alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Covid-19, Hoax, dan Tabayyun

20 Maret 2020, 19: 09: 24 WIB | editor : Perdana

H. Paryanto, Pengurus Majelis dan Informasi PP Muhammadiyah 2005-2010 dan wakil dekan I Fakultas Geografi UMS.

H. Paryanto, Pengurus Majelis dan Informasi PP Muhammadiyah 2005-2010 dan wakil dekan I Fakultas Geografi UMS.

Share this      

Oleh: H. Priyono

WALI kota Solo menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) korona mulai 13 Maret 2020, tepatnya beberapa jam setelah dua pasien isolasi RSUD Dr Moewardi dinyatakan positif Covid-19 dan satu di antaranya meninggal. Lalu pada 15 Maret 2020 Presiden Jokowi meminta agar masyarakat melakukan social distance untuk mencegah penularan Covid-19. 

Negara-negara di dunia memang memiliki strategi yang berbeda dalam menghadapi wabah ini. Lockdown di Tiongkok sangat berhasil, sedangkan tanpa lockdown di Korea Selatan juga berhasil. Di Korea Selatan jumlah penderita Covid-19 terus menurun. Kini Indonesia menempati peringkat pertama dengan rate kematian 8,370 persen disusul Italia 17,169 persen dan disusul peringkat tiga Iran dengan persentase 4,523. Tiongkok sebagai negara asal penyebar virus berada di posisi 3.929 persen.

Meski demikian, Korsel masih juga kecolongan. Tiba-tiba hanya dalam sehari muncul penderita baru dalam jumlah besar, ditemukan 46 orang sekaligus positif Covid-19. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah acara pencegahan Covid-19 yang diadakan oleh sebuah rumah ibadah di Seongnam, Provinsi Gyeonggi. Sebelah selatan Kota Seoul pada 1 Maret lalu. Diikuti sekitar 100 jemaat. 

Pada kegiatan itu tenggorokan jemaat disemprot dengan air garam. Alat semprot yang sama dimasukkan ke tenggorokan jemaat berikutnya, maka terjadilah penularan itu. Kejadian ini berawal dari informasi yang tidak benar (hoax) bahwa air garam dapat membunuh Covid-19.

Penyebaran hoax terkait Covid-19 di Indonesia pun tak kalah dahsyatnya. Kemkominfo pada 16 Maret 2020 telah merilis tentang 36 kabar hoax baru yang muncul di internet. Informasi tersebut bahkan massif disebarkan dalam beberapa hari terakhir melalui media sosial. Hoax tersebut antara lain: lemon panas, obat malaria klorokuin, asap rokok, minum alkohol, dan ruin sapi bisa membunuh korona.

Ketika arus informasi demikian mudahnya mengalir, seringkali tanpa berpikir panjang kita langsung menyebarkan (men-share) semua informasi yang kita terima lewat media sosial dan media lain, tanpa terlebih dahulu meneliti kebenarannya. Akibatnya, muncullah berbagai mudharat, seperti kekacauan, provokasi, ketakutan, atau kebingungan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadi pada wabah korona belakangan ini. 

Sikap tergesa-gesa menyebarkan informasi tanpa klarifikasi telah diingatkan Rasulullah SAW. “Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al-Baihaqi)

Allah SWT juga memerintahkan kepada kita untuk memeriksa suatu berita terlebih dahulu karena belum tentu semua berita itu benar. QS Al-Hujurat ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, bertabayyunlah (periksalah dengan teliti) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Ayat di atas merupakan sebuah penjelasan bahwa kita harus berhati-hati dalam menerima berita dari seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Dalam konteks zaman sekarang, kita dituntut agar ekstra hati-hati dalam menerima informasi dari media apapun. 

Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk memeriksa suatu informasi dengan teliti, yaitu dengan mencari bukti-bukti kebenaran informasi tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan menelusuri sumber informasi, atau bertanya kepada ahlinya atau orang yang lebih mengetahui tentang hal itu.

Lakukanlah tabayyun terhadap informasi. Secara bahasa tabayyun berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah tabayyun berarti meneliti, meyeleksi, dan memvalidasi informasi, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah yang datang, sebelum menyimpulkan.

Maka ayat ini sungguh relevan dengan kondisi saat ini, masa di mana kita mudah untuk men-share atau menyebarkan suatu informasi hanya dengan sentuhan jari. Betapa sangat sering dijumpai, suatu informasi dengan cepat menjadi viral di medsos, di-share oleh ribuan netizen, namun kemudian diketahui bahwa informasi tersebut ternyata tidak benar. 

Di zaman now di mana informasi mengalir bak air bah melalui medsos. Jika kita tak hati-hati dalam memilih dan memilah informasi tersebut maka dampaknya sangat fatal. Seperti kejadian jemaat rumah ibadah di Korea Selatan di atas yang termakan hoax bahwa air garam dapat membunuh virus korona. Akibatnya mereka justru terancam jiwanya karena tertular Covid-19.

Sebagai muslim yang baik, mari terlebih dahulu melakukan tabayyun untuk memastikan kebenaran sebuah informasi. Jangan menelan mentah-mentah dan membagikannya tanpa proses verifikasi atas kebenaran isi informasi tersebut. Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan mencegah penyebaran hoax terkait virus tersebut.  Tidak semua orang baik itu benar dan tidak semua orang yang benar itu baik, carilah orang yang baik tapi juga benar. (*)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia