alexametrics
Kamis, 02 Apr 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Persemian Gedung Baru SMP N 5 Surakarta, Tanamkan Literasi Religi

24 Februari 2020, 17: 12: 54 WIB | editor : Perdana

Persemian Gedung Baru SMP N 5 Surakarta, Tanamkan Literasi Religi

Keluarga besar SMPN 5 Surakarta resmi menempati gedung baru di Jalan Ring Road, Mojosongo, Jebres, Jumat (21/2). Ditandai peresmian oleh Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Mendidik siswanya, Spelita (julukan SMPN 5 Surakarta) menanamkan nilai-nilai Pancasila dan religi.

PERESMIAN gedung baru Spelita ditandai penandatangan prasasti dan pemotongan tumpeng oleh wali kota Rudy (sapaan F.X. Hadi Rudyatmo). Didampingi Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo dan Kapolresta Surakarta Kombes Pol Andy Rifai. Diteruskan pemotongan pita sebagai simbolis. Dalam sambutannya, Rudy berpesan agar seluruh siswa agar selalu menanamkan nilai-nilai Pancasila di setiap kegiatan.

Memeriahkan peresmian, digelar pentas seni dan literasi membaca koran Jawa Pos Radar Solo. Kepala SMP Negeri 5 Surakarta Joko Setyo Budi Wibowo menjelaskan, peresmian gedung baru ini bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat di Mojosongo. Khususnya di jenjang SMP. 

Dia berharap peresmian gedung baru ini akan menambah motivasi dan semangat siswa dalam belajar. “Harapannya bisa jadi sekolah yang diidamkan. Menjadi sekolah favorit masyarakat Mojosong. Fasilitas dan tingkat literasi di sekolah sudah cukup memadai untuk mengembangkan potensi siswa. Sebagai pemantik gerakan literasi, ratusan siswa diajak bersama-sama membaca Jawa Pos Radar Solo,” ucapnya di sela peresmian.

Menurutnya, Spelita fokus menanamkan budaya literasi yang bersifat religi. Salah satunya membaca kitab suci. Menurut Joko, merevolusi mental generasi muda harus dimulai dari pembentukan karakter religi terlebih dahulu. Langkah ini terbukti ampuh dalam mengembangkan potensi dan keterampilan siswa.

Selain itu, Spelita juga memiliki ekstrakurikuler (ekskul) unggulan penunjang budaya literasi. Yakni wayang kulit. Sudah dikembangkan sejak 1987. Hingga saat ini, ekskul tersebut masih menjadi primadona.

“Setiap malam satu Suro, dulu saat masih di kawasan Mangkunegaran, digelar wayangan semalam suntuk. Dalangnya dari guru sendiri. Akhir tahun lalu, sudah ada siswa yang berani ndalang. Kami berharap pelestarian kebudayaan ini tidak berhenti,” imbuhnya. (mg4/aya/fer)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia