alexametrics
Jumat, 29 May 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

Ilmuwan Matematika Blak-blakan Soal Strategi Ganjar Hadapi Covid-19

20 April 2020, 22: 19: 09 WIB | editor : Perdana

Pakar Matematika UNS Sutanto Sastroredja.

Pakar Matematika UNS Sutanto Sastroredja.

Share this      

SEMARANG – Pandemi Covid-19 ini juga menguji para pimpinan pemerintahan, bagaimana dalam mengambil kebijakan, bersikap, dan merespons situasi demi kebaikan masyarakatnya. Baik itu pimpinan dari tingkat negara, provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, desa, hingga RT.

Perpaduan cara tradisional dan ilmu pengetahuan menjadi jurus inti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam menangani Covid-19. Cara ini dinilai sangat ampuh, dengan bukti angka pasien terkonfirmasi positif di Jateng lebih rendah daripada provinsi besar lain. Jumlah yang sembuh pun lebih banyak dibanding yang meninggal. 

Cara tradisional pertama yang Ganjar lakukan adalah dengan memberi pemahaman langsung kepada masyarakat secara door to door. Selama satu bulan terakhir secara intens Ganjar keliling naik sepeda menemui masyarakat tiap hari. Cara tersebut menurut ahli matematika Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Sutanto Sastroredja memiliki efektivitas yang tinggi dalam menerapkan langkah preventif. 

"Karena setelah melakukan itu, Ganjar langsung menyebarkan di media sosial sehingga pembelajarannya bisa dinikmati masyarakat luas. Bukan hanya Jawa Tengah, tapi Indonesia. Bahwa korona ini bukan hanya membahayakan diri secara personal, tapi seluruh masyarakat secara nasional, bahkan global," kata Sutanto, Senin (20/4).

Langkah tradisional ini dibarengi dengan komunikasi intens dengan kepala desa di seluruh Jateng. Ganjar menularkan cara-cara dasar pencegahan sampai penanganan. Dengan cara itu, kata Sutanto, Ganjar sekaligus bisa mengumpulkan data sebanyak mungkin. Bahkan, bisa memiliki kaki tangan  sebanyak-banyaknya untuk ikut menyosialisasikan pencegahan Coid-19 hingga ke tingkat paling bawah masyarakat.

"Ganjar sangat memahami data dan kerja teknis di lapangan. Beliau orang yang cepat dan mau belajar. Termasuk bagaimana mengoperasikan PCR, VTM, Renagen dan lainnya, beliau sangat paham. Dalam eksplorasi data, beliau sangat paham," papar penyandang gelar doktor matematika dari Universitas Bordeaux itu.

Cara yang dilakukan Ganjar semakin efektif dengan suplai pengetahuan dari para ilmuwan yang sengaja Ganjar gandeng. Terakhir ada nama Hendro Wicaksono, ahli teknologi asal Indonesia yang sekarang mengajar di Jacob University Bremen dan mendapat gelar profesor 4.0 di Jerman.

Selain itu, Ganjar juga intens diskusi dengan ilmuwan lain di Indonesia, mulai dari ahli virus, ahli penyakit dalam, dokter gizi, ulama sampai ahli forensik. Bahkan untuk menganalisis kemungkinan persebaran dan jangka waktunya, Ganjar mengundang khusus ahli statistik. 

"Itu kan bukan ilmu beliau, tapi beliau sangat memahami. Beliau tidak segan tanya pada ilmuwan, itu hal yang sangat istimewa. Saya juga belum melihat pemimpin daerah lain melakukan hal serupa," katanya. 

Melihat upaya Ganjar tersebut, Sutanto pun tak heran jika jumlah pasien sembuh di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan. Data terakhir kasus Covid-19 di www.corona.jatengprov.go.id mencatat, jumlah positif Covid-19 sebanyak 363. 268 orang dirawat, 80 sembuh, dan 45 orang meninggal dunia. 

Namun demikian, Sutanto mengakui upaya yang telah dilakukan hingga saat ini memang belum cukup. Karena nyatanya sampai sekarang kasus Covid-19 di Jawa Tengah juga masih ada dan terus bertambah. 

Sutanto mengaku telah menghitung secara matematis sejak kasus Covid-19 masuk ke Indonesia. Menurut dia, sampai saat ini belum pernah mendengar rencana aksi penanganan Covid-19, minimal dalam jangka 100 hari. 

Padahal, jika ada kalkulasi waktu yang jelas, tahapan-tahapan pencegahan bisa dilakukan secara presisi. Bahkan, menurut penghitungannya jika upaya physical distancing dan karantina dilakukan dengan konsisten, maka pada 100 hari Covid-19 di Indonesia atau pada 10 Juni, pagebluk ini akan berakhir. 

"Ketika rencana aksi itu tidak ada, maka bersiaplah menghadapi ini semakin lama. Langkah selanjutnya yang mesti diambil adalah penanganan berbasis desa. Khususnya penerapan jaring pengaman ekonomi, sosial," pungkas Sutanto. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia