alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Nasional
icon featured
Nasional

Pemerintah Diminta Pikirkan Optimalisasi Konsumsi Daging Ayam

Peternak Ayam di Ambang Kebangkrutan

26 April 2020, 12: 28: 55 WIB | editor : Perdana

Anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin.

Anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin.

Share this      

JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dan Bulog untuk mengembangkan potensi daging ayam sebagai alternatif pengganti sementara pemenuhan kekurangan daging sapi atau kerbau.

Sebelumnya, kata Hamid, pemerintah melalui Kementan dan Bulog sedang mengembangkan stok alternatif dari makanan pokok beras di masa wabah Covid-19 ini. Yakni berupa sagu, jagung atau singkong.

"Saat ini peternak ayam sedang dalam kondisi yang sangat kritis pada kelangsungan proses usahanya. Keadaan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 2018 atau sekitar dua tahun, di mana harga ayam hidup (livebird) terus anjlok. Bahkan, harganya berada di level Rp 5.000- Rp 10.000 per kg. Ini jelas sudah tidak masuk akal pada proses dunia usaha yang modalnya berupa pakan dan segala perawatan dibanding hasil panennya", jelas Hamid.

Politisi PKS ini membandingkan pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020, harga ayam di tingkat peternak seharusnya berada di level Rp 19.000- Rp 21.000 per kg. Dengan harga di tingkat peternak yang rata-rata sampai Rp 7.000, telah memicu para peternak melepaskan ayam-ayamnya agar mencari makan sendiri karena para peternak ini sudah tidak sanggup memberi makan hewan ternaknya.

Menyelamatkan para peternak ayam yang secara bersamaan juga memenuhi kebutuhan daging masyarakat, menurut Hamid, akan menjadi kebijakan yang bisa menyelamatkan para peternak. Menutup celah impor daging sapi dan kerbau menjadi kebijakan penting. Sehingga masyarakat dapat mulai teredukasi bahwa ketika tidak ada daging sapi, masih ada daging ayam yang harganya wajar.

"Pemerintah saat ini sangat urgen untuk menyelamatkan peternak ayam. Solusi jangka pendek adalah jangan ada impor daging dari luar, dan bantu para peternak untuk dapat pakan yang masuk akal. Mereka menyerah bukan hanya ayamnya tidak terserap, tapi terlalu murah dibandingkan dengan biaya produksi berupa pakan yang tinggi," ucap Hamid.

Legislator PKS dari Jateng IV ini menambahkan, pemerintah memang telah bekerja sama dengan 15 perusahaan yang bersedia menyerap ayam peternak, masing-masing sebanyak 4 juta ekor ayam. Namun, hal itu masih belum merata menjangkau para peternak, terutama di daerah-daerah.

Saat ini sudah banyak usaha peternak ayam berskala UMKM yang bangkrut. Bahkan, mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja-pekerja mereka.

"Saya berharap refocussing anggaran kementerian bekerja sama pemda-pemda mampu membuat terobosan penyelamatan para peternak ayam ini. Kementan perlu berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk membertimbangkan pembatasan impor daging, yang akan membantu meningkatkan permintaan daging ayam sebagai pemenuhan kekurangan daging sapi atau kerbau sebagai alternatif," tandas Hamid. (ria)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia