alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Cerita Pekerja Migran Indonesia Sempat Stres Jelang Lockdown Malaysia

18 Maret 2020, 10: 00: 59 WIB | editor : Perdana

Hartini, pekerja migran Indonesia di Malaysia sekaligus ketua Persaudaraan Warga Wonogiri.

Hartini, pekerja migran Indonesia di Malaysia sekaligus ketua Persaudaraan Warga Wonogiri. (DOK PRIBADI)

Share this      

WONOGIRI – Mulai hari ini (18/3), pemerintah Malaysia memberlakukan lockdown sebagai upaya isolasi dari penularan virus korona (Covid-19). Kepada Jawa Pos Radar Solo, salah seorang pekerja migran Indonesia yang merantau di Malaysia menceritakan kondisi di Kuala Lumpur di hari-hari jelang lockdown. Dia pun sempat stres lantaran stok beras sempat habis.

Hartini, 45, seorang pekerja migran Indonesia di Malaysia sekaligus ketua Persaudaraan Warga Wonogiri (Perwari) yang berasal dari Lingkungan Pencil, Kelurahan Wuryorejo, Kecamatan Wonogiri. Saat ini dia bekerja di daerah Taman Sri Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia. Hartini mengatakan, sehari jelang pemberlakuan lockdown, kondisi di sekitar messnya sepi.

"Di sekitar mess lengang. Kebetulan saat ini saya berada di mess, masih kawasan tempat kerja," jelasnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Solo melalui aplikasi WhatsApp, Selasa (17/3).

Hartini mengatakan, lalu lintas di sekitar tempatnya bekerja sudah sepi sejak satu pekan belakangan ini. Banyak warga mulai mengurangi berkegiatan di luar rumah. Hartini mengaku, semenjak ditemukannya kasus pertama Covid-19 di Malaysia, dia lebih memilih mengkarantina diri sendiri.

Dalam hal ini, Hartini hanya keluar dari mess atau kantornya ketika ada urusan-urusan penting yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain. "Semisal pergi ke imigrasi kan tidak bisa diwakilkan, atau ketika ke bank untuk kirim uang ke Indonesia. Kalau yang lain, semisal bisa dilakukan di mess ya tidak keluar," jelasnya.

Hartini sendiri masih bekerja sebagaimana mestinya, sebagai trainer pekerja migran asal Indonesia yang akan dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga di Negeri Jiran. Menurutnya, apabila ada pekerjaan yang bisa dikerjakan di mess, maka akan dibawa pulang. Banyak juga pegawai yang bekerja di rumah. Hanya petugas kebersihan yang selalu bekerja di kantor.

Dia menceritakan, sebelumnya kepanikan sempat melanda Kuala Lumpur. Pasalnya, seluruh pasar dan supermarket diserbu masyarakat yang ingin membeli bahan makanan. "Banyak orang yang ke sana (pasar dan supermarket). Yang memburu kebanyakan orang-orang berduit. Yang kalangan bawah bagaimana? Kemarin itu sampai stok berasnya di supermarket besar, seperti di Tesco dekat Kepong kosong" jelasnya.

Akibat hal tersebut, Hartini pun menangis, dia mengaku sempat stres memikirkan kondisi di Malaysia. Apalagi, dia pun tak bisa pulang ke Tanah Air karena tiket penerbangan pulang tidak bisa digunakan. Beruntung, seluruh kebutuhan hidupnya di sana ternyata sudah dicover oleh sang bos.

"Tapi tetap kecewa karen tiket di-cancel. Padahal keluarga di rumah sudah menunggu,” kata dia.

Hingga saat ini, kondisi Hartini dan teman-teman Perwari dalam keadaan sehat. Dia pun berharap agar semua pekerja migran asal Indinesia selalu diberi kesehatan dan kesabaran dalam menghadapi kondisi saat ini. (rm2/ria) 

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia