alexametrics
Jumat, 10 Apr 2020
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

44 Cagar Budaya Jateng Ditutup & Disemprot, Kesulitan Cari Disinfektan

20 Maret 2020, 08: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Petugas BPCB Jawa Tengah menyemprotkan cairan disinfektan di kompleks Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kamis (19/3).

Petugas BPCB Jawa Tengah menyemprotkan cairan disinfektan di kompleks Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kamis (19/3). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Hingga Kamis (19/3), sebanyak 44 cagar budaya di Provinsi Jawa Tengah masih ditutup dari kunjungan masyarakat umum. Penutupan ini berlaku selama dua pekan, mulai 16-29 Maret untuk mencegah penyebaran virus korona (Covid-19) di sekitar lingkungan cagar budaya. Mengingat sejumlah cagar budaya sering dikunjungi wisatawan seperti Candi Plaosan, Candi Sewu, dan Candi Sojiwan yang ada di Kabupaten Klaten.

“Sesuai arahan dari dirjen kebudayaan dan gubernur, diminta ditutup. Ini untuk mencegah  kerumunan massa dan mengurangi kontak terkait virus korona,” jelas Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah Sukronedi.

Sukronedi menjelaskan, usai dilakukan penutupan selama dua pekan, ditindaklanjuti dengan penyemprotan disinfektan di seluruh cagar budaya di Jawa Tengah. Diawali di Candi Plaosan dengan penyemprotan pada bagian loket pintu masuk hingga seluruh candi perwara maupun induk.

Penyemprotan disinfektan dilakukan pada sejumlah dinding candi yang selama ini sering dipegang wisatawan. Cairan disinfektan yang disemprotkan itu digunakan untuk menghilangkan virus maupun bakteri yang dimungkinkan masih menempel dari kunjungan wisatawan sebelumnya. Terlebih lagi dirinya mendapatkan informasi jika virus korona bisa menempel dalam waktu cukup lama.

“Kita melakukan penyemprotan cagar budaya yang ada di Jawa Tengah seperti Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Plaosan, dan Sojiwan. Termasuk rencananya penyemprotan akan dilakukan di Kecamatan Karangnongko (Candi Merak) juga. Sedangkan cagar budaya lainnya akan dilakukan penyemprotan oleh juru pelihara (Jupel) masing-masing yang nantinya bahan akan kita kirim,” jelasnya.

Sukronedi mengakui cukup kesulitan untuk mencari disinfektan yang hendak disemprotkan ke cagar budaya. Meski begitu, pihaknya terus mengerahkan petugas mencari hingga meramu bahan disinfektan. Tetapi dipastikan bahan yang digunakan tidak akan merusak cagar budaya.

Dia menjelaskan, 44 cagar budaya meliputi dead monument yang sudah dikoordinasikan dengan pihak pemkab maupun pemkot untuk dilakukan penutupan. Sedangkan untuk living monument sudah disampaikan imbauan oleh BPCB untuk melakukan penutupan sementara juga. Dia mencontohkan living monument seperti Masjid Agung Demak dan Gereja Blenduk di Semarang.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten Sri Nugroho mengatakan pascapenutupan seluruh objek wisata, diimbau kepada para pengelola untuk melakukan penyemprotan disinfektan. Hal itu dilakukan guna memastikan tidak ada bakteri maupun virus yang menempel di kawasan wisata tersebut. (ren/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia