alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri
Waspada Covid-19

Perantau Jakarta Mulai Masuk Wonogiri, Ketua RT Diminta Data Pemudik

27 Maret 2020, 13: 50: 24 WIB | editor : Perdana

Penumpang bus dari Jakarta yang tiba di Terminal Giri Adipuro Wonogiri dicek suhu tubuhnya.

Penumpang bus dari Jakarta yang tiba di Terminal Giri Adipuro Wonogiri dicek suhu tubuhnya. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Gelombang mudik perantau asal Wonogiri sudah mulai terlihat di tengah wabah virus korona (Covid-19). Pemkab setempat tidak bisa melarang mereka. Namun, sudah disiapkan langkah-langkah khusus untuk mengantisipasi persebaran Covid-19.  Salah satunya dengan melibatkan ketua RT untuk mendata perantau yang pulang kampung.

Bupati Wonogiri Joko Sutopo (Jekek) mengatakan, pemkab tidak bisa melarang para perantau di Jakarta pulang ke kampung halaman. Kecuali di Jakarta sudah diberlakukan lockdown, maka tidak ada warga yang boleh masuk maupun keluar dari Jakarta. 

“Masyarakat kami yang berada di perantauan cukup banyak. Di satu sisi, mereka belum punya pemahaman yang sama terkait apa itu korona atau Covid-19. Maka, pemerintah wajib hadir memfasilitasi dan mengedukasi agar pemahaman terkait Covid-19 ini bisa diterima oleh masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Jekek ini, Kamis (26/3). 

Dengan adanya pemahaman dari masyarakat, bupati berharap ada perubahan perilaku dari masyarakat sehingga bisa berpartisipasi aktif dalam memitigasi diri sendiri dan keluarganya dalam mengantisipasi Covid-19.

“Pemerintah memberikan imbauan, nantinya akan membangun kesadaran kolektif. Dan pada akhirnya masyarakat akan menjaga diri sendiri, keluarga dan juga lingkungannya,” jelas Jekek.

Pemkab juga telah berkoordinasi dengan TNI-Polri serta relawan untuk memonitoring seluruh moda transportasi umum yang masuk ke Terminal Induk Giri Adipura Wonogiri. Selain itu, juga telah disiapkan petugas kesehatan untuk melakukan screening awal di terminal. Petugas juga akan mendata jumlah penumpang termasuk kru bus yang tiba maupun ke luar kota.

“Sesuai SOP, suspect korona diawali dari batas minimal suhu tubuh. Misal suhu tubuhnya (penumpang dan kru bus) di atas 38 derajat celsius, akan dicatat dan diturunkan. Akan dilihat gejala-gejala klinis yang lain,” jelasnya. 

Bila ada potensi mengarah ke Covid-19, petugas akan mendorong orang tersebut untuk memeriksa kondisi kesehatan lebih intensif di fasilitas kesehatan yang sudah disiapkan. Langkah ini merupakan upaya langkah pertama mengantisipasi penumpang yang memiliki potensi terinfeksi Covid-19. 

Langkah lainnya, Jekek telah menggerakkan semua camat untuk berkoordinasi dengan para kepala desa dan lurah untuk memberikan tanggung jawab baru kepada ketua RT atau pun RW. Tanggung jawab ini adalah mendata warga yang datang dari perantauan. 

“Selain itu juga diberikan imbauan kepada mereka, saat merasa ada gejala-gejala klinis seperti demam dan batuk segera direkomendasikan untuk memeriksakan diri di puskesmas,” bebernya. 

Jekek juga mendorong seluruh warga Wonogiri untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, sering mencuci tangan dengan sabun, dan berolahraga sehingga imun warga sendiri menjadi kuat. 

Terkait dengan para perantau yang sudah melaporkan kondisi kesehatannya dan tidak memiliki gejala klinis korona, bupati mengatakan, mereka tidak harus periksa ke puskesmas. Yang didorong untuk periksa ke puskesmas adalah warga atau perantau yang memiliki gejala korona yang diawali dengan demam. 

“Jangan perantau yang jumlahnya ribuan itu semua ke puskesmas, akan terjadi kerumunan dan akan menimbulkan masalah baru,” jelasnya.

Ketua Paguyuban Pandowo (Paseduluran Mudo-Mudi Wonogiri) Gunawan yang merupakan paguyuban perantau dari Wonogiri mengatakan, perantau dari Wonogiri pola pikirnya sudah berubah. “Ketika sudah keluar dari Wonogiri pola pikirnya berkembang, terkait wabah Covid-19. Pasti mereka bijak menyikapi ini,” jelas dia.

Dia menambahkan, perantau yang pulang kampung tentu akan mengetahui kondisi diri mereka sendiri. Dia mencontohkan, beberapa dari mereka sudah melakukan cek kesehatan terlebih dahulu sebelum pulang kampung.

“Kultur masyarakat Wonogiri berbeda dari yang lainnya. Misal ada hajatan di kampung halaman, sangat dimungkinkan mereka akan kembali ke kampung halaman. Setelah ada imbauan untuk menunda hajatan dari pemkab, anggotanya patuh. “Contohnya saya biasanya pulang setiap dua pekan sekali. Sekarang pilih tidak pulang dulu,” ujar Gunawan yang merantau di Jakarta ini.

Koordinator Terminal Giri Adipura Wonogiri Agus Hasto Purwanto membenarkan ada kenaikan jumlah kedatangan warga di terminal yang dipimpinnya. Namun peningkatan ini tidak seberapa, hanya sekitar 18 persen. Kenaikan itu terlihat pada 20, 21, dan dan 22 Maret. “Masih jauh dari Lebaran (jumlahnya). Memang ada peningkatan, tapi sedikit,” jelasnya. (al/bun/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia