alexametrics
Kamis, 09 Apr 2020
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

PKS Gerilya untuk Lawan Yuni-Suroto, Gerindra Masih Adem Ayem

22 Februari 2020, 08: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Pasangan Bupati-Wabup Sragen Yuni-Dedy akan berpisah saat Pilkada 2020.

Pasangan Bupati-Wabup Sragen Yuni-Dedy akan berpisah saat Pilkada 2020. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Partai pengusung Kusdinar Untung Yuni Sukowati – Dedy Endriyatno pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2015, beda sikap menanggapi pecah kongsi pasangan ini pada pilkada kali ini. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sragen siap menggalang koalisi untuk melawan Yuni-Suroto yang diusung PDIP, sementara Partai Gerindra masih menunggu konstelasi politik di Sragen. 

Ketua DPD PKS Sragen Idris Burhanudin menyesalkan berpisahnya duet Yuni-Dedy pada pilkada mendatang. PKS pun berani mengambil sikap dengan membangun koalisi bersama partai lain. Komunikasi dan koalisi itu digalang agar bisa menjadi kekuatan penyeimbang terhadap pasangan Yuni-Suroto yang diusung PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). ”Kami sebenarnya berharap guyub rukun bisa sampai dua periode,” kata Idris.

Kader PKS siap mengusung Dedy dalam pilkada mendatang. PKS akan menggalang konsolidasi dan menjalin komunikasi dengan parpol lain. Sebab, untuk mengusung calon sendiri tidak bisa karena hanya memiliki enam kursi. Setidaknya masih butuh minimal tiga kursi lagi untuk mengusung calon.

”Kami akan membangun komunikasi dengan parpol lain. Ini supaya demokrasi di Sragen bisa berjalan dengan baik. Perlu ada kekuatan penyeimbang dan kami akan menggalang poros baru di Sragen,” ujar Idris yang mengaku sudah menjalin komunikasi dengan parpol lain, seperti Nasdem, Partai Gerindra, Partai Golkar dan PAN. 

Berbeda dengan sikap Partai Gerindra yang cenderung adem ayem. Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Sriyanto Saputro cenderug menunggu untuk konstalasi politik di Pilkada Sragen. ”Kami menghormati keputusan dari PDIP, dan opsinya juga dua kemungkinan. Mungkin membangun poros, mungkin juga bergabung,” bebernya.

Pihaknya juga tidak mempermasalahkan perjalanan Yuni yang pernah menang bersama Gerindra, namun meninggalkan partai ini saat dipercaya sebagai ketua dewan pembina DPC Gerindra. ”Dalam politik kita tidak boleh baper (terbawa perasaan). Apalagi Gerindra sudah terbiasa dan kebal dikhianati, kita positif thinking,” ujar dia.

Dia menyampaikan, dinamika politik tidak masalah jika harus bergabung dengan PDIP dan PKB. Namun jika ada rivalitas ini akan lebih baik agar tidak melawan kotak kosong. Pihaknya sama seperti yang dilakukan  partai lain, yakni membangun komunikasi politik. ”Di level DPC, kami sudah komunikasi dengan PKS, Golkar, termasuk dengan PDIP,” bebernya.

Sriyanto secara pribadi ingin bertarung melawan pasangan Yuni-Suroto agar rakyat punya pilihan pemimpin. Namun semua dikembalikan pada putusan partai. (din/bun)

    

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia