alexametrics
Jumat, 29 May 2020
radarsolo
Home > Jateng
icon featured
Jateng

Bentuk Satgas Jogo Tonggo, Ganjar: Jangan Ada Orang Mati Kelaparan!

22 April 2020, 21: 17: 49 WIB | editor : Perdana

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Share this      

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bakal membuat Satgas Jogo Tonggo di setiap RW. Gerakan ini memanfaatkan kekuataan solidaritas masyarakat untuk memantau dan menjaga tetangga masing-masing.

Ganjar menegaskan tidak ingin ada kejadian orang meninggal kelaparan karena pandemi di Jawa Tengah. Maka, setiap warga harus menengok tetangga terdekat. Jika ada yang kesusahan, agar melapor ke ketua RW untuk dicarikan solusi bersama.

“Orang desa terbiasa berbagi makanan, gotong royong membangun rumah, dan menjaga lingkungan dengan siskamling. Spirit ini kita ambil karena basis kekuatan utama Jawa Tengah adalah desa,” kata Ganjar.  

Diakui Ganjar, semangat mengggerakkan gotong royong di Jateng ini bukan hal yang baru dia lakukan. Namun, kali ini secara khusus dicanangkan lagi dengan nama Jogo Tonggo disertai instruksi dan koordinasi lebih tegas. Penyiapan aturan ini diperkuat dengan masukan dari BNPB dan para pakar.

“Kita siapkan data dan pelibatan dari gugus tugas provinsi, bupati wali kota, camat, hingga kades dan RW yang lebih terkoordinir,” jelasnya.

Gerakan ini mancakup dua hal. Yakni jaring pengaman sosial dan keamanan berupa sosialisasi, pendataan, serta pemantauan warga. Serta jaring pengaman ekonomi, yang juga terdiri dua hal. Pertama, memastikan tidak ada satu pun warga yang kelaparan selama wabah Covid-19. Kedua, mengusahakan kegiatan ekonomi warga berjalan dengan baik pascawabah Covid-19.

Satgas beranggotakan tim kesehatan, tim ekonomi, dan tim keamanan.  Tiap Satgas Jogo Tonggo dipimpin ketua RW dan dibantu para ketua RT. Ketua satgas melaporkan kegiatan setiap hari kepada desa atau kelurahan

"Maka, lokalitas itu kita berikan ruang dan camat jadi supervisor. Kabupaten dan provinsi siap memberi support dan mengarahkan,” papar Ganjar.

Dia menargetkan pembentukan Satgas Jogo Tonggi ini bisa dilakukan dalam dua hari. Segingga bisa segera dibuatka  peraturan gubernur (Pergub).  

Menurut Ganjar, gerakan tersebut penting karena dampak dari pandemi ini kemungkinan akan terjadi banjir pengangguran dan langkanya bahan makanan. 

Untuk itu, perlu diciptakan gerakan hingga pemerintahan level paling bawah. Setiap desa harus memastikan kebutuhan pangan tercukupi. Serta mengimbau warga memulai menanam dan beternak sejak sekarang. Lumbung pangan juga harus mulai diadakan di setiap desa, bahkan RW. 

“Sekarang mulai menanam dari sayur mayur hingga apotek hidup di tiap pekarangan. Desa atau RW yang belum punya ikan mulai menebar benih, yang belum punya telur dan daging, mulai beternak ayam atau kambing,” papar gubernur.

Untuk itu, perlu juga dilakukan pemetaan potensi tiap desa. Dengan kekuatan dan keunggulan produk masing-masing desa, maka nantinya bisa dilakukan barter antardesa terdekat. Sehingga kebutuhan dasar masayarakat tercukupi.

Ganjar juga memikirkan keberlanjutan ekonomi pasca Covid-19. Dia meminta setiap desa menggunakan dana desa untuk membuat kegiatan usaha pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, gubernur meminta agar kegiatan padat karya tidak semua mengarah ke kegiatan fisik.

“Ada yang sifatnya berlanjut. Perikanan, peternakan, konveksi, kerajinan, atau kuliner. Agar tidak sekali kegiatan, lalu selesai. Siapa tahu yang sekarang mudik tidak perlu kembali ke kota jika ekonominya sudah bagus dari pemberdayaan itu,” pungkas Ganjar. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia