alexametrics
Rabu, 03 Jun 2020
radarsolo
Home > Wonogiri
icon featured
Wonogiri

Tak Siapkan Tempat Karantina Pemudik, Jekek: Malah Bisa Tertular Semua

09 April 2020, 13: 14: 45 WIB | editor : Perdana

Bupati wonogiri Joko Sutopo mengecek suhu tubuh kru bus di Terminal Giri Adipura, beberapa waktu lalu.

Bupati wonogiri Joko Sutopo mengecek suhu tubuh kru bus di Terminal Giri Adipura, beberapa waktu lalu. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Pemkab memastikan tidak menyediakan tempat khusus untuk mengarantina pemudiki dari wilayah zona merah korona. Dikhawatirkan, bila gedung karantina tidak sesuai standar malah berpotensi menularkan virus. 

“Menurut saya, potensi penyebarannya (apabila ada yang terinfeksi korona di tempat karantina) luar biasa. Yang bisa menentukan indikator atau standar (keamanan lokasi karantina) itu ya paramedis," tegas Bupati Wonogiri Joko Sutopo, Rabu (8/4).

Puluhan ribu pemudik, imbuh bupati, tidak akan tertampung di satu tempat dan tidak akan efektif. "Gedung mana yang bisa menampung 10 ribu pemudik? Kalau 30 persennya batuk pilek, satu gedung akan tertular semuanya," jelas bupati yang akrab dipanggil Jekek itu. 

Jika kondisi itu terjadi, justru berpotensi menambah orang dalam pemantauan (ODP) secara masal. Selain itu, physical distancing tidak akan terpenuhi. Sebagai gantinya, pemkab mengoptimalkan fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang mudah diakses pemudik. Biaya perawatan pun sudah dijamin pemerintah. Begitu pula ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan.

"APD di rumah sakit lini dua yang membutuhkan alat proteksi khusus juga sudah kami jamin," jelasnya.

Bupati meyakini, ketika relasi sosial sudah terbentuk, warga secara otomatis mengingatkan pemudik untuk melaporkan kedatangannya dan memeriksakan diri ke puskesmas terdekat apabila memiliki gejala korona. Yang jelas, para pemudik diimbau melakukan karantina secara mandiri di rumah.

Di lain sisi, jumlah orang dalam pengawasan (ODP) di Kota Sukses mencapai 191. Menanggapi hal tersebut, Jekek menuturkan, penambahan jumlah ODP tidak signifikan. "Kalau bicara statistiknya, ada dari perantau, ada pula dari masyarakat (lokal). Tetapi mayoritas memang perantau," katanya. (al/wa/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia