alexametrics
Sabtu, 04 Apr 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

Jateng Batasi Keluar Masuk Hewan Ternak, Waspadai Penyakit Menular

26 Februari 2020, 19: 16: 04 WIB | editor : Perdana

Pemeriksaan rutin ternak sapi di Pasar Hewan  Ampel, Boyolali, beberapa waktu lalu.

Pemeriksaan rutin ternak sapi di Pasar Hewan  Ampel, Boyolali, beberapa waktu lalu. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SEMARANG - Kementerian Pertanian telah menetapkan 25 penyakit priorota yang termasuk dalam penyakit hewan menular strategis (PHMS). Dari daftar prioritas itu, terdapat lima jenis penyakit yang menajdi perhatian khusus. Yakni, rabies, anthrak, brucellosis, avian influenza (flu burung) dan hog cholera.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan segera mengambil langkah cepat sebagai respons atas penetapan oleh kementan tersebut. Yakni dengan membatasi keluar masuknya hewan ternak dari daerah endemik penyakit, yang dapat menular dan membahayakan nyawa manusia (zoonosis).

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng Lalu Muhamad Syafriadi mengatakan, PHMS itu menyebar dengan sangat cepat. Serta menyebabkan kematian yang juga cepat pada hewan. Dampaknya tentu menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi bagi para peternak dan pelaku usaha terkait.

"Penyakit ini (PHMS, Red) menjadi prioritas pencegahan dan pemberantasannya di Jateng. Sehingga, kita batasi keluar masuknya hewan di Jateng. Kita tingkatkan biosekuriti di pos lalu lintas ternak yang ada di perbatasan Jateng," kata Lalu, Rabu (26/2).

Tak hanya hewan ternak, dinas juga menolak masuknya produk hewan dan turunannya dari daerah endemik, seperti daging segar maupun olahan. Deteksi dini, pelaporan dini, dan tindakan dini juga dimaksimalkan. Kemudian, di internal, rumah-rumah pemotongan hewan maupun peternakan dilakukan pemantauan dan pemberian tambahan vaksinasi.

Lalu menerangkan, baru-baru ini juga sedang mewabah di dunia beberapa penyakit yang bersumber dari hewan. Seperti penyakit African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

Penyakit ini sudah masuk ke Indonesia, terutama di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Penyakit ASF ini memang tak menular ke manusia. Namun, dapat menyebabkan kematian pada ternak sampai 100 persen.

Hingga saat ini belum ada vaksin maupun obat khusus untuk ASF. Sehingga penularan penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi. Menurut Lalu, mewabahnya zoonosis ini ditengarai sebagai dampak adanya degradasi ekosistem, pemanasan global, dan urbanisasi penduduk yang progresif.

"Pemicu utama wabah zoonosis adalah munculnya pertumbuhan yang cepat dari populasi manusia dan satwa. Semakin mendekatnya kontak hewan domestik dengan satwa liar dan produk-produknya juga menyebabkan insiden zoonosis meningkat," jelas Lalu.

Selain itu, dengan pola hidup manusia yang tidak ramah lingkungan akan mempercepat terjadinya wabah zoonosis di daerah tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan, wabah zoonosis dapat berpotensi menyebar dan meluas antarnegara dan antarkawasan regional yang disebut pandemi.

Tentu pandemik zoonosis ini diharapkan tidak akan sampai terjadi. Sebab, kejadian ini akan berdampak besar bagi masyarakat.

"Jika sampai ada pandemik zoonosis, salah satunya akan terjadi berbagai kelumpuhan pelayanan publik yang dapat merugikan masyarakat dan dunia usaha," papar Lalu.

Uapaya paling efektif untuk mereduksi dampak wabah zoonosis adalah pencegahan dan pengendalian secara lintas sektor yang terkoordinasi. Hal ini juga harus didukung dengan komitmen semua pihak. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia