alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Mereka Yang Waswas Mudik ke Solo Pasca Penetapan KLB Korona

16 Maret 2020, 12: 40: 02 WIB | editor : Perdana

WASWAS: Srianstar Desty Putri dan suami Shandy Nandya Rizkiawan. Foto kanan, Theresia Nugraheni dan suami Efrat Adinugroho.

WASWAS: Srianstar Desty Putri dan suami Shandy Nandya Rizkiawan. Foto kanan, Theresia Nugraheni dan suami Efrat Adinugroho.

Share this      

Sejumlah warga Kota Bengawan yang saat ini berada di luar kota sengaja menunda rencana pulang kampung setelah penetapan kejadian luar biasa (KLB) korona Kamis lalu (12/3). Bagaimana ceritanya?

SILVESTER KURNIAWAN, Radar Solo

THERESIA Nugraheni, 27 dan Suaminya, Efrat Adinugroho, 33, terpaksa harus menahan dulu rasa kagennya mudik ke kota kelahirannya. Sebenarnya sudah jauh hari keluarga Efrat ini akan mudik ke Kota Bengawan. Namun, rencana ini akhirnya buyar setelah Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo menetapkan KLB korona. Keluarga Efrat pun memutuskan menunda dulu. Alasannya demi menjaga keamanan keluarga.

“Sebenarnya rencana balik 27 Maret nanti. Tapi sepertinya kami tunda dulu. Toh acaranya juga batal karena ada pembatasan kegiatan di Solo,” kata dia melalui sambungan telepon, Minggu (15/3) siang.

Saat ini Nugraheni dan suami yang menetap di Kota Tangerang masih aman dari korona. Meski begitu mereka harus mengenakan berbagai alat pelindung diri saat datang le lokasi kerja di Jakarta Pusat.

“Kalau di Tangerang belum ada kasusnya, tapi di Jakpus sudah ada. Jadi kalau berangkat kerja biasanya pakai jaket, sarung tangan, dan masker serta bawa hand sanitizer biar lebih aman saja. Kalau soal batal balik ke Solo ya karena banyak baca di berita ditetapkan KLB itu. Jadi sementara di sini dulu,” ujarnya.

Meski demikian, dia juga khawatir dengan kondisi keluarga di Solo. Terlebih kedua orang tuanya dan satu adiknya paling kecil masih berdomisili di Solo. Karena tidak jadi berkunjung, sementara ini dia mengirimkan bantuan masker dan hand sanitizer ke rumah orang tuanya melalui paket.

“Saya sempat khawatir, tapi sepertinya pemkot lebih sigap daripada kota lain. Jadi lebih lega. Yang penting jaga kesehatan diri sendiri saja, serta kalau bisa tiap gedung atau fasilitas publik dilengkapi alat pengecekan suhu tubuh, tempat cuci, masker, dan hand sanitizer seperti yang sudah diterapkan di kota besar lainnya,” harapnya.

Hal serupa juga dirasakan Srianstar Desty Putri, 28, beserta suami, Shandy Nandya Rizkiawan, 27 yang juga menunda pulang ke Solo. Rencananya, pekan depan dia bersama suami bakal balik ke Solo untuk syukuran di empat bulan kehamilan. Wacana itu akhirnya ditunda sambil menunggu situasi Kota Solo ke depan membaik dulu. “Domisili saya di Surabaya setahun ini, tapi aslinya Solo. Makanya syukuran dan pengajian nanti saya pengin di Solo. Tapi karena kondisinya seperti ini kami tunda dulu,” jelas dia.

Dia tak mau acara yang dipaksakan itu justru membuat dia, keluarga, atau pun jamaah jadi rentan terserang virus korona.  Makanya kemungkinan besar syukuran dan pengajian baru akan dilakukan April mendatang. “Mending menunggu perkembangan dulu dari pemerintah. Sementara di rumah dulu (Surabaya),” kata dia.

Jalu Norva, 28, dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Jogjakarta ini juga batal balik ke Solo. Padahal tiap akhir pekan dia selalu balik untuk menengok keluarga di Solo, mengingat di kota pelajar dia juga masih kos di sekitar tempatnya mengajar. “Kebetulan mau balik itu malah dilarang sama ibu-bapak. Katanya di Jogja dulu saja, Solo lagi ramai korona kata ibu saya,” terang Jalu.

Larangan dari ibunya itulah akhirnya yang membuat dia mengurungkan niat balik ke kampung halaman di Solo. Dia mengaku angkat topi dengan gerak cepat wali kota karena berani mengambil sikap tegas. Meski ada pro kontra di balik status KLB itu dia melihat ada upaya penanganan dan antisipasi yang nyata dari pemerintah. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia