alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Grebeg Sadranan tanpa Open House

24 Maret 2020, 18: 36: 12 WIB | editor : Perdana

PROSESI BERUBAH: Tradisi kenduri rangkaian dari Grebeg Sadranan di Kecamatan Cepogo akan tetap digelar. Sementara silaturahmi ke rumah ditiadakan sebagai antisipasi korona.

PROSESI BERUBAH: Tradisi kenduri rangkaian dari Grebeg Sadranan di Kecamatan Cepogo akan tetap digelar. Sementara silaturahmi ke rumah ditiadakan sebagai antisipasi korona. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Imbas penyebaran virus Covid-19 (korona) juga dirasakan masyarakat lereng Gunung Merapi-Merbabu, Kecamatan Cepogo yang akan menggelar acara Grebeg Sadranan akhir Maret mendatang. Tradisi setiap Ruwah dalam penanggalan Jawa itu tidak akan dilengkapi acara grebeg maupun open house seperti tahun sebelumnya.

Selama ini, usai kenduri ke makam-makam leluhur, Grebeg Sadranan dilanjutkan dengan open house atau saling berkunjung antarwarga. Namun gara-gara wabah Covid-19, panitia memutuskan meniadakan acara yang mengundang kerumunan massa.

Kepala Desa Gubug, Cepogo Muhkamed sudah berkoordinasi dengan tokoh-tokoh masyarakat. Untuk mencegah wabah virus korona, kegiatan open house tak diadakan dulu. Pasalnya, kegiatan saling berkunjung antarwarga ini tak hanya dilakukan warga desa Gubung atau dari Kecamatan Cepogo saja. Melainkan juga diikuti warga dari luar Kecamatan Cepogo, bahkan dari luar wilayah Kabupaten Boyolali.

Sehingga warga yang berkunjung ke Desa Gubug ini tak bisa dideteksi apakah aman dari virus atau tidak. Apalagi, pemerintah pusat juga sudah meminta untuk mengurangi kerumunan massa dalam jumlah banyak.

”Sebab mereka (pengunjung,Red) yang ke sini pasti menggunakan sarana kendaraan dan sarana lainnya. Apakah steril atau sudah terpapar, kami juga tidak tahu. Maka dari itu untuk mencegah madhorot yang lebih besar, maka silaturrahmi saling berkunjung ditiadakan dulu,” katanya.

Namun demikian, kegaiatan kenduren di makam-makam tetap dilaksanakan. Sebab, tempat duduk peserta akan diatur jaraknya.

”Kegiatan kendurenan sebagai wujud bhakti kami kepada para leluhur-leluhur yang sudah mendahului,” tambahnya.

Desa-desa lain juga sudah mengambil kesepakatan untuk tidak mengadakan acara silaturahmi ini. Ketua Paguyuban Kepala Desa se Kecamatan Cepogo, Komedi mengatakan, delapan desa sudah mengadakan musyawarah dan diputuskan tetap menggelar sadranan di makam. Yakni Desa Genting, Sumbung, Sukabumi, Mliwis, Cepogo, Gubuk, Bakulan dan Wonodoyo.

”Sedangkan yang tujuh desa masih menjadwalkan musyawarah,” jelas Kepala Desa Genting ini. (wid/adi)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia