alexametrics
Kamis, 09 Jul 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Warga Ngadirojo Sembuh dari Covid-19

Lihat Hasil Lab yang Akhirnya Negatif, Dokter Ikut Menangis Bahagia

13 April 2020, 12: 40: 20 WIB | editor : Perdana

Menggunakan ambulans, P diantar pulang ke rumah, Sabtu (11/4). Dia diminta menjalani karantina mandiri selama 14 hari ke depan.

Menggunakan ambulans, P diantar pulang ke rumah, Sabtu (11/4). Dia diminta menjalani karantina mandiri selama 14 hari ke depan. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Share this      

Warga Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, P, ini benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal terhadap Covid-19. Laki-laki yang berprofesi sebagai sopir ekspedisi jurusan Bogor ini sudah dinyatakan sembuh dan diizinkkan pulang berkumpul bersama keluarga. Pengalaman tersebut tak akan dilupakan sepanjang hidupnya.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

CUKUP lama P memendam rindu bertemu keluarganya. Maklum saja, ketika menjalani isolasi di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri dia tidak diizinkan dijenguk karena virus korona mudah menular.

Bagaimana bisa tertular Covid-19? P pun tak bisa memastikannya. "Saya tidak tahu asal-usulnya dari mana,” jelasnya di sela jumpa pers di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri, kemarin (11/4).

Yang dia tahu, sebagai sopir ekspedisi, P sempat masuk ke perkampungan di Bogor mengambil barang untuk dibawa ke Wonogiri. Dia sempat menginap selama dua malam di Kota Hujan itu.

Tiga hari kepulangannya, P merasa pusing dan tenggorokannya sakit. Badannya juga demam. Dia lalu memeriksakan diri ke bidan di kampungnya lalu dirujuk ke RSUD dr Soediran Mangun Sumarso. P kemudian menjalani tes swab. Sambil menunggu hasil lab tes swab, pada 24 Maret, P kembali memeriksakan diri ke puskesmas. Dia sudah merasa sehat. Keesokan harinya, hasil uji swab dari Balitbangkes terbit. P dinyatakan positif Covid-19.

Dia segera dijemput petugas medis dengan alat pelindung diri (APD) lengkap dan dibawa ke ruang isolasi RSUD dr Soediran Mangun Sumarso. "Ketika di ruang isolasi, saya tak ada keluhan apa-apa, sehat walafiat," paparnya.

Selama menjalani isolasi, dia tetap melakukan olahraga ringan di ruangan pada pagi dan sore. Tidak ada ramuan jamu khusus yang diminum. Menurut P, kesabaran dan doa membuatnya lekas sembuh.

 "Saya berpesan kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari Covid-19," ucapnya. Termasuk meminta warga ikut aktif membantu pemerintah memutus mata rantai penyebaran korona dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Bagi pasien dalam pengawasan (PDP), P mewanti-wanti tetap semangat dan tidak lupa berolahraga, menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar.

Meskipun telah diizinkan pulang, P tetap diminta melaksanakan karantina mandiri selama 14 hari ke depan. Dia memastikan akan mematuhinya.

Siang kemarin, P tak henti-hentinya bersyukur selama menjalani perawatan di ruang isolasi mendapatkan perawatan maksimal dari tenaga medis. 

Enny Sudaryati, dokter spesialis paru yang merawat P mengakui, semangat sopir ekspedisi ini untuk sembuh terus menyala-nyala.

"Pak P semangatnya luar biasa. Di akhir-akhir saya sempat takut kalau diisolasi terlalu lama bisa depresi," katanya. Itu mengingat hasil uji swab dari Balitbangkes butuh waktu tidak sebentar.

Setiap hari, Enny menanyakan apakah ada keluhan yang dirasakan P. Dia pun membebaskan P mengonsumsi menu makanan lebih dari porsi yang disediakan.

Selama menjalani perawatan di ruang isolasi, kebutuhan pribadi P disiapkan pihak rumah sakit. Di antaranya celana dalam. Itu agar P tak perlu mencuci pakaiannya.

Ketika hasil uji lab dari Balitbangkes keluar dan dinyatakan negatif Covid-19, Enny dan P sama-sama tak kuasa menahan air matanya. "Saya menangis, Pak P juga menangis," pungkasnya. (*/wa/ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia