alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Lifestyle
icon featured
Lifestyle

Srihadi dalam Man x Universe, Pamerkan 44 Karya Lukis Sepanjang Masa

02 Maret 2020, 12: 35: 03 WIB | editor : Perdana

Salah satu karya Srihadi Soedarsono Jakarta Megapolitan- Patung Pembebasan Banjir yang akan dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia.

Salah satu karya Srihadi Soedarsono Jakarta Megapolitan- Patung Pembebasan Banjir yang akan dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia.

Share this      

JAKARTA – Lukisan-lukisan bentang alam (landscape) karya maestro lukis Prof Kanjeng Pangeran Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo akan dipamerkan dalam pameran tunggal “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta mulai Rabu-Kamis (11/3-9/4). Pameran rencananya dibuka Menteri BUMN Erick Thohir.

Seluruhnya ada 44 lukisan yang dipamerkan. Terdiri dari 38 lukisan baru, sisanya merupakan koleksi pribadi. Seluruh karya, kecuali sketsa Borobudur (1948), menggunakan media cat minyak pada kanvas.

Karya-karya tersebut, antara lain Horizon – The Golden Harvest (2018), Borobudur Drawing (1948), Borobudur – The Energy of Nature (2017), Mt. Bromo – The Mystical Earth (2017), Papua – The Energy of Golden River (2017). Kemudian, The Mystical Borobudur (2019) dan Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir (2020).

Sketsa Borobudur dibuat saat usia Srihadi baru 17 tahun. Namun, di usia belia itu, dia sudah menunjukkan intuisi dan ketertarikan terhadap nilai-nilai alam, manusia, dan budaya. Dia menggambarkan candi Borobudur dengan pendekatan landscape melalui garis-garis ekspresif.

Sketsa ini sengaja ditampilkan bersama karya-karya mutakhirnya sebagai penanda bahwa sketsa Borobudurlah cikal bakal Srihadi membuat lukisan-lukisan landscape di kemudian hari.

“Srihadi Soedarsono— Man x Universe” menginterpretasikan keindahan landscape Indonesia sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa. Sebab, landscape dalam perspektif Srihadi adalah tema yang lebih dalam dari sekadar lukisan pemandangan yang menghipnotis orang lain untuk datang berkunjung.

Di balik estetika suatu karya, ada pergumulan sosial, budaya, bahkan politik. Dan inilah yang sedang dikedepankan dalam “Srihadi Soedarsono— Man x Universe”.

“Universe itu catatan tentang ingatan-ingatan, layaknya seseorang yang mengingat memorinya sebelum menulis. Ini cara saya mencatat perjalanan dari kanak-kanak sampai sekarang usia 88 tahun. Bagaimana sawah yang dahulu begitu luas sekarang tidak ada lagi yang seluas itu,” ujar Srihadi Soedarsono.

Kurator pameran ini, Dr A. Rikrik Kusmara mengelompokkan 44 karya Srihadi dalam empat rumpun besar. Yakni, social critics, memuat Papua Series, Bandung Series, dan Field of Salt; dynamic, memuat Jatiluwih Series dan Energy of Waves. Kemudian, human & nature, memuat Mountain Series, Tanah Lot Series, dan Gunung Kawi Series. Terakhir, contemplation, memuat Horizon Series dan Borobudur Series.

A. Rikrik Kusmara mengatakan, pameran “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” adalah pendekatan baru Srihadi dalam mengekspresikan landscape. Sebab menampilkan metafor dan simbol yang cukup kompleks. Proses artistik tersebut tak lepas dari kondisi sosial politik Indonesia yang tensinya naik sepanjang 2016–2019. Tahun-tahun Srihadi menghasilkan karya untuk pameran ini.

“Melalui pameran ini, pengetahuan masyarakat luas terhadap karya maestro Indonesia, khususnya Srihadi Soedarsono yang hingga saat ini masih aktif berkarya, akan bertambah,” kata Selamet Susanto, perwakilan panitia penyelenggara pameran.

Bersamaan dengan pembukaan pameran, akan diluncurkan buku berjudul “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” yang membedah hubungan spiritual manusia, berikut siklus hidupnya, dengan alam semesta. Buku ini ditulis oleh Siti Farida Srihadi bersama budayawan Dr Jean Couteau.

Jean Couteau menulis buku “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” dengan tantangan terbesar menerjemahkan kompleksitas simbolisme Srihadi yang tampil sederhana.

“Yang menantang juga adalah agar berhasil memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang diangkat dalam karya-karya Srihadi, kendati bersifat Jawa, adalah juga nilai universal. Dia menyelimuti pesan Jawanya dalam bentuk modern,” ujar Jean Couteau.

Pameran tunggal Srihadi Soedarsono tahun ini merupakan hasil kerja sama antara Srihadi Studio dan Sugar Group Companies untuk kali ketiga selama satu dekade terakhir. Yakni “Retrospective 80th Anniversary Exhibition” pada 2012, “Srihadi Soedarsono – 70 Years Journey of Roso” pada 2016, dan “Srihadi Soedarsono— Man x Universe” di 2020 ini. (*/yun/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia