

Keempat rumah itu milik keluarga Suwito, 50; Gini, 60; Bagjo, 50, dan Kamil, 45. Semalam juga diarahkan dari pemerintah desa untuk mengungsi terlebih dahulu. Hal itu untuk menghindari segala kemungkinan, terutama longsoran susulan.

“Kemarin usai kejadian langsung saya mengungsi ke tempat saudara di Dusun Brengosan, Desa Krakitan. Begitu juga Pak Sapar mengungsi di tempat saudaranya di Dusun Batilan, Desa Krakitan. Soalnya cukup mengkhawatirkan jika tetap menempati rumah ini karena bisa longsor sewaktu-waktu,” jelasnya.

Ramlan berharap segera ada penanganan darurat, sekalipun dirinya memutuskan tidak akan menempati rumahnya yang di lereng perbukitan itu. Apalagi rumahnya itu sebenarnya sudah memiliki sertifikat atas namanya sendiri. Apabila mendapatkan bantuan dari pemerintah akan digunakan membangun rumah di lokasi yang lebih aman.

Sementara itu, Kepala Desa Krakitan Nurdin mengatakan untuk penanganan darurat pada bagian halaman rumah yang masih tersisa, ditutupi terpal. Tujuannya jika turun hujan lagi tidak langsung terkena air yang menyebabkan potensi kembali longsor.

“Kejadian ini sudah kami koordinasikan dengan pihak Pemerintah Kecamatan Bayat, Polres, Kodim dan BPBD Klaten. Pada intinya perlu adanya penanganan darurat karena di bawahnya merupakan permukiman padat. Untuk saat ini potensi longsor hanya ada di Dusun Tobong Ngasem saja,” jelasnya.

Nurdin menambahkan akan dilakukan gotong-royong dengan memasang patok untuk mencegah terjadinya longsor. Hanya saja sebelum dilakukan penanganan darurat itu perlu dipastikan terkait keselamatan. Pasalnya longsor susulan di lereng perbukitan Sidoguro itu masih bisa terjadi seiring intensitas hujan yang tinggi. (ren/nik)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia