alexametrics
Kamis, 13 Aug 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Harga Buah Lokal di Pasar Gede Saingi Impor

18 Februari 2020, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

TERDAMPAK: Komoditas buah lokal dijual di salah satu supermarket besar di Kota Solo. Wabah korona di Tiongkok menyebabkan keran impor buah macet.

TERDAMPAK: Komoditas buah lokal dijual di salah satu supermarket besar di Kota Solo. Wabah korona di Tiongkok menyebabkan keran impor buah macet. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Keran impor sejumlah komoditas pangan dari Tiongkok dibatasi. Imbas wabah korona di Kota Wuhan. Imbasnya, stok buah impor menipis di Kota Solo. Kondisi ini dimanfaatkan pedagang dengan menaikkan harga buah lokal.

Pedagang yang masih punya stok buah impor menjualnya dengan menaikkan harga hingga 30 persen. Pantauan Jawa Pos Radar Solo di Pasar Gede, harga buah naik signifikan. Baik impor maupun lokal. Kenaikannya sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram (kg). 

Salah satunya apel Malang. Sebelum wabah korona merebak, harga apel Malang hanya Rp 35 ribu per kg. Kini, naik jadi Rp 40 ribu per kg. Per boks, apel Malang dulu hanya Rp 320 ribu per boks. Kini naik jadi Rp 400 ribu per boks. 

“Buah sekarang memang lagi “wangi”. Bukan naik, tapi sudah ganti harga. Harga buah apel Fuji Rp 55 ribu per kg. Gantinya, harga apel Malang ikut naik,” ujar Mini, 45, pedagang buah Pasar Gede, kemarin (17/2).

Jeruk Medan ikut-ikutan naik harga. Di pasaran menyentuh Rp 200 ribu per boks. Biasanya hanya Rp 150 ribu per boks. “Harga buah lokal sekarang bersaing dengan impor. Jeruk Mandarin maupun lokal Medan harganya juga naik. Jeruk Medan sekarang jadi Rp 25 ribu per kg. Dulu hanya sekitar Rp 20 ribu per kg,” imbuhnya.

Pedagang buah lokal Pasar Gede Ari, 32, mengaku kenaikan dipicu menipisnya stok. Selain itu, pedagang kesulitan berburu buah lokal yang kualitasnya sekelas impor. “Kenaikan harga terjadi hampir semua jenis buah. Salak lokal naik dari Rp 25 ribu jadi Rp 30 ribu per kg. Duku dari Rp 25 ribu, sekarang naik jadi Rp 30 ribu per kg,” jelasnya.

Siti, 44, pedagang buah lainnya mengaku kenaikan harga sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Menipisnya stok buah impor, pedagang terpaksa mengganti dengan buah lokal. Alhasil penurunan omzet tak terelakan.

“Buah impor yang ada ini sebenaranya stok lama. Stok penghabisan. Jadi harganya tinggi. Harga buah lokal otomatis ikut naik. Padahal minat pembeli cenderung turun,” keluhnya. (mg4/aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia