alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Melemahnya Ekonomi Masyarakat Imbas Covid-19

Demi Bertahan, Pengusaha hingga Ibu Rumah Tangga Ramai-Ramai Jual Emas

08 April 2020, 17: 24: 27 WIB | editor : Perdana

Deretan toko emas di kawasan Coyudan. Masyarakat ramai-ramai menjual emas mereka di tengah himpitan ekonomi imbas pandemi Covid-19.

Deretan toko emas di kawasan Coyudan. Masyarakat ramai-ramai menjual emas mereka di tengah himpitan ekonomi imbas pandemi Covid-19. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Ekonomi masyarakat bawah mulai goyang selama masa pandemi Covid-19. Mereka pun mulai mencari cara agar bisa bertahan di tengah kesulitan ini. Terpaksa simpanan barang berharga pun harus dilepas satu per satu.

ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

SUASANA toko emas di kawasan Jalan Dr Radjiman tampak ramai, kemarin (7/4). Puluhan orang terlihat antre di depan toko. Satu per satu mereka dilayani oleh pelayan toko. Pantauan koran ini, kebanyakan dari mereka bermaksud menjual perhiasan pribadi. Ini terpaksa dilakukan guna bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Nur Hidayati, 45, warga Kestalan, Kecamatan Banjarsari mengaku, akibat virus korona ini bukan hanya mengancam kesehatan, namun warga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah semakin tercekik. 

“Kacau, perekonomian sudah benar-benar lesu. Malah lebih lesu ketimbang waktu krisis moneter dulu. Jadi terpaksa jual perhiasan. Ini biar anak-anak bisa makan, karena suami saya driver ojol (ojek online) juga sepi orderan,” ujarnya.

Selain untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, uang hasil penjualan emas juga akan digunakan untuk dana cadangan. Apalagi sebentar lagi sudah masuk Ramadan disusul Idul Fitri.

“Ini yang saya jual ada perhiasan peninggalan ibu saya sama seserahan waktu nikah dulu,” katanya.

Tak hanya Nur, Lastri Nanda Safitri juga akhirnya menjual perhiasan yang dimiliki setelah berdiskusi dengan sang suami. Maklum, setelah wabah korona merebak, pabrik plastik tempat dia bekerja terpaksa menutup produksi. Karyawan seperti dirinya pun dirumahkan. “Ini untuk berjaga-jaga juga, sebentar lagi sudah puasa, takutnya harga naik,” ujarnya.

Tak hanya ibu rumah tangga, kalangan pengusaha juga terlihat terpaksa menjual aset emas mereka. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri Bedjo Nugroho dan Naning Dewantri. Pasutri asal Sragen ini terpaksa menjual emas mereka karena omzet usaha bakso miliknya terus merosot dalam sebulan terakhir.

“Harus memikirkan lima pegawai juga. Kalau kondisinya seperti ini terus, rencananya Ramadan nanti libur dulu. Tapi tetap kasih THR mereka. Mungkin sebelum puasa sudah saya bagikan, jaga-jaga kalau bulan depan saya tidak pegang uang,” ujarnya.

Pemilik toko emas di Coyudan Hartono membenarkan banyak warga yang menjual emas daripada yang membeli. Menurut dia, yang menjual hampir 80 persen, sedangkan yang membeli emas paling hanya 20 persen. 

“Harga jual sudah sesuai yang tertera di surat emasnya. Paling hanya dipotong harga setiap gramnya Rp 15  ribu rupiah,” katanya.

Ditambahkan Hartono, hingga kemarin, untuk emas berkadar 75 persen harga jualnya dibanderol Rp 640 ribu per gram, sedangkan untuk 50 persen seharga Rp 375 ribu per gram. “Sejak wabah korona memang harga emas terus naik setiap harinya,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia