alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Berkaca dari Negara-Negara Eropa yang Bersatu Lawan Covid-19 (2-Habis)

Warga Slovakia Patuhi Social Distancing

31 Maret 2020, 12: 48: 11 WIB | editor : Perdana

Damarsari Tri Atmani.

Damarsari Tri Atmani. (DOK PRIBADI)

Share this      

Slovakia yang memiliki populasi penduduk sekitar 5 juta orang ini juga tegas dalam memerangi Covid-19. Meski demikian, pemerintah setempat tak menerapkan sistem lockdown, namun cukup tegas dalam edukasi ke masyarakat. 

SILVESTER KURNIWAN, Solo, Radar Solo

DUA tahun tinggal di Bratislava, Slovakia, membuat Damarsari Tri Atmani, gadis 25 tahun asal Solo ini mulai mengenal kultur masyarakat setempat. Dia pun ikut merasakan pengalaman selama menjalani kebijakan darurat di negeri pecahan Cekoslowakia tersebut. 

Suasana jalanan Kota Bratislava, Slovakia tampak lengang.

Suasana jalanan Kota Bratislava, Slovakia tampak lengang. (DOK PRIBADI)

Seingat dia, pemerintah setempat baru mulai fokus pada korona sejak ditemukan kasus pertama awal Maret lalu. “Kasus pertama muncul itu 6 Maret lalu. Waktu itu ada satu laki-laki berusia 52 tahun yang dinyatakan positif korona. Setelah didalami ternyata pria itu tidak punya riwayat bepergian, melainkan anaknya yang memiliki riwayat bepergian dari Italia. Nah mereka berdua ini langsung dirawat di rumah sakit. Lima hari setelahnya, 11 Maret pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan darurat,” jelas dia saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo, Senin (30/6) kemarin. 

Beberapa hari sebelum kebijakan darurat diterapkan, kota tempat tinggal pasien pertama dan kedua itu langsung menerapkan kebijakan lokal dengan menutup area publik. Namun karena muncul kasus baru, pada 11 Maret kebijakan darurat diterapkan di seluruh Slovakia. “Ya awal-awal itu masyarakat masih belum menganggap serius soal korona. Tapi setelah kebijakan itu diterapkan, semuanya langsung patuh,” kata gadis yang bekerja sebagai staf pribadi di KBRI Slovakia itu.

Penyebaran korona di Slovakia termasuk cepat. Dalam hitungan hari, jumlah pasien positif korona meningkat pesat. Dan per kemarin, jumlah pasien aktif yang masih mendapat perawatan 314 pasien dengan 0 kematian, dan dua pasien dinyatakan sembuh. 

“Kalau di sini masalahnya bukan hanya di lingkungan internal dalam satu negara saja. Karena ini negara di satu daratan dan berbatasan dengan negara lain, maka ada beberapa aturan khusus soal perjalanan,” ujarnya. 

Damarsari memberi contoh warga harus memiliki ID khusus jika hendak ke negara tetangga. Mengingat banyak warga setempat yang bekerja di negara lain atau sebaliknya. Jadi bukan lockdown total. “Yang selalu ditekankan, kalau sesuai pesan pemerintah itu bila ada warganya yang habis bepergian dari zona merah, seperti Italia, Korsel, Iran, dan Tiongkok harus karantina dan cek kesehatan,” jelas gadis kelahiran Solo, 22 Agustus 1994 itu.

Ini penting, mengingat sejumlah negara tetangga seperti Austria yang jaraknya tak begitu jauh jumlah penderita sudah mencapai seribuan kasus positif korona. Oleh sebab itu, kerja sama dengan negara tetangga perlu dilakukan. 

“Penyebarannya termasuk cepat karena Slovakia itu bukan negara kepulauan seperti Indonesia. Negara atau kota lain yang paling banyak kasus koronanya dan jaraknya paling dekat dengan Slovakia itu di Vienna, Austria. Begitu juga dengan negara lain seperti Hungaria yang menerapkan satu kali perjalanan, seperti boleh keluar negara, tapi tak boleh balik. Dengan begitu masyarakat lebih paham,” bebernya.

Soal kondisi kota, sambung Damarsari, segala kegiatan bersifat pengerahan massa dibatalkan. Begitu juga dengan kegiatan pendidikan, perkantoran, hiburan, dan lainnya juga dipaksa tutup sementara oleh pemerintah. 

“Sekarang ini di Slovakia sedang musim semi. Biasanya banyak pasar dan festival musim semi digelar, tapi ini juga batal,” ucap dia.

Kesadaran masyarakat juga tampak pada setiap penggunaan transportasi lokal. Seperti negara-negara di Eropa pada umumnya, transportasi utama di Slovakia adalah trem dan bus. Meski tidak ditulis secara khusus oleh pemerintah, umumnya masyarakat selalu mengenakan masker saat hendak naik kendaraan umum. Tanpa masker, seseorang tak diperbolehkan menaiki transportasi itu. 

“Suatu waktu ada warga yang bawa masker, tapi tidak dipakai dengan benar, langsung ditegur oleh sopirnya dan diancam akan diturunkan di pinggir jalan. Kalau secara umum sih masyarakat di sini memang lebih patuh,” jelas dia.

Aturan di transportasi publik memang cukup ketat. Tapi bukan berarti aturan publik lain bisa disepelekan. Misalnya aturan tak tertulis di jalan saat berpapasan dengan orang lain. Di Slovakia yang mayoritas masyarakatnya gemar berjalan kaki. Saat berpapasan mereka kini selalu ada yang mengalah agar tidak terlalu berdekatan. Sama seperti imbauan pemerintah soal social distancing.

“Aturan jaga jarak itu berlaku betul di sini. Termasuk ketika sedang antre di supermarket. Di sini toko-toko yang masih boleh buka cuma supermarket, toko kebutuhan rumah tangga, dan apotek saja,” ujarnya.

Untuk antrean di supermarket, ada aturan khusus diterapkan pemerintah setempat. Misalnya, lansia diberikan waktu belanja pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Dan semuanya patuh soal aturan ini. Bahkan kadang tetangga saling menawarkan jasa titip belanjaan pada manula yang rumahnya berdekatan dengan mereka. “Ya saling bantu saja tanpa upah, soalnya ongkos kirim barang agak mahal. Jadi kalau biayanya naik, yang mahal itu bukan harga bahan bakunya, tapi ongkos kirimnya,” terang Damar.

Namun justru dengan itulah ekonomi tetap berjalan normal. Taksi yang sudah tak diizinkan menarik penumpang kini berubah jadi jasa pesan antar yang siap membelanjakan pesanan sesuai kebutuhan  pelanggan. Hal ini juga diikuti dengan kafe dan restoran yang mulai diizinkan untuk beroperasi. 

“Kalau pub, kafe, resto yang dulu biasa buka layanan dan dimakan di tempat sekarang buka layanan pesan antar. Harganya sih normal, tapi ongkos kirimnya memang agak mahal,” jelas Damar.

Efek jera lain adalah penerapan denda tinggi bagi warga yang melanggar. Yakni sebesar 1.659 Euro. Aturan ini membuat masyarakat akhirnya mematuhi seruan social distancing. (*/bun/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia