alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Cerita WNI di Malaysia saat Lockdown: Warga Patuh Instruksi Pemerintah

Frozen Food, Hand Sanitizer & Masker Langka

19 Maret 2020, 10: 30: 16 WIB | editor : Perdana

Juriani Putri sebelum virus korona merebak di Malaysia.

Juriani Putri sebelum virus korona merebak di Malaysia. (DOK PRIBADI)

Share this      

Bekerja di negeri orang tentu harus pandai menyesuaikan diri dengan aturan  pemerintah.  Apalagi jika pemerintah sudah mengambil kebijakan lockdown selama beberapa waktu, seperti yang terjadi di Malaysia. Berikut kisah warga negara Indonesia (WNI) di Negeri Jiran yang ikut merasakan lockdown.

SILVESTER KURNIAWAN, Sol

SALAH seorang kenalan Jawa Pos Radar Solo, Juriani Putri, 29, mengatakan bahwa pada hari pertama pemberlakuan  lockdown kondisi jalan dan lingkungan cukup sepi. Ya, kebijakan lockdown yang diterapkan sejak 18-31 Maret 2020 itu membuat banyak masyarakat berdiam diri di rumah masing-masing. 

Kondisi kota dari lantai 16 apartemen Juriani Putri di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia saat hari pertama lockdown, kemarin.

Kondisi kota dari lantai 16 apartemen Juriani Putri di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia saat hari pertama lockdown, kemarin. (DOK PRIBADI)

"Kebetulan kalau di sini sejak dikeluarkannya kebijakan itu masyarakat cenderung langsung mengikuti anjuran pemerintah. Jadi tak begitu banyak masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, meski satu dua juga masih ada yang terlihat melintas di jalan," kata perempuan yang akrab disapa Putri itu, Rabu (18/3).

Warga asli Pasar Kliwon, Solo itu mengungkapkan bahwa seluruh sekolah, perguruan tinggi, perkantoran, dan tempat hiburan maupun objek wisata tutup seiring instrukai pemerintah untuk lockdown. Termasuk lokasi kerjanya yang notabene banyak pekerja dari Indonesia, juga tutup untuk sementara waktu.

"Semua tutup sesuai arahan pemerintah. Termasuk tempat saya kerja di pabrik pembuatan mikrochip untuk barang-barang elektronik, juga libur," kata dia.

Meski demikian, sejumlah supermarket atau toko kelontong dan sembako masih tetap melayani pembeli. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. "Sempat tengok beberapa toko sembako masih ada yang buka. Tapi memang sejak beberapa waktu beberapa barang sudah sulit ditemui," jelas Putri.

Sama seperti mayoritas masyarakat yang tinggal di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, Putri bersama sejumlah kawannya juga sempat berburu barang pokok sehari sebelum penerapan lockdown. Kala itu, ia dan kawannya yang sama-sama dari Indonesia mencoba mencari sejumlah bahan pokok di beberapa toko dan supermarket.

"Kemarin saya sempat belanja. Kebetulan sebelum ada lockdown itu kota masih agak ramai, termasuk juga di pusat perbelanjaan. Untuk bahan pokoknya mayoritas masih lengkap sih, yang agak susah itu cari frozen food. Mungkin karena banyak yang cari untuk persediaan jangka panjang. Antrean membeli bahan pokok juga cukup panjang," jelas dia.

Putri sudah 5 tahun ini bekerja di Malaysia. Oleh sebab itu, ia paham betul bagaimana perubahan situasi sosial sebelum dan sesudah Covid-19 masuk Malaysia. Menurut dia, awal isu korona muncul di Tiongkok pada akhir tahun lalu, pemerintah Malaysia maupun masyarakat sudah melakukan berbagai cara pencegahan. Meski demkian, upaya itu belum cukup untuk menangkal virus itu masuk ke negara tersebut.

"Di Wuhan, Tiongkok itu kan akhir tahun ya. Nah, pas awal tahun itu barang-barang seperti hand sanitizer dan masker mulai banyak dicari masyarakat di Malaysia. Februari mulai susah cari kedua barang itu, dan sampai saat ini sepertinya menjadi barang yang cukup langka untuk dicari," papar dia.

Meski demikian, pemerintah Malaysia mampu menekan potensi kenaikan harga sejumlah barang yang terbilang langka tersebut. Oleh sebab itu, jika suatu waktu mendapati barang-barang langka tersebut, harganya bisa dipastikan masih normal seperti biasanya. "Kalau harga-harga semuanya masih normal sih. Tidak ada yang naik," tegas Putri.

Untuk menjaga diri, Putri juga menggunakan masker dan rutin mencuci tangan. Serta tidak lupa membawa hand sanitizer untuk jaga-jaga. Meski mencoba selalu tenang, sebagai manusia normal diia juga memiliki kekhawatiran, mengingat hingga saat ini sudah ada 553 pasien yang dinyatakan positif korona dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. 

"Kalau takut sih enggak, tapi khawatir. Ya jaga-jaga diri sendirilah, kan kasusnya sudah banyak. Keluarga di Solo juga sering telepon mengingatkan tidak usah pergi-pergi dulu. Toh mau pulang pun belum bisa. Selain karena lockdown, saya kerja di sini kan juga terikat kontrak,"papar Putri.

Disinggung soal status kejadian luar biasa (KLB) korona di Solo, Putri mengaku, juga sudah tahu informasi tersebut dari keluarganya yang rutin berkomunikasi setiap hari. Sekalipun angka pasien tidak setinggi di kotanya, ia tetap mengkhawatirkan keluarganya. Oleh sebab itu, dirinya juga rutin mengingatkan keluarga di Solo agar selalu mematuhi imbauan pemerintah. 

"Kalau di sini mayoritas warganya patuh dengan anjuran pemerintah. Kalau di Indonesia mungkin agak susah ya masyarakatnya. Tapi kalau buat saya ya ikuti aturan pemerintah, itu yang paling benar," pungkas perempuan  kelahiran Solo, 18 Desember 1991 itu. (ves/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia