alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Kasus Siswa Di-DO karena Isap Vape, Kepala SMP Kalam Kudus Dipolisikan

25 Februari 2020, 06: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Zainal Arifin, kuasa hukum orangtua Y menunjukkan surat keterangan pindah sekolah.

Zainal Arifin, kuasa hukum orangtua Y menunjukkan surat keterangan pindah sekolah. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Kasus siswa SMP Kristen Kalam Kudus bernisial Y yang dikeluarkan dari sekolah lantaran menghisap vape atau rokok elektrik, beberapa waktu lalu, berbuntut panjang. Orang tua Y, Wong Soie Mie dan Oie Lie Lie melaporkan kepala sekolah Felixtian Teknowijoyo, atas dugaan pembuatan surat palsu.

Kuasa hukum orang tua Y, Zainal Arifin mengatakan, sebenarnya surat palsu itu ditemukan saat dilakukan mediasi agar siswa tersebut bisa kembali sekolah dua pekan silam. “Jadi waktu itu, yang datang (mediasi) perwakilan dari orang tua, yaitu adik dari ibunya,” ucapnya.

Saat mediasi itu, pihak sekolah menunjukkan surat pernyataan. Isinya orang tua memohon kepada sekolah agar anak mereka dipindahkan dari sekolah tersebut ke sekolah lain. “Pernyataan tersebut dikatakan kepala sekolah ditulis oleh klien kami dan ditandatangani oleh klien kami. Surat itu yang mendasari Y dikeluarkan dari sekolah,” urai Zainal.

Namun, setelah surat tersebut diserahkan, orang tua Y kaget karena tidak pernah membuat surat pernyataan tersebut. “Saya juga mencocokkan tulisan tangan maupun tanda tangan klien kami, namun sama sekali tidak mirip. Kami curiga, kepala sekolah membuat surat palsu dalam kejadian ini,” ujarnya.

Ditambahkan Zainal, laporan tersebut dibuat pekan lalu. Empat orang sudah diminta keterangan sebagai sanksi. Yakni, Y beserta dua orang tuanya dan seorang lain sudah dimintai keterangan oleh kepolisian “Ya intinya terkait kronologis kasus, sampai soal surat tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KPAI Solo Raya Heroe Istiyanto mengatakan, sudah empat kali pihaknya melakukan mediasi dengan pihak sekolah, baik secara mandiri maupun didampingi yayasan dan Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Namun hasilnya selalu kandas. Pihak sekolah bersikukuh Y tidak dapat bersekolah lagi di SMP itu.

“Padahal Y hanya mau bersekolah di sana. Saat ini dia tidak bersekolah lagi. Ini yang kami sayangkan. Untuk itu, kami akan membuat surat kepada presiden, gubernur, wali kota terkait fenomena ini. Karena Y harus tetap bisa bersekolah," pungkasnya. 

Senin (24/2) kemarin, Kepala SMP Kristen Kalam Kudus diperiksa di Satreskrim Polresta Surakarta selam dua jam. Dia didampingi Heru Prasetyo, kuasa hukumnya. 

Ditemui usai pemeriksaan, Felixtian enggan berkomentar. Sementara itu, Heru menuturkan kliennya masih membuka diri agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. “Kami upayakan perdamaian secara kekeluargaan  itu lebih baik,” ucapnya.

Ditanya perihal pemeriksaan, Heru mengatakan, polisi hanya menanyakan beberapa pertanyaan kaitannya soal Y kenapa bisa dikeluarkan dari sekolah. Dia tidak menampik, polisi juga mempertanyakan perihal surat keterangan yang diduga palsu. 

“Kalau dari keterangan klien kami, surat itu yang membuat dan yang menandatangani (surat keterangan) ya ibunya (Oie Lie Lie) itu, bukan Pak Felix. Waktu dibuat di sekolah. Asli tidaknya harus diuji di labfor. Ya ini diuji saja belum. Nanti tunggu saja hasilnya seperti apa,” papar Heru

Seperti diketahui, Y sendiri dikeluarkan sejak Oktober tahun lalu. Alasannya karena Y kedapatan menghisap vape di luar lingkungan sekolah. Akibatnya remaja asal Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon ini sudah tidak lagi mengenyam pendidikan sejak empat bulan terakhir.

Y ketahuan menghisap vape setelah divideo oleh salah satu rekannya sehingga viral dan sampai ke pihak sekolah. Sekolah lantas i mengeluarkan Y karena sesuai aturan, siswa sekolah swasta tersebut dilarang keras untuk menghisap rokok, baik di lingkungan sekolah maupun di luar. Menurut sekolah, menghisap rokok termasuk kategori pelanggaran D atau sangat berat. Dalihnya, apabila siswa mau menghisab rokok, otomatis dia bakal mau bila dihasut untuk mencicipi narkotika, hingga berbuat kriminalitas lainnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia