alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Ancaman Demo Mahasiswa Tak Bikin Ganjar Gentar Isi Diskusi Lingkungan

19 Februari 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Gubernur Ganjar Pranowo berdiskusi dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Gubernur Ganjar Pranowo berdiskusi dengan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Share this      

JOGJA - Demo seratusan mahasiswa yang mewarnai acara Government Gathering on Good and Green Government di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (18/2), tak sedikit pun membuat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo gentar. Dia tetap berangkat ke UMY untuk menjadi narasumber dalam acara tersebut.

Sebenarnya ada dua gubernur yang dijadwalkan hadir menjadi pembicara. Selain Ganjar, juga Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun, Anies tak hadir langsung di Jogja dan hanya melakukan video conference. 

Acara tersebut digelar untuk membuka ruang diskusi antara kepala daerah dengan mahasiswa terkait pemerintahan yang bersih dan peduli terhadap lingkungan. 

Mengetahui agenda tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa UMY menggelar aksi. 

Dalam keterangannya, Rayhan, perwakilan dari Aliansi UMY Bergerak menyampaikan, bakal mengerahkan sekitar 100 mahasiswa dari beberapa universitas. Mereka menggelar aksi di depan gedung Sportorium, tempat berlangsungnya acara, dan mengancam memberikan raport merah pada Ganjar dan Anies. 

"Pemanfaatan daya dukung lingkungan tidak akan sempurna jika tidak adanya kerja sama dari berbagai pihak dalam usaha menjaga dan melestarikan. Terkhusus masing-masing wilayah kota, salah satunya ialah DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Tengah," ucap Rayhan dalam keterangannya.

DKI Jakarta, lanjut dia, merupakan daerah di Indonesia yang banyak memiliki permasalahan. Mulai isu tentang lingkungan hidup dan hampir membelit semua aspek serta dimensi kehidupan masyarakat. 

Sayang, gubernur DKI Anies Baswedan tidak hadir langsung dan hanya bisa melakukan video conference dari Jakarta. Melalui video langsung itu Anies mengatakan, untuk membangun green government itu harus mengalirkan informasi. 

"Karena saat ini telah mengalami transformasi. Setelah itu, tim harus mengelola lingkungan dengan cara mengecilkan residu-residu. Misalnya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi," kata Anies lewat video conference.

Berbeda dengan Anies, Ganjar yang hadir di acara bisa lebih santai bercengkrama dan berdiskusi dengan peserta seminar. Bahkan, Ganjar mengajak mahasiswa untuk duduk di barisan depan, mengisi kursi-kursi kosong yang diperuntukkan bagi dosen dan tamu undangan. 

Begitu semua duduk, para mahasiwa mulai melontarkan beberapa pertanyaan kritis. Di antaranya soal isu bau limbah PT RUM di Sukoharjo yang mengganggu masyarakat. Kemudian soal pembangunan Bendungan Bener.

Dengan sigap dan meyakinkan, Ganjar menjawab satu per satu pertanyaan dari mahasiswa. Soal proyek Bendungan Bener, kata Ganjar, memang dibuat setelah melihat lahan pertanian yang kekurangan air 

"Lantas apa solusinya? Ya, buat bendungan. Persoalannya sekarang adalah harga tanah. Untuk itu, pemprov berperan agar harga tetap stabil tidak naik terlalu tinggi," katanya. 

Kemudian untuk kasus bau limbah PT RUM, Ganjar menjelaskan, pihaknya juga telah menjalin komunikasi. Berdasarkan informasi dari manajemen perusahaan, saat ini pabrik tekstil itu telah mencari teknologi agar mesin pengolahannya tidak mengeluarkan aroma menyengat lagi. Mesin berteknologi itu hanya ada di Eropa.

"Maksimal dua belas bulan mesin itu datang. Persoalannya, di tengah mimpi kita berdikari soal tekstil dan menghadapi kendala seperti ini, akan tetap kita lanjutkan usaha itu atau kita tutup? Sementara ada tiga puluh ribu pekerja di sana?" Kata Ganjar. 

Diskusi pun berlangsung sangat seru dengan banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Menghadapi berbagai pertanyaan kritis itu, selain menjawab, Ganjar juga justru memberi hadiah buku ke mahasiswa.

Di akhir acara, salah seorang mahasiswa memberikan map merah berisi beberapa tuntutan mereka terkait isu lingkungan di Jawa Tengah. Dikatakan Ganjar, berpikir kritis boleh. Namun, jangan sampai justru salah dalam mencari pengetahuan gara-gara hanya terpaku dengan informasi yang bersumber dari media sosial (medsos).

Caranya, kata Ganjar, yakni dengan banyak membaca, memperkaya literasi. "Jangan sampai hanya berdasar kecerdasan satu alenia, yaitu pengetahuan hanya dari sosmed, kita bicaranya sampai mana-mana," papar Ganjar. 

Dia tetap menerima map merah tersebut, untuk selanjutnya dipelajari dulu. Namun, Ganjar juga mengingatkan jika Pemprov Jateng punya kanal aduan yang telah dibuka dengan lebar. Siapa saja bisa mengakses dan menyampaian aduan.

"Ya sampaikan saja (di kanal aduan). Jangan menumpangi acara orang lain," tegas Ganjar.

(rs/bay/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia