alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Arsip Warga Merapi Didigitalisasi, Rawan Rusak Terdampak Awan Panas

13 Maret 2020, 07: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Sejumlah arsiparis saat mengalihmediakan dokumen penting milik warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang.

Sejumlah arsiparis saat mengalihmediakan dokumen penting milik warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. (DINAS ARSIPUS KLATEN FOR RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arsipus) Kabupaten Klaten kembali menggulirkan program titip bandaku dengan menerjunkan arsiparis di lereng Merapi. Kali ini menyisir arsip milik warga yang bertempat tinggal di wilayah rawan bencana Dusun Gondang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Jarak dusun ini hanya sekitar 5 Km dari puncak Gunung Merapi.

Terdapat sekitar 100 arsip vital milik warga yang diikutsertakan dalam program titip bandaku tersebut. Mulai sertifikat, akta nikah, kartu keluarga (KK), KTP, akta kelahiran hingga ijazah yang berhasil dialihmediakan menjadi arsip digital. Tampak warga begitu antusias membawa berkas berharga mereka di dalam map.

Salah seorang warga Desa Balerante Susanti, 27, mengaku, saat erupsi Gunung Merapi, 2010 silam beberapa dokumen milik mertuanya nyaris musnah lantaran adanya awan panas.

“Waktu erupsi memang panik sehingga yang terpenting nyawa selamat. Tidak terpikir harus mengemas dokumen penting. Sertifikat milik mertua ada yang rusak karena kondisi kertasnya yang nyaris terpisah,” jelas Susanti, Rabu (11/3).

Dia mengapresiasi program titip bandaku karena sangat membantu warga dalam menyelamatkan dokumen penting keluarga. Apalagi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi Gunung Merapi dengan luncuran awan panasnya. Kemarin, Susanti membawa 10 berkas asli yang telah dialihmediakan, seperti sertifikat, ijazah hingga surat nikah.

Apresiasi juga datang dari Kaur Perencanaan Pemdes Balerante Jainu. Program tersebut ikut membantu menyelamatkan dokumen penting warga lereng Merapi jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan akibat luncuran awan panas.

“Karena jaraknya yang hanya 5 Km dari puncak Merapi, maka ancaman erupsi itu pernah merusak rumah dan ternak warga. Dulu saat erupsi 2010, terdapat 98 rumah warga yang rusak dan 300 sapi milik warga mati. Belum lagi dokumennya,” jelas dia.

Sementara itu, Kabid Arsip, Dinas Arsip dan Perpustakan Klaten Rinto Patmono mengatakan, arsiparis Klaten sudah tiga kali melakukan jemput bola melalui program titip bandaku. Sudah ada 200 keluarga yang mengikuti program tersebut.

”Yang pasti dengan mengikuti program ini arsip warga sudah ada versi digitalnya. Warga cukup membawa surat pengantar kepala desa untuk memperoleh arsip digital miliknya yang sudah autentikasi,” pungkas Rinto. (ren/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia