alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Ekspor Tekstil Tereduksi Rp 1,4 Miliar, Imbas Shutdown di Tiongkok

21 Maret 2020, 19: 29: 04 WIB | editor : Perdana

Pekerja sedang menyelesaikan pembuatan jaket dan rompi di sebuah pabrik tekstil di Boyolali.

Pekerja sedang menyelesaikan pembuatan jaket dan rompi di sebuah pabrik tekstil di Boyolali. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pangsa pasar tekstil Indonesia di Tiongkok cukup besar. Bahkan empat tahun terakhir, Indonesia sudah mengekspor pakaian jadi ke  Negeri Tirai Bambu tersebut. Namun, dampak penyebaran virus korona dan aksi shutdown di Tiongkok, Indonesia diperkirakan merugi Rp 1,4 miliar.

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah Lilik Setiawan menjelaskan, kepadatan penduduk membuat Tiongkok tak mampu lagi produksi industri padat karya. Termasuk pakaian jadi. Sehingga terpaksa harus impor dari negara lain. “Salah satunya Indonesia,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (20/3).

Pangsa pasar Tiongkok cukup menjanjikan. Nilai ekspornya mencapai Rp 1,4 miliar. Namun karena wabah korona, aktivitas ekspor kian terbatas. Padahal pada 2019 lalu, ekspor Indonesia mencapai USD 12,98 miliar. 

“Itu 100 persen. Yang 12 persennya masuk ke Tiongkok. Saya tidak bisa bicara besaran yang pasti. Artinya, dampak korona kena beberapa persen. Tapi yang jelas, saat ini Tiongkok shutdown. Berarti kita sudah tidak bisa kirim yang 12 persen ini,” urainya.

Berkurangnya jumlah ekspor ini bukan termasuk kerugian. Sebab, jika Tiongkok sudah mulai membuka diri terhadap dunia luar, kegiatan ekspor kembali normal. Menurutnya, aktivitas ekspor tidak dibatalkan. Hanya tertunda.

“Jika Mei-Juni sudah buka kembali, kan dapat dikirim juga. Kalau ditanya persentase turun berapa, kami tidak bisa menjawab. Sebab orderan itu bukan dibatalkan, hanya pending,” urainya.

Mengatasi keadaan saat ini, Lilik mengaku sudah mengambil beberapa langkah. Dia mengimbau agar para eksporter berhati-hati dalam menyikapi situasi tersebut.

“Supaya melakukan produksi yang tidak terlalu menurun. Dengan harapan dapat menyelesaikan Lebaran ini dulu. Semoga tidak terganggu,” bebernya. (aya/fer/ria)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia