alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Sragen
icon featured
Sragen

Cegah Kelangkaan & Aksi Spekulan, Pembelian Sembako Mulai Dibatasi

23 Maret 2020, 07: 12: 48 WIB | editor : Perdana

Situasi jual beli di Pasar Bunder Sragen.

Situasi jual beli di Pasar Bunder Sragen. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Mengantisipasi panic buying, Pemkab Sragen mulai membatasi pembelian sejumlah bahan kebutuhan pokok (sembako). Kebijakan ini untuk menghindari penimbunan dan permainan spekulan pada kebutuhan pokok.

Pembatasan pembelian meliputi komoditi beras, yang dibatasi maksimal hanya 10 kg, gula pasir 2 kg, minyak goreng 4 liter, dan mi instan 2 dus. Langkah ini sudah disosialisasikan ke para pedagang pasar, pasar swalayan, dan toko modern.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen Tedi Rosanto mengatakan, pedagang tidak mempermasalahkan kebijakan ini. Hal ini sebagai antisipasi agar tidak ada permainan hingga menyebabkan barang di pasaran langka. ”Ini menindaklanjuti instruksi satgas pangan, dan dari provinsi juga menyampaikan edaran yang sama,” tuturnya, Minggu (22/3).

Tedi menjelaskan, surat edaran (SE) mengenai pembatasan pembelian bahan pokok ini sudah disosialisasikan ke pedagang pasar melalui kepala pasar seluruh wilayah Sragen. Dia menegaskan tidak boleh ada pembelian besar-besaran. SE ini juga sudah disampaikan kepada toko modern di Bumi Sukowati. 

”Boleh beli asal tidak berlebihan. Kalau di Sragen yang panic buying mungkin ada satu dua orang, tapi kami ingatkan untuk belanja seperti biasa saja,” jelasnya.

Tedi menegaskan, stok untuk barang kebutuhan pokok masih tersedia dan mencukupi. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir soal kelangkaan. ”Ini imbauan tegas, jika ada pembelian banyak dan tidak wajar, harus ditegur,” terangnya.

Soal sanksi pada masyarakat, pihaknya menegaskan jika sampai terjadi penimbunan akan dilaporan pada pihak kepolisian. Dia menegaskan dalam hal ini butuh kesadaran semua. Bila ada indikasi penimbunan akan ditindak.

Terkait kebijakan ini, pedagang beras di Pasar Bunder Sragen Lasmi mengaku belum mendengar adanya SE tersebut. Dia juga belum membatasi konsumen yang beli dagangan miliknya dalam jumlah besar. Setiap hari rata-rata dia menjual 3 kuintal - 5 kuintal beras. ”Kalau kemarin beli banyak atau sedikit tetap dilayani. Saya menunggu dulu saja kebijakannya bagaimana,” terangnya. 

Sementara di Klaten, sejumlah harga komoditas bahan pokok di Pasar Induk Klaten terpantau mengalami kenaikan sejak tiga hari terakhir. Salah satunya komoditas gula pasir yang mecapai Rp 18 ribu per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 17 ribu.

Pedagang Pasar Induk Klaten Huda Nur Rohmat mengaku kenaikan harga gula pasir sudah terjadi sejak pekan lalu. Informasi yang didapat dari distributor, harga gula pasir naik imbas dari terhentinya proses produksi di pabrik dan belum masuk masa giling tebu. 

“Saya persisnya tidak tahu kenapa harga gula pasir naik. Satu sak gula pasir isi 50 kg habis dalam waktu tiga hari saja. Meski harganya naik, tetapi tetap banyak yang beli. Sementara ini masih gampang carinya, belum langka,” ujar Huda, kemarin (22/3).

Kenaikan harga juga dialami komoditas bawang putih. Saat ini tembus Rp 45 ribu per kg dari sebelumnya Rp 40 ribu per kg. Sementara bawang merah naik jadi Rp 30 ribu per kg dari sebelumnya Rp 25 ribu per kg. Harga telur ayam juga naik jadi Rp 25 ribu per kg dari sebelumnya Rp 24 ribu per kg. Gula Jawa naik jadi Rp 16 ribu per kg dari sebelumnya Rp 14 ribu per kg. Termasuk cabai rawit, naik jadi Rp 50 ribu per kg. 

“Sehari bisa jual cabai rawit 10 kg. Cabai rawit naik Rp 5 ribu per kg. Kalau harga cabai keriting malah turun. Sebelumnya Rp 40 ribu per kg, sekarang hanya Rp 25 ribu per kg,” imbuhnya.

Harga empon-empon juga tinggi. Jahe naik jadi Rp 50 ribu per kg dari sebelumnya Rp 30 ribu per kg. Kunyit dan temulawak naik jadi Rp 10 ribu per kg. Sedangkan serai per ikat naik jadi Rp Rp 5 ribu. (din/ren/fer/ria)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia