alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Pinsar Keluhkan Distribusi Telur Tersendat

03 April 2020, 17: 58: 33 WIB | editor : Perdana

STOK MENUMPUK: Peternak sedang memanen telur ayam leyer di sebuah kandang di kawasan Boyolali.

STOK MENUMPUK: Peternak sedang memanen telur ayam leyer di sebuah kandang di kawasan Boyolali. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO – Wabah virus korona (Covid-19) berimbas pada sulitnya distribusi telur ayam leyer ke konsumen. Keluhan ini disampaikan Pinsar Petelur Nasional (PPN) Solo. Contohnya penerapan semi-lockdown yang mengakibatkan pedagang sulit mengambil telur. Karena aksesnya macet, alhasil penurunan distribusi mencapai 50 persen.

“Kadang-kadang ada yang pembatasannya over atau berlebihan. Misalnya mobil tidak bisa keluar-masuk jalan kampung. Kalau sudah seperti ini, ya susah. Jelas ada penurunan distribusi. Telur jadi menumpuk di peternak karena pembeli tidak bisa menjangkau,” keluh Sekretaris PPN Solo Heru Santoso, kemarin (2/4).

Produsen telur di Kota Solo dan sekitarnya mampu menghasilkan 80-90 ton sehari. Dari jumlah itu, 30 ton di antaranya didistribusikan ke Kota Bengawan dan sekitarnya. Sisanya disalurkan ke luar kota. 

“Selain karena sulitnya distribusi, faktor daya beli juga berpengaruh. Situasi ini (virus korona) memang efek karambolnya banyak,” bebernya.

Heru sudah menyampaikan keluhan ini ke Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta. Dalam hal ini Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo. Menurutnya, pemkot akan berusaha berkoordinasi dengan stakeholder antarkabupaten dan kepolisian terkait distribusi bahan kebutuhan pokok. Termasuk komoditas telur ayam.

“Kalau aturan kan sudah jelas. Tidak ada penutupan total. Pasar atau toko yang menjual bahan baku harus diberi prioritas. Tetap harus buka,” imbuhnya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Heru Sunardi mengaku belum mendengar tersendatnya distribusi barang, termasuk telur ayam. Dia hanya mengetahui jumlah pengunjung pasar tradisional kian menurun.

“Kami belum menyurvei. Tapi pengakuan pedagang pasar, penurunan pengunjung sampai 30 persen. Pedagang pasar masih berjualan seperti biasa. Bahkan mereka melayani pesan-antar ke konsumen melalui aplikasi,” tandasnya. (aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia