alexametrics
Selasa, 31 Mar 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Sensasi Cultural Shocking melalui Pertukaran Pelajar

21 Februari 2020, 17: 00: 53 WIB | editor : Perdana

Sensasi Cultural Shocking melalui Pertukaran Pelajar

Oleh: Mitoriana Porusia SKM M.Sc, Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Surakarta

SALAH satu pelajaran yang tidak banyak diajarkan di bangku perkuliahan adalah soft skill hidup di negara lain. Di mana agama, warna kulit, iklim, bahasa dan budaya setempat sangat berbeda dengan di negara asal.

Istilah cultural shock digunakan sebagai istilah respons terkejut seorang individu pada suatu budaya, kondisi dan lingkungan saat berada di negara orang lain, sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan, stres hingga rasa ingin pulang ke negara asal (homesick).

Kemampuan adaptasi yang baik sangat dibutuhkan untuk mampu bertahan hidup tanpa mengalami tekanan saat tinggal di negara lain. Salah satu cara awal untuk mencoba sensasi ini adalah dengan berkunjung atau tinggal di negara lain untuk sementara waktu dan merasakan langsung pengalaman menantang ini.

Salah satu kegiatan yang ditawarkan Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk meningkatkan keterampilan hidup mahasiswa (lifeskill) dan daya saing mahasiswa di kancah Internasional adalah melalui pertukaran pelajar dengan negara-negara tetangga, salah satunya dengan Thailand.

UMS yang kini dinobatkan sebagai universitas swasta terbaik di Asia berdasarkan UniRank 2020, berusaha meningkatkan citra baik di level ASEAN maupun internasional. Kegiatan pertukaran pelajar baik dalam waktu yang panjang atau pun singkat menjadi cara UMS untuk membenturkan mahasiswa dengan segala perbedaan budaya namun tetap menjaga aqidah-aqidah Islam.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta yang melakukan kegiatan pertukaran pelajar atau student exchange di Sirindhorn College of Public Health 2-14 Februari 2020, merasa senang sekaligus tidak menyangka harus berhadapan dengan sensasi cultural shock yang cukup membuka mata mereka ketika berkunjung ke negeri Gajah Putih tersebut.

Kesenangan yang begitu berarti adalah ketika merasakan persaudaraan yang cukup tinggi antar kedua negara. Masyarakat di Thailand memiliki keramahan dan rasa toleransi yang baik terhadap warga negara lain.

Sikap santun dan murah senyum warga Thailand menjadikan mahasiswa Indonesia merasa seperti di negara sendiri. Aksara Thailand yang unik serta simbol negara yang menyerupai burung Garuda, merupakan jejak-jejak budaya Sansekerta yang juga ditemui di Indonesia.

Nenek moyang yang sama membuat sisa-sisa budaya berkembang dengan jalannya masing-masing. Rasa makanan yang cenderung pedas, asam, gurih dan bersantan menjadi kelegaan bagi mahasiswa Indonesia, karena lidah mereka termanjakan oleh rasa yang cocok dan tidak jauh berbeda dari kuliner Indonesia.

Sebagai negara dengan kekayaan laut, Thailand memiliki menu seafood yang segar dan keragaman buah-buahan yang disajikan dalam berbagai menu penutup yang asam dan segar. Beberapa warga Thailand memiliki fisik yang hampir sama seperti Indonesia.

Cultural shock juga menjadi sensasi kenikmatan yang membuka mata, hati dan pikiran ketika seseorang berkunjung ke negara lain. Cultural shock ini biasanya terjadi pada perbedaan lungkungan dan budaya setempat sehingga berbenturan dengan keinginan seseorang.

Di antaranya adalah sulitnya memahami bahasa Thailand atau bahasa Inggris yang diucapkan oleh masyarakat Thailand karena latar belakang pengucapan yang berbeda.

Bahasa Thailand merupakan salah satu bahasa tersulit di dunia, namun siapa sangka jika banyak para penjual suvenir di Bangkok justru fasih berbahasa Indonesia karena mudah untuk dipelajari.

Hal menantang lain adalah mencari makanan halal di negeri seribu pagoda tersebut. Di sana mayoritas penduduk memeluk agama Buddha dan babi merupakan makanan yang diperbolehkan.

Makanan yang halal tanpa mengandung babi jarang ditemukan di Thailand, namun dapat ditemui beberapa produk yang berlabelkan halal sebagai upaya pemerintah mendukung keberadaan umat muslim di Thailand.

Ini menjadi tantangan khusus bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Thailand. Untuk bertahan hidup, mahasiswa muslim cenderung memasak sendiri. Umat muslim di negara ini diterima dengan baik dengan segala sudut toleransinya, karena beberapa warga Thailand beragama Islam dan turut berperan dalam perkembangan bangsa.

Hal menantang lainnya adalah mencari tempat ibadah orang muslim atau masjid. Bukan hanya di Thailand, di sebagian besar negara di mana muslim menjadi minoritas, masjid atau musala tidak menjamur seperti di Indonesia.

Terkadang warga negara Indonesia harus menempuh puluhan kilometer untuk mencapai masjid terdekat. Meskipun demikian, keteguhan untuk beribadah menjadikan umat muslim mampu menunaikan kewajibannya bagaimanapun kondisinya.

Sebagai orang yang pernah mengunjungi beberapa negara muslim menjadi minoritas, penulis memiliki pengalaman menjalankan ibadah salat lima di berbagai tempat yang tidak biasa karena sulitnya akses untuk ke ruang ibadah.

Dibiarkan dalam melakukan ibadah, merupakan kenikmatan toleransi yang sangat berarti ketika menjadi minoritas di negeri orang. Hal ini tentu menjadi penambah nikmat rasa syukur ketika seseorang berada di tanah airnya sendiri, merasakan kemerdekaan dalam melakukan aktivitas sehari-hari atau beribadah.

Banyak orang yang sering mengeluh kondisi di negara sendiri, namun ketika mereka pergi jauh dari negerinya mereka justru akan menemukan jati dirinya, siapa mereka sebenarnya dan di mana tempat paling nyaman untuk kembali.

Melalui kegiatan pertukaran pelajar yang berlangsung selama hampir dua pekan tersebut, mahasiswa dapat belajar tentang keragaman budaya, sosial, agama, sehingga mereka dapat merasakan bagaimana toleransi yang sebenarnya. (*) 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia