alexametrics
Rabu, 03 Jun 2020
radarsolo
Home > Karanganyar
icon featured
Karanganyar

Kisah Warga Karangpandan Gelar Resepsi di Tengah Waspada Covid-19

Tak Ada Salaman, Semua Tamu Wajib Cuci Tangan

21 Maret 2020, 19: 07: 46 WIB | editor : Perdana

Tamu undangan resepsi pernikahan di Karangpandan disemprot hand sanitizer sebelum masuk tempat resepsi.

Tamu undangan resepsi pernikahan di Karangpandan disemprot hand sanitizer sebelum masuk tempat resepsi. (RYAN AGUSTIONO/RADAR SOLO)

Share this      

KARANGANYAR– Di tengah kewaspadaan terhadap penularan virus korona (Covid-19), warga tetap menggelar hajatan resepsi pernikahan. Salah satunya yang digelar Suyatmi, warga Dusun Setup RT 2 RW 11, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Sabtu (21/3). Hajatan tersebut dihadiri kurang lebih 700 tamu undangan.

Kepada Jawa Pos Radar Solo, Suyatmi bercerita dirinya tak bisa membatalkan resepsi pernikahan antara putraya, Warsito dengan Siti Nur Halimah, warga Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu. Sebab, acara tersebut sudah direncanakan jauh-jauh hari sejak November 2019

Walau begitu, tuan rumah sudah memfasilitasi tempat cuci tangan dan hand sanitizer kepada seluruh tamu undangan yang hadir. Ini guna mewaspadai penyebaran virus Covid-19.

Kepala Desa Karang Dwi Purwanto yang juga menghadiri hajatan tersebut mengatakan, ada dua petugas khusus yang menunjukkan tempat cuci tangan serta menyemprotkan hand sanitizer kepada seluruh tamu undangan sebelum memasuki pintu masuk resepsi pernikahan.

Uniknya, terdapat papan pemberitahuan berisi tulisan “Mohon maaf kami tidak berjabat tangan bukan berarti kami tidak menghormati” berada di pintu masuk.

”Karena pemilik hajatan tidak mau menunda acara, ami selaku pemangku desa memberikan aturan baru bagi tuan rumah diwajibkan menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer untuk para tamu. Sehingga kedua tangan tamu steril dari kuman dan virus,” kata Dwi kepada Jawa Pos Radar Solo, Sabtu (21/3).

Melalui kepala dusun, hal yang sama juga disosialisasikan secara merata kepada seluruh warga jika ingin menggelar hajatan atau kondangan. Diakui Dwi, awalnya warga merasa repot jika harus mengikuti aturan itu. 

”Namun setelah diberikan penjelasan, warga memahami dan menerapkan aturan,” papar Dwi.

Sementara itu, gedung balai desa yang kerap digunakan untuk hajatan pernikahan, pertemuan, dan olahraga terpaksa ditutup sementara waktu. Penutupan ini demi meminimalkan kerumunan masyarakat. (ryn/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia