alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Ketua Asmindo Solo Sekeluarga 3 Hari Jalani Lockdown Malaysia

21 Maret 2020, 18: 23: 16 WIB | editor : Perdana

Yanti Rukmana bersama dua anaknya. Suasana Kota Selangor, Malaysia.

Yanti Rukmana bersama dua anaknya. Suasana Kota Selangor, Malaysia. (YANTI RUKMANA FOR RADAR SOLO)

Share this      

Tiga hari pasca diumumkan lockdown di Malaysia, kondisi kota-kota di sana bak kota mati. Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Solo Yanti Rukmana, 48, bersama dua anaknya merasakan situasi ini. 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo.

HARI-hari Yanti Rukmana bersama kedua putranya kini dihabiskan di sebuah apartemen di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Mereka terpaksa tidak bisa ke luar bebas sejak kebijakan lockdown diterapkan Rabu lalu (18/3). Aktivitas di dalam apartemen ini pun dihabiskan untuk bercengkrama dengan kedua buah hatinya sambil memantau aktivitas belajar online yang dilakukan sang anak. 

“Anak saya yang cowok ini kebetulan lagi libur kuliah (di Chicago, Amerika), kalau yang cewek kebetulan juga lagi libur semester sejak pemerintah belum menetapkan kebijakan belajar di rumah. Tapi karena tidak bisa ke mana-mana ya sudah di apartemen menemani belajar sambil masak-masak buat anak,” jelas Yanti dihubungi Jawa Pos Radar Solo kemarin (20/3) 

Yanti bersama dua anaknya tiba di Malaysia dua hari sebelum kebijakan lockdown. Namun situasi saat ini pengamanan dan pengecekan kesehatan di beberapa lokasi sudah mulai diperketat. Sehari setelahnya, Selasa malam (17/3), Pemerintah Malaysia menyampaikan bahwa mulai Rabu (18/3) mulai diterapkan lockdown untuk seluruh negeri. 

“Saya datang ke Malaysia kebetulan ada acara pertemuan dengan kawan-kawan dan kebetulan anak-anak libur jadi ikut sekalian. Tapi karena ada kebijakan ini akhirnya acaranya batal juga. Jadi ya sudah,” ujar Yanti.

Lalu bagaimana situasi pertama tiba di Malaysia saat sebelum dilakukan lockdown? Kala itu dia menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat asyik berbelanja untuk memastikan pasokan kebutuhan harian mereka cukup untuk beberapa hari ke depan. Yanti pun ikut berbelanja sejumlah barang sekalipun dia belum paham situasi saat itu. 

Hingga saat ini, Yanti tidak khawatir dengan situasi Malaysia meski jumlah pasien Covid-19 yang terkonfirmasi mencapai 900 orang. Pasalnya, dia cukup rutin perjalanan Indonesia-Malaysia. Terakhir berkunjung ke Negeri Jiran sebelum ini pada awal Februari lalu. Saat itu pasien korona baru mencapai 200 orang. 

“Kalau menurut saya, lockdown atau tidak sepertinya sama saja. Bedanya hanya jalanan dan lokasi publik jadi sepi, tapi soal pengamanan kesehatan sejak awal memang sudah seketat ini,” jelas dia.

Aturan yang paling ketat adalah soal alasan bepergian ke luar rumah. Sepengetahuan dia, pemerintah menerjunkan sejumlah polisi di berbagai lokasi dan ruas jalan. Mereka akan menginterogasi bila mendapati warga berseliweran di jalanan. Bila saat ditanya tak punya alasan jelas, tentu akan ditegur dan dikenakan sanksi berupa denda oleh pemerintah setempat. 

“Kalau soal ini memang agak ketat. Makanya saat pemerintah sudah menetapkan lockdown kondisi kota memang sepi,” ujarnya.

Fasilitas pendidikan, perkantoran, pariwisata, dan hiburan tutup total. Adapun yang tetap beroperasi adalah toko-toko penyedia kebutuhan sehari-hari. “Pemerintah cukup sigap dalam menyediakan kebutuhan pokok. Misalnya kalau pagi ada barang yang kosong, siang harinya pasti sudah terisi. Begitu juga untuk barang-barang yang selalu dicari seperti masker dan hand sanitizer. Pasokan selalu tersedia. Hanya saja memang ada pembatasan beli. Misalnya sati orang maksimal beli dua item dan tidak boleh lebih. Makanya harganya tetap normal untuk semua barang-barang itu,” papar dia.

Dari pengamatan dia, status lockdown bukan berarti benar-benar melarang orang keluar masuk ke Malaysia seperti yang dipikirkan banyak orang. “Sebetulnya lockdown di sini itu tidak juga sepenuhnya lockdown. Kemarin kawan saya asli Malaysia juga bisa masuk dari luar negeri. Warga negara lain saat ini yang ingin kembali ke negaranya juga boleh. Ini saya juga sudah punya tiket balik 23 Maret, tapi belum tahu apa mau balik atau masih akan di sini,” ucap dia. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia