alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Mengenal Komunitas Pecinta Bilah Pisau Tertua di Indonesia

Indonesian Blades Chapter Soloraya

22 Februari 2020, 11: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Anggota rutin Indonesian Blades Chapter Soloraya gelar pertemuan bahas seluk beluk pisau.

Anggota rutin Indonesian Blades Chapter Soloraya gelar pertemuan bahas seluk beluk pisau. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

Bagi orang awam, pisau tak lebih sebagai alat potong. Tapi bagi anggota Indonesian Blades (IB) Chapter Soloraya, sebilah pisau menjadi barang istimewa. Memiliki keindahan tersendiri.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo,  

BUKAN hanya indah. Bagi para pecinta pisau, senjata tajam tersebut punya soul. “Soul ini terbentuk mulai dari jenis bahan, metode pembuatan, serta peruntukannya,” ujar Ketua IB Chapter Soloraya Wartono kepada Jawa Pos Radar Solo, belum lama ini.

Knive is a tool. Pisau adalah alat. Termasuk senjata tajam. Wartono sepakat dengan hal tersebut. Sebab itu, perlu ada edukasi seputar penggunaan pisau agar tidak berbenturan dengan Undang-Undang Kedaruratan.

Ada beberapa attitude atau etika dalam membawa bilah pisau. “Pembawaan pisau atau bilah harus dalam keadaan tertutup sarung pisau dan terbungkus rapat. Serta disimpan dengan tidak mencolok. Seperti di dalam tas dengan keadaan tertutup. Kami membekali member dengan wawasan tersebut," jelasnya.

Kepemilikan senjata tajam harus mendapat izin. Sementara izin tidak bisa didapatkan oleh masyarakat sipil pada umumnya. Untuk itu, dalam tiap kegiatan yang terkait dengan event pisau, Wartono biasa meminta surat jalan ke pihak kepolisian terdekat sesuai area atau wilayah hukum masing-masing member. 

"Member tidak ada kewajiban memiliki pisau. Tapi bisa dipastikan mereka semua memiliki pisau. Karena sebelumnya sudah ada kecintaan terhadap bilah,” sambungnya.

Wartono juga tak menampik stigma orang yang memiliki ketertarikan terhadap pisau dianggap tak wajar. Label sebagai orang yang tidak baik sedikit banyak masih melekat. Pandangan miring tersebut ditepis komunitas pencinta pisau dengan melakukan beragam kegiatan positif. 

“Kami menggandeng pandai besi lokal untuk memberikan wawasan baru soal custom pisau. Sementara ke masyarakat luas, kami mengedukasi dengan cara menggunakan pisau dengan tepat. Menegaskan bahwa pisau adalah alat bantu. Member kami bukan orang jahat. Itu bisa kami buktikan dari sikap atau attitude kami di masyarakat,” bebernya.

Member IB, imbuh Wartono, berasal dari beragam kalangan. Ada aparatur sipil negara (ASN), penegak hukum, pegawai pemerintah di bidang kesehatan, anggota search and rescue (SAR), dan elemen lainnya. 

Tidak semua penggemar pisau adalah seorang kolektor. Sebab, pisau bisa menjadi media bisnis. “Pangsa pasar di Indonesia sangat besar. Ada anggota yang sudah mengekspor hasil karya pisaunya ke luar negeri. Prospek bisnis di bidang penjualan pisau sangat menjanjikan. Mulai dari pembuatan bilah, sarung, handle, dan lain sebagainya," papar dia.

Humas IB Chapter Soloraya Abdul Rochim menyebut ada member yang mengenal pisau lewat dunia relawan. Pisau yang digunakan diperuntukkan untuk kegiatan lapangan. 

“Ada juga yang aktif di kegiatan sosial bermasyarakat. Seperti jadi panitia Idul Kurban. Jadi masyarakat sekitar ada yang tahu seputar pisau dan mengenal pisau dari situ,” ujar dia.

Setelah mengenal dan tertarik dengan sebilah pisau, para member mulai berburu pisau lama atau kuno dengan standar yang digunakan oleh militer. Kegiatan perburuan ini menurut Abdul dan member lainnya sangat menyenangkan.

“Pisau yang dicari adalah pisau buatan Teddy Kardin yang digunakan untuk tentara US Special Force. Ada yang berburu dengan cara lelang terbuka. Ada yang sampai keluar negeri juga," sambungnya.

Saat ini, tercatat ada 35 member IB Chapter Soloraya yang teregistrasi. Mereka rutin mengadakan kopi darat tiap weekend, sekali sampai dua kali dalam sebulan. 

Kegiatan lainnya, lanjut Abdul, member juga latihan pembinaan atlet kompetisi pisau, bakti sosial, dan edukasi pembuatan pisau. “Kami memberikan edukasi terhadap anggota dengan konsep yang jelas dan secara terstruktur dengan dasar ilmu metalurgi yang sesuai dengan disiplin ilmu," ucap dia.

Selama ini, IB dikenal sebagai komunitas pecinta bilah pisau tertua di Indonesia dan sudah diakui di kalangan internasional. Abdul mengatakan IB pernah menjadi tuan rumah Asean Cutting Competition 2018 di Jakarta. (*/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia