alexametrics
Rabu, 03 Jun 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

1 Pasien Suspect Korona RSUD dr Moewardi Meninggal, Tak Ada Riwayat LN

12 Maret 2020, 22: 11: 14 WIB | editor : Perdana

Simulasi penanganan pasien korona di RSUD dr Moewardi Solo, beberapa waktu lalu.

Simulasi penanganan pasien korona di RSUD dr Moewardi Solo, beberapa waktu lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SEMARANG - Satu pasien dalam pengawasan atau suspect korona meninggal di RSUD dr Moewardi Solo. Diketahui penyenab kematiannya adalah karena gagal nafas akibat penumonia. 

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan, dengan demikian di Jateng ada dua pasien  dalam pengawasan yang meninggal dunia. "Sebelumnya di RSUP dr Kariadi dan ini di Moewardi," ujarnya, Kamis (12/3) pukul 18.55. 

Lebih lanjut dikatakan Yulianto, pasien masuk RSUD dr Moewardi pada Minggu (8/3) dan meninggal pada Rabu (11/3) pukul 13.00. 

Saat ini, pemerintah sedang menunggu hasil lab yang dikirim ke Jakarta. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, pemerintah telah melakukan penyelidikan terkait siapa saja yang pernah kontak dengan pasien. 

Dokter spesialis paru di RSUD dr Moewardi Harsini mengatakan, pasien yang meninggal tersebut tidak punya riwayat ke luar negeri. Pasien juga tidak ada riwayat kontak dengan warga negara asing (WNA). 

"Terakhir mengikuti seminar di satu kota. Usianya 59 tahun, laki-laki. Dan kebetulan pasien ada penyakit penyertanya, gula," terang Harsisni. 

"Sesuai protap, kami telah mengambil sampel untuk dikirim ke litbangkes. Sedang kami tunggu hasilnya," tambahnya. 

Sejauh ini, dari 39 pasien yang dirawat dengan pengawasan di Jawa Tengah, 35 orang di antaranya telah dinyatakan negatif dan pulang dalam keadaan sehat. Kini, ada dua pasien dalam pengawasan yang masih dirawat di RSUP dr Kariadi dan RSUD dr Moewardi. 

Meski demikian, pemerintah provinsi terus meningkatkan pengawasan dan memantapkan kesiapan. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo terus berkeliling melakukan pengecekan guna memastikan kesiapan rumah sakit dalam menangani kasus. Ada 13 rumah sakit yang disiapkan. Satu di antaranya RSUD Tugurejo Semarang yang disambangi gubernur, Kamis (12/3) pagi.

Selain memastikan ketersediaan ruang isolasi dan tenaga medis yang memenuhi standar sebagai rumah sakit rujukan, gubernur juga memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi perawat. Simulasi juga sudah dilakukan untuk kesiapan.

"Sudah kami cari di mana pabriknya (APD, Red) agar ketersediaan sarana penunjang itu aman di Jateng. BPBD juga kami siagakan untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

Hingga saat ini, di Jawa Tengah tidak ditemukan pasien yang positif terjangkit virus korona. Beberapa pasien suspect yang sebelumnya dirawat, dinyatakan negatif dan sudah kembali ke rumah mereka. 

"Kadinkes saya setiap hari melaporkan perkembangannya. Pasien yang sebelumnya dirawat di RSUP dr Kariadi, sekarang sudah pada pulang. Hari ini dilaporkan ada satu pasien yang masuk karena batuk pilek," kata Ganjar. 

Gubernur meminta masyarakat Jawa Tengah tetap tenang dan terus menjaga kesehatan dengan olahraga, istirahat teratur serta makan makanan bergizi. "Jangan lupa sering cuci tangan. Kultur di Indonesia sangat sulit kalau tidak berjabat tangan. Ya ndak papa, tapi harus rajin cuci tangan menggunakan sabun untuk melindungi diri. Jangan sampai relasi antarmanusia menjadi hilang karena virus korona ini," terangnya. (sga/JPG/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia