alexametrics
Selasa, 07 Jul 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

IDI Solo Bentuk Satgas Corona Virus, Dukung Keterbukaan Informasi

17 Maret 2020, 21: 58: 47 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi

Share this      

SOLO - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Surakarta membentuk satuan tugas (satgas) corona virus (Covid-19). Pembentukan tim khusus ini dilakukan sebagai langkah antisipatif penyebaran maupun membantu pemerintah dalam penanganan pasien korona di Kota Bengawan.

Ketua Satgas dr Wahyu Indianto menjelaskan, fungsi dan tugas tim khusus ini membantu koordinasi dan komunikasi antarsesama dokter yang tergabung dalam IDI. Yang akhirnya bisa sinergi dengan rencana pemerintah dalam penuntasan korona di Kota Bengawan. 

Jalur yang diambil salah satunya adalah edukasi ke masyarakat serta mengimbau semua dokter agar meningkatkan kewaspadaan dalam setiap praktek kedoteran dan pengawasan pasien. "Edukasi jelas, seperti mengenalkan etika batuk yang benar, cara cuci tangan yang benar, dan penyaluran informasi soal penanganan atau antisipasi korona. Kemudian koordinasi profesi soal menekankan agar para dokter meningkatkan kewaspadaan saat menangani pasien," jelas Wahyu, Selasa (17/3).

Salah satu yang bisa dilakukan, misalnya saat dokter mendapati pasien mengalami batuk, pilek, dan demam usai bertemu dengan orang terindikasi maupun daerah rawan, saat itulah para dokter wajib menyarankan untuk isolasi mandiri. Namun, soal isolasi mandiri, kata Wahyu, masyarakat juga perlu diberikan pemahaman lebih. 

Misalnya ada satu anggota yang disarankan isolasi, maka anggota keluarga lain sebaiknya menjaga jarak dan selalu mengutamakan kebersihan. Sedangkan pasien yang diisolasi mandiri sebaiknya selalu mengenakan masker sembari mengkonsumsi obat yang diberikan dokter dan terus konsumsi makanan sehat. 

”Tapi kalau di tengah masa pengobatan terjadi sesak nafas, maka harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk penenganan lanjutan," kata Wahyu.

Sementara itu, dari segi hubungan dengan pemerintah, satgas berfungsi untuk selaku aktif berkoordinasi dengan pemerintah, baik dalam penanganan maupun pencegahan. Khususnya untuk mendorong keterbukaan informasi kepada publik jika ada situasi yang lebih berbahaya. 

"Etika kedokteran memang menjaga kerahasiaan data pasien. Namun untuk kasus korona yang juga sudah seperti ini, keterbukaan informasi itu harus dimaknai untuk kebaikan yang lebih besar. Tujuannya jelas untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat," papar dia.

Ia pun berpesan agar masyarakat tidak menganggap enteng status KLB ini. Meski tidak perlu dibawa terlalu panik, ada baiknya masyarakat mengikuti semua anjuran pemerintah. 

"Pembatasan akses sosial ini bukan untuk menakut-nakuti. Hanya saja untuk menjaga diri sendiri dari bahaya korona. Kurangi pertemuan dengan banyak orang lain jika tidak benar-benar perlu, mari kita perangi korona bersama-sama," jelas Wahyu.

Ketua IDI Cabang Surakarta dr Adji Suwandono menambahkan, pembentukan satgas corona virus ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab para dokter yang ada di Kota Surakarta. Apalagi Solo telah ditetapkan dengan status KLB korona. 

"Februari lalu dalam rapat koordinasi IDI wilayah Jawa Tengah, ada imbauan soal antisipasi korona. Hanya saja, kala itu belum ada temuan kasus di Jawa Tengah. Setelah ada satu positif korona, kemudian perhatiannya ditingkatkan dari yang awalnya waspada jadi antisipatif. Paling tidak, satgas ini siaga sampai Mei 2020 sesuai usulan pusat," kata dia.

Disinggung soal status KLB korona yang ditetapkan pemerintah, pihaknya menilai langkah ini terbilang tepat dalam upaya antisipasi penyebarannya. Itu meski tak menutup kemungkinan akan ada kepanikan yang muncul setelah penetapan KLB. 

"Ini yang perlu ditegaskan. Paling tidak, bisa mengedukasi masyarakat dan mengcounter hoaks yang beredar bebas di masyarakat tentang hal-hal terkait korona di Kota Solo. Yang perlu diingat, status KLB bukan untuk menakuti masyarakat, tapi untuk meningkatkan kesadaran. Oleh sebab itu, imbauan yang sudah disampaikan pemerintah baiknya dilaksanakan. Misalnya imbauan belajar dirumah, ya jangan  malah untuk main," tegas Adji.

Bagaimana soal imbauan IDI pusat yang mendorong pemerintah dalam keterbukaan informasi terkait korona? Adji juga mendukung wacana tersebut. Menurut dia, keterbukaan informasi seperti ini bukan melanggar kode etik atau kerahasiaan medis, namun sangat baik untuk upaya contact tracking yang bisa diambil alih pemerintah. 

"Ini kondisinya kan darurat, dan sudah dinyatakan sebagai pandemik oleh dunia. Jadi membuka informasi dipandang sebagai upaya untuk kebaikan  yang lebih besar. Tapi tentunya kalau bisa juga atas persetujuan pasien," pungkas Adji. (ves/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia