alexametrics
Rabu, 03 Jun 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Hand Sanitizer Sulit Dicari Pasca-KLB Korona, Guru Pilih Buat Mandiri

17 Maret 2020, 17: 19: 11 WIB | editor : Perdana

MENDESAK: Guru di SMK St Paulus Solo ini membuat hand sanitizer sendiri.

MENDESAK: Guru di SMK St Paulus Solo ini membuat hand sanitizer sendiri. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Sejak ditetapkan kejadian luar biasa (KLB) korona di Kota Bengawan, semua kegiatan belajar siswa di sekolah ditiadakan selama dua pekan. Mengisi kegiatan ini, para guru yang tetap masuk memanfaatkan waktu dengan membuat hand sanitizer yang kini mulai susah dicari.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

HARI pertama kegiatan belajar mengajar di sekolah di nonaktifkan, tidak membuat sejumlah tenaga pendidik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) St. Paulus Solo ini berleha-leha. Mereka tampak sibuk di laboratorium kimia di sekolah setempat. Belasan guru tersebut tampak kompak dengan tugasnya masing-masing.  

Mereka tampak sigap bekerja di divisi masing-masing, mulai dari bagian menakar kadar kemurnian alkohol hingga bertanggung jawab dalam pengemasan produk. “Hari ini (kemarin) kami memproduksi secara mandiri hand sanitizer. Semua guru terlibat, baik guru kejuruan maupun guru mata pelajaran lainnya,” ujar Kepala Sekolah SMK St Paulus Surakarta Ir Theodosia Rita Martanti di sela kegiatan pembuatan hand sanitizer, Senin (16/3).

Seuai arahannya, para tenaga pendidik ini tampak kompak dalam membuat pembersih tangan yang sejak ditetapkan KLB sangat sulit dicari di apotek-apotek. Di bagian produksi, guru kebagian meracik bahan-bahan seperti alkohol, tea tree oil dan gliserin untuk original atau ginger oil bagi penyuka  aroma jahe,” jelas dia.

Setelah proses pencampuran selesai, giliran para guru yang ada di divisi pengemasan yang bertugas. Ramuan hand sanitizer itu pun di-packing dalam wadah berukuran 50 mililiter. Setelah itu, botol-botol kecil tersebut kemudian dilabeli dengan stiker khusus berlogo merek dan informasi berupa kandungan apa saja yang ada dalam cairan pembersih tersebut. “Kalau sudah dicek terakhir. Nanti tinggal menunggu yang mau ambil saja,” jelas Rita.

Sebanyak 2.000 botol hand sanitizer ukuran 50 mililiter itu sudah ada pemiliknya. Jadi tidak bisa membeli dadakan. “Hari ini (kemarin) kami produksi dua ribu botol sesuai pesanan yang masuk dari Solo dan sekitarnya. Sebelumnya ada juga yang minta ukuran lebih besar seperti 500 mililiter, tapi sementara tidak kami layani dulu,” jelas dia.

Satu botol cairan antibakterial itu dibanderol dengan harga Rp 10 ribu. Harga ini merupakan harga normal dan cukup terjangkau bagi masyarakat. Mengingat cairan sejenis dengan takaran yang sama bisa tembus Rp 25 ribu di pasaran saat ini. “Saat ini hand sanitizer cukup langka. Jadi kami sengaja produksi dengan harga normal agar semua masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya. Istilahnya berbagi untuk sesama,” jelas dia.

Tidak hanya produksi sendiri. Sekolah ini juga terbuka berbagi ilmu. Seperti petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta yang datang belajar ke sekolah setempat. Rita dan tim kerjanya dengan senang hati memberikan seluruh pengetahuan yang mereka miliki. “Sekolah ini kan lembaga pendidikan. Bukan cuma untuk siswa saja, tapi juga untuk masyarakat. Jadi siapapun yang mau belajar kamu juga dengan senang hati akan mengajarkannya,” kata Rita.

Ke depan, produksi ini akan terus dilakukan selama ada permintaan dari masyarakat. Hal ini sejalan dengan unit produksi di sekolah. Praktik seperti itu juga sangat edukatif bagi para siswa didiknya. “Unit produksi di sini sudah ada sejak 1995. Namun tidak membuat hand sanitizer, melainkan pembuatan karbol, sampo mobil, sabun cuci piring dan lainnya. Baru saat korona muncul ini mulai produksi hand sanitizer. Bahkan sebelum libur masal juga sempat jadi praktikum para siswa,” tutur dia. (*/bun) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia