alexametrics
Rabu, 08 Apr 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Melihat Dapur Umum yang Sediakan Makanan untuk Warga Karantina Mandiri

Pastikan Bahan Segar & Menu Bergizi

25 Maret 2020, 21: 26: 25 WIB | editor : Perdana

Relawan Tagana memasak di dapur umum dinsos demi memasok makanan bagi warga yang jalani karantina mandiri.

Relawan Tagana memasak di dapur umum dinsos demi memasok makanan bagi warga yang jalani karantina mandiri. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Beberapa warga yang pernah kontak dengan pasien positif korona harus menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing. Untuk memenuhi kebutuhan makan harian, pemkot membuat dapur umum. Seperti apa aktivitas mereka? 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

SUDAH tiga hari ini relawan dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Surakarta sibuk di dapur umum kompleks Kantor Dinas Sosial Kota Surakarta Jalan Slamet Riyadi No. 368. Dari wajah-wajah mereka tampak gurat kelelahan. Namun, mereka tetap bersemangat.

“Sejak Minggu (22/3) kemarin sudah mulai suplai untuk kebutuhan makan harian warga Mojosongo yang kini dalam masa karantina,” ujar Wakil Koordinator Tagana Surakarta Eko Prasetia saat ditemui di dapur umum setempat, Selasa (24/3).

Bersama sembilan rekannya, dia menyiapkam segala kebutuhan makan harian warga yang sedang dikarantina selama 14 hari ini. Sepuluh relawan ini secara bergantian bertugas menyiapkam kebutuhan makan harian. Mereka dibagi menjadi dua tim, yakni tim untuk masak memasak dan tim distribusi makanan ke warga yang dikarantina. “Enam orang bertugas memasak dan empat lainnya tugasnya distribusi makanan ke lokasi yang dituju,” papar dia.

Dalam sehari, dia menyiapkan tiga kali makanan dengan tetap mengutamakan gizi empat sehat lima sempurna. Menunya pun selalu baru setiap hari maupun setiap waktu makan. Bisa dipastikan makanan yang disajikan selalu berkualitas dengan bahan-bahan segar. 

“Konsepnya memang sedikit berbeda dengan penanganan bencana alam biasanya. Kalau biasanya kami biasa masak dalam jumlah besar, tapi kali ini jumlahnya hanya 15-20 porsi. Bedanya adalah penyajian dan proses memasaknya,” jelas Eko.

Jika dalam penanganan kebencanaan lain seperti banjir, gunung meletus, dan sejenisnya para relawan Tagana berani memasak dalam jumlah besar dan menyimpan untuk beberapa saat.  Atau sekali membeli bahan makanan untuk dimasak dalam beberapa hari. Namun karena kali ini yang dihadapi adalah kebencanaan soal virus, mereka tak mau main-main dengan bahan makanan yang hendak dimasak. 

“Kami pastikan bahan masakan selalu segar. Jadi sebelum memasak kami belanja dulu tiap pagi. Daftar belanjaan dengan menu yang akan dimasak juga bisa disesuaikan. Misal jika bahan makanan yang ada di daftar sedang kosong, maka dialihkan ke bahan makanan lainnya,” beber dia.

Sistem belanja akhirnya disesuaikan dengan waktu memasak. Misalnya untuk kebutuhan sarapan pagi, sebelum Subuh relawan mampir ke pasar untuk belanja bahan pangan. Sebab, pada pukul 04.00 mereka harus mulai memasak agar penyaluran sarapan tidak terlalu siang. 

Begitu juga saat makan siang sudah disiapkan sejak pukul 10.00. Dan makan malam mulai diracik pukul 17.00. “Menu Selasa (24/3) ini misalnya paginya ada nasi, oseng sayur, dan ayam goreng lengkap dengan satu buah jeruk dan air mineral. Siangnya nasi, semur kentang, lele dan tempe goreng, serta jus jambu. Malamnya ada nasi, sayur, dan buah tentunya. Semua bahan segar,” kata Eko. 

Meski terlihat ribet, hal semacam ini tidak dianggap sebagai beban bagi para relawann. Terlebih mereka biasa menyiapkan 5 ribu porsi lebih. Kalau hanya 15-20 porsi seperti saat ini masih terbilang ringan. “Kawan-kawan sudah biasa menyiapkan ini. Mereka sudah tahu bagaimana caranya, apa yang ditangani dulu biar lebih cepat. Makanya kami juga bagi tim. Ada yang memasak bagian lauk, sayur, menyiapkan nasi, dan tugas packing,” papar dia.

Dengan kerelaan para relawan untuk berkerumun, bahkan mengabaikan anjuran social distancing demi kepentingan orang lain, maka dia berharap siapa saja yang berstatus ODP (orang dalam pengawasan) dan wajib menjalani karantina mandiri harus mematuhi aturan ini. “Jangan malah keluyuran seperti beberapa kasus kemarin. Ini akan membahayakan orang lain,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Surakarta Tamso menambahkan, dinas sosial dan tagana membantu 15 warga Mojosongo, Kecamatan Jebres untuk memenuhi kebutuhan makan harian selama masa karantina 14 hari atas permohonan dari camat setempat. 

“Kebetulan dapur umum ini baru memfasilitasi mereka. Kalau warga yang isolasi mandiri di lokasi lain kemungkinan sudah dipenuhi pihak lainnya. Kami fokus ke sini dulu. Kalau sesuai permintaannya sampai 2 April  mendatang, tapi kami lihat dulu anggarannya. Kalau kurang, nanti kami sampaikan ke wali kota atau sekda,” kata dia.

Pihaknya menganggarkan menu sehat Rp 15 ribu - Rp 20 ribu setiap warga. Harapannya kebutuhan makanan harian warga karantina bisa terpenuhi sehingga masyarakat bisa fokus dalam masa karantina 14 hari ini. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia