alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Totalitas Personel Posko Covid-19 Kota Surakarta (2-Habis)

Siaga 24 Jam,Tetap Sabar Terima Telepon Iseng

07 April 2020, 16: 30: 01 WIB | editor : Perdana

Hananto (pegang telepon) di Posko Covid-19 Kota Surakarta.

Hananto (pegang telepon) di Posko Covid-19 Kota Surakarta. (SILVERTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Share this      

Menjadi petugas yang bekerja di ranah kemanusiaan sering dihadapkan dengan situasi tak mengenakkan. Paling sering adalah mengesampingkan urusan pribadi demi kepentingan masyarakat. Hananto, 38, merasakan ini. Seperti apa kisahnya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo.

SEJAK Solo menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) korona (Covid-19) pada 13 Maret lalu, upaya penanganan dan penanggulangan Covid-19 terus dilakukan. Mulai dari agenda penyemprotan disinfektan, pembuatan posko siaga hingga penyiapan lokasi karantina. 

“Intensitas kerjanya makin kencang. Beda sama kondisi kebencanaan lainnya. Untuk penanganan korona ini saya yakin semua juga merasa lelah, tapi ya harus tetap jalan demi kota kita sendiri,” ujar Hananto saat ditemui di Posko Covid-19 Kota Surakarta di halaman balai kota.

Sejak status KLB melekat di Kota Bengawan, dia dan sejumlah rekannya bersama organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya disibukkan dengan berbagai agenda. Penyemprotan berbagai fasilitas publik seperti sekolah, rumah ibadah, pasar tradisional, dan lainnya. Tentu hal itu menguras banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. 

“Jelas semuanya punya pengalaman masing-masing soal ini. Kalau saya sendiri sampai ultah anak saya yang pertama, 22 Maret kemarin itu tidak bisa ikut merayakan karena sedang tugas. Kebetulan karena kesukaannya makan pizza, kemarin saya order dan diantar ke rumah. Paling saya komunikasinya lewat video call saja,” jelas Hananto.

Selang beberapa hari setelah ultah anaknya yang pertama, giliran Hananto yang merayakan ulang tahun. Karena situasi kala itu masih sibuk di lapangan, dia pun menunda acara makan-makan bersama keluarga. Persis seperti ultah anaknya yang pertama, ultahnya pun hanya diobati dengan video call keluarga. 

“Ya terpaksa tidak bisa makam bersama keluarga dulu. Soalnya situasinya kan masih seperti ini, dan kemarin itu memang sibuk-sibuknya. Selama 13 hari keliling semprot disinfektan nonstop. Jadi tidak bisa acara sama keluarga,” jelas dia.

Melihat situasi seperti ini, apalagi dia juga memiliki tanggung jawab berjaga di Posko Covid-19 di Balai Kota Surakarta, kemungkinan besar ultah anak keduanya pada 9 April mendatang juga tidak bisa berjalan sesuai rencana. 

“Posko ini siaga sampai tiga bulan ke depan. Kemungkinan besar ultah anak saya yang paling kecil juga tidak bisa merayakan,” kata Hananto.

Beruntung, istri dan kedua anaknya paham soal konsekuensi kerja sang ayah. Mengingat hampir tiga pekan ini, Hananto balik ke rumah hanya untuk mandi saja dan langsung kembali bertugas di posko. 

“Kalau dihitung sejak penyemperotan ya sudah hampir tiga pekan tidak tidur di rumah. Balik hanya mandi dan saya pamit lagi berangkat kerja. Untungnya istri sudah paham dengan pekerjaan saya. Anak-anak juga tidak nggondeli saat saya tinggal," hemat dia.

Meski demikian, keluarga juga sempat khawatir. Dibanding bencana alam lainnya, siaga dalam penanggulangan korona ini jauh lebih mengkhawatirkan mengingat siapa saja berpotensi tertular virus tersebut. Apalagi pekerjaannya menuntut harus siap sedia untuk bertemu dengan siapa saja setiap ada panggilan. 

“Kemarin ada panggilan masuk, laporan dari warga Gandekan ada satu warga berstatus ODP keluyuran. Laporan ini kemudian dikoordinasikan dengan OPD lain dan TNI-Polri, lalu kami datangi ke lokasi. Hal-hal semacam ini sering kami (petugas posko) lakukan. Jadi ya cukup berisiko. Tapi yakin saja kalau selalu diberi perlindungan oleh Tuhan,” ujarnya.

Meski terlihat tangguh, Hananto dan rekan-rekannya tentu juga punya kekhawatiran selama melayani masyarakat. Namun, semua itu bisa dikesampingkan dengan motivasi dan keyakinan untuk membantu Kota Solo agar terbebas dari korona.

“Sejak 2004 saya aktif jadi relawan, 2017 resmi jadi anggota BPBD Surakarta. Jadi saya merasa bertanggung jawab agar Solo cepat terbebas dari korona. Bencana nasional seperti tsunami Aceh, gempa Palu dan Lombok, serta bencana lainnya saja saya berangkat, masa di kota sendiri saya diam saja. Ini keyakinan saya agar yakin untuk menjalankan tugas,” papar dia.

Sayangnya di tengah kesiagaan ini masih ada saja orang tidak bertanggung jawab. Hananto mengaku pernah mengalami beberapa kejadian selama bertugas di posko selama sepakan terakhir. Salah satunya soal telepon iseng yang masuk di layanan hotline posko tersebut. Kejadian yang paling dia ingat tiga hari lalu saat ada seorang warga melaporkan kalau akan membantu mencari ODP yang berkeliaran. 

“Setelah saya dengarkan beberapa saat, saya baru sadar kalau yang telepon sedikit ngaco (ngelantur). Ya saya tutup saja,” ujarnya.

Meski sedikit menyebalkan, kadang telepon semacam itu bisa jadi hiburan bagi petugas. Di tengah situasi yang serba menegangkan akhirnya dia bersama rekan-rekan bisa sedikit tertawa karena kalimat-kalimat lucu yang masuk ke layanan hotline. Di sisi lain, dia juga bersyukur banyak masyarakat yang kooperatif dengan memberikan laporan-laporan terarah untuk memudahkan para petugas untuk meninjau lapangan. 

“Bantu kami dengan laporan-laporan yang benar. Dan yang paling penting, masyarakat di rumah dulu saja, jangan main ke mana-mana. Setidaknya itu bisa membantu kami lebih fokus dalam menindaklanjuti laporan-laporan di posko kedaruratan ini,” tutur Hananto. (*/bun/ria) 

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia