alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Melihat dari Dekat Sentra Jamu di Nguter, Sukoharjo

22 Maret 2020, 08: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Melihat dari Dekat Sentra Jamu di Nguter, Sukoharjo

Beberapa waktu terakhir, empon-empon ramai dicari pembeli. Terlebih setelah merebaknya virus Covid-19. Kabupaten Sukoharjo yang lama dikenal sebagai Kota Jamu, punya sentra produksi jamu di Kecamatan Nguter. Berikut penelusuran kami,

AROMA rempah seketika tercium begitu memasuki Kampung Jamu, Nguter. Seorang wanita berusia lanjut terlihat menggendong jamu dengan tenggok. Di dalamnya ada botol-botol bening berisi jamu dengan warna dominan kekuningan.

Di belakangnya, menyusul pria paroh baya yang juga menjual jamu. Bedanya, dia menjajakan jamunya dengan gerobak dorong. Tidak ingin ingin ketinggalan, kuhentikan gerobak sepeda onthelnya. Memesan jamu Kunir Asem yang biasanya dipesan remaja perempuan.

Aroma kunyit bercampur asam Jawa kini beralih ke lidah. Tekstur kental, namun menyegarkan. Setelah habis satu gelas, ditambahnya dengan jamu Beras Kencur. Jamu ‘tombo’untuk menghilangkan rasa pahit jamu sebelumnya.

Tidak dipungkiri jika Sukoharjo telah menjadi surganya jamu. Mulai dari jamu gendong yang dijual keliling hingga jamu serbuk seduhan. Berbagai macam jamu tersebut bisa Anda temukan di Kampung Jamu. Mulai dari bahan baku, hingga jamu kemasan maupun gendong.

Terlebih saat ini tengah ramai-ramainya masyarakat berburu jamu untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah merebaknya virus Covid-19 (korona). Harganya cukup terjangkau. Untuk jamu gendong satu gelas hanya Rp 2.500. Sedangkan jamu serbuk dalam kemasan dijual mulai dari Rp 9 ribu sampai Rp 22 ribu tiap sepuluh sachet.

Untuk menuju Kampung Jamu, aksesnya cukup mudah. Dari Simpang Lima Sukoharjo Kota menuju ke arah selatan sektiar 8 kilometer. Tepat sebelum Pasar Jamu Nguter, ada gapura Kampung Jamu. Hampir setiap rumah di sekitar Pasar Jamu Nguter juga memproduksi jamu.

Jamu-jamu tersebut hanya diproduksi di rumah warga. Dari luar memang terlihat biasa, namun dapur mereka menyimpan kekayaan Indonesia. Seolah apotek hidup yang lengkap dengan aneka empon-empon. Mulai dari kunir, jahe, temulawak, kencur, daun pepaya dan lainnya. Bahan baku tersebut didapat dari kebun mereka sendiri. Ada pula yang mendatangkan dari Wonogiri.

Beda lagi dengan jamu produksi yang sudah dikemas menjadi serbuk. Kemasannya dibuat menarik. Proses pengolahannya juga berbeda. Industri jamu cenderung menggunakan bahan baku yang sudah dikeringkan atau di-ekstrak. Baru digiling lembut dan dicampur menjadi satu. Dan tahap terakhir dikemas sesuai takaran.

Namun bagi Saya yang paling menarik jamu gendong. Sebab keberadaannya mulai tergerus dan semakin sedikit. Penjual jamu gendong atau yang biasa disebut Mbok Jamu hanya tinggal segelintir orang. Salah satunya Mbah Slamet. Saya melihat langsung proses produksi di rumahnya.

Tangan tuanya yang mulai berkeriput kini berwarna kuning kunyit. Dia sudah bergulat dengan macam-macam jamu sejak 1970. Hingga kini Mbah Slamet konsisten berjualan gendong keliling di sekitar Kecamatan Nguter. Tiap hari dia bangun pukul 03.00. Bahan mentah jamu ditumbuk di dalam lumpang batu. Lalu direbusnya kembali. Airnya diperas untuk memisahkan ampas dengan cairnya. Jadilah jamu yang siap jual. Saya sendiri mencobanya, rasanya lebih mantab dari jamu yang sudah dikemas.

Mbah Slamet juga menjajakannya jamunya di Pasar Jamu Nguter. Tidak hanya sekadar profesi, melainkan warisan orang tua dan leluhur yang ingin dia lestarikan. 

Memasuki era milenial ini, perajin jamu Nguter mulai berinovasi. Tidak hanya menyajikan jamu gendong, namun juga varian lain. Seperti jamu racik siap seduh, jamu serbuk, jamu milenial yang dicampur pemanis rasa dan lainnya. Meski penjualan di Pasar Nguter mulai kembang kempis, namun yang dikirim ke luar daerah justru ratusan kardus. Bahkan omzet bulanan bisa mencapai ratusan juta. So, generasi muda jangan sampai malu minum jamu yang menyegarkan badan ini ya. (rgl/adi)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia