alexametrics
Jumat, 29 May 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Hapus Karantina Mandiri, Pemudik di Solo Wajib Ikut Karantina Pemkot

10 April 2020, 15: 29: 08 WIB | editor : Perdana

Pemudik maupun pengunjung dari zona merah wajib jalani karantina di Grha Wisata Niaga.

Pemudik maupun pengunjung dari zona merah wajib jalani karantina di Grha Wisata Niaga. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Pemkot Surakarta membuat aturan baru mengenai kedatangan pemudik dari luar kota. Mereka tidak lagi diberi opsi karantina mandiri di rumah. Semua pemudik wajib menjalani karantina di rumah karantina yang disediakan pemkot selama 14 hari.

Kebijakan tersebut ditetapkan sejak Rabu (8/4) malam oleh Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo. Langkah tersebut diambil setelah ada sejumlah temuan pemudik yang nekat keluar rumah setelah memilih opsi karantina mandiri di rumah. Hal itu dianggap meresahkan masyarakat di lingkungannya. 

Aksi keluyuran pemudik karantina mandiri itu langsung dihentikan oleh pihak kelurahan dibantu dengan babinkamtibmas setempat. Pemudik tersebut langsung dibawa ke Grha Wisata Niaga, malam itu juga.

“Kami tidak ada lagi toleransi. Para pemudik yang ke Solo kami karantina 14 hari tanpa terkecuali. Langsung cek darah. Kenapa harus saya lakukan demikian? Karena kita antisipasi yang terjelek,” tegas pria yang akrab disapa Rudy ini, kemarin (9/4).

Hasilnya, rumah karantina di Graha Wisata Niaga hingga pukul 14.00 kemarin telah dihuni 70 orang pemudik. Mereka diangkut menggunakan bus penjemput khusus pemudik dari Terminal Tirtonadi, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Purwosari serta Bandara Adi Soemarmo. Ada pula warga Solo yang inisiatif mendatangi posko di Grha Wisata Niaga untuk mengikuti program karantina setelah melakukan perjalanan dari luar kota.

Dengan aturan baru yang lebih ketat tersebut ada beberapa pemudik yang ngeyel akan karantina mandiri. Bahkan, sejumlah pemudik beradu mulut dengan petugas posko lantaran tidak terima dikarantina di Grha Wisata Niaga.  

“Tadi (kemarin) ada tiga orang yang mbanggel (bandel). Yang satu ada yang langsung mau pulang ke Bandung karena hanya mau jemput ibunya. Kami kawal mereka ke stasiun, membeli tiket dan ibunya ditelepon langsung diajak ke Indramayu,” ujarnya. 

Yang kedua, ada satu keluarga ibu dan dua anak diajak jagong ke Sumatera, tapi di sana tidak boleh ada resepsi sehingga pulang kembali ke Solo. Ketiga, dari Bandung ke Solo mau bekerja. Namun, karena harus jalani karantina 14 hari akhirnya dia memutuskan kembali ke Bandung. Kami kawal. “Yang lebih ngeyel lagi, seorang ibu katanya mau kembali ke Surabaya, akhirnya kami kawal dia sampai ke luar kota,” papar Rudy.

Selain aturan wajib karantina bagi pemudik, pemkot juga mengubah penggunaan rumah karantina. Grha Wisata Niaga kini dikhususkan bagi pemudik yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) tidak memiliki risiko, sedangkan Ndalem Djojokusuman diperuntukkan bagi ODP yang memiliki risiko.

“Jadi kalau ada pemudik di Grha Wisata batuk, kami bawa ke Djojokusuman. Sekarang yang ada di Graha Wisata ada 70 orang, di sana (Ndalem Djojokusuman) tiga orang,” ujar wali kota.

Sementara itu, angka persebaran Covid-19 di Kota Surakarta masih stagnan. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kota Surakarta Ahyani menyebut, pasien terkonfirmasi positif Covid-19 lima orang. Dua orang masih dalam perawatan, satu orang sembuh, dan dua orang meninggal yang merupakan kasus lama. Jumlah PDP sebanyak 51 orang, terdiri dari 14 orang rawat inap, 28 orang sembuh, dan sembilan meninggal. Sedangkan jumlah ODP sebanyak 326 orang. Terdiri dari 170 dalam pemantauan, dan 156 selesai pemantauan.

“Angkanya memang stagnan. Yang PDP angka sembuh terus ada meski rawat inap juga bertambah,” katanya. (irw/bun/ria)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia