alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Kesehatan
icon featured
Kesehatan

Ini Cara Jaga Lambung Tetap Sehat selama Puasa

Berbuka Jangan Langsung Makan Berat

29 April 2020, 12: 02: 48 WIB | editor : Perdana

Pedagang takjil menjamur di kawasan Stadion Manahan, kemarin (28/4). Menu takjil seperti sirup buah bisa menjadi pilihan tepat untuk berbuka puasa.

Pedagang takjil menjamur di kawasan Stadion Manahan, kemarin (28/4). Menu takjil seperti sirup buah bisa menjadi pilihan tepat untuk berbuka puasa. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SERINGKAH kita berbuka puasa dengan makanan berkarbohidrat tinggi, seperti nasi? Apalagi saat buka puasa bersama. Namun, ternyata buka puasa dengan makanan ”berat” bisa memicu asam lambung lho. Berikut penjelasannya,

Meski tahun ini buka bersama tidak diperbolehkan, ada baiknya mengatur pola makan berbuka yang sehat dan bergizi. Apalagi puasa kali ini di tengah pandemi Covid-19. Di mana virus korona menyerang imunitas tubuh. Sehingga menjaga pola berbuka dan mengonsumsi menu sehat sangat penting. 

Dosen Program Studi (Prodi) Gizi Institut Teknologi Sains (ITS) PKU Muhammadiyah Surakarta Retno Dewi Noviyanti mengatakan, kebiasaan berbuka dengan menu berat tidak baik untuk kesehatan lambung. Bahkan, bisa memicu asam lambung naik. Serta membuat perut terasa penuh atau begah.

”Menyegerakan berbuka puasa sangat baik. Namun, perut juga memerlukan adaptasi. Karena seharian perut kita sudah kosong. Sehingga ketika berbuka, lebih baik yang ringan-ringan dulu. Agar perut tidak kaget,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (28/4).

Rasa kenyang dan begah pada perut memang sering ditemui pascaberbuka puasa. Hal tersebut karena lambung belum siap menerima asupan makanan berat. Yang kemudian memicu naiknya asam lambung. Tentu hal tersebut sangat mengganggu. Meski di tengah pandemi Covid-19, berbuka puasa tetap harus menu sehat dan bergizi.

”Di tengah pandemi ini, masyarakat harus berbuka dengan makanan sehat dan bergizi. Agar imunitas tubuh tetap terjaga. Selain itu, minum air putih sesuai anjuran kesehatan sangat penting. Dan yang terpenting mengatur pola makan ketika berbuka puasa,” imbuh alumni S2 Gizi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini. 

Retno mengatakan, menu berbuka jug harus seimbang. Yakni makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin mineral, dan lainnya. Jangan sampai ketika berbuka puasa menghindari sayur ataupun buah. Apalagi buah dan sayur menjadi sumber vitamin dan mineral serta berserat tinggi.

”Ada beberapa makanan yang harus diperhatikan ketika berbuka. Seperti jangan berlebihan memakan gorengan dan santan. Keduanya mengandung lemak yang memperberat kerja lambung," urainya. 

Efeknya, memakan makanan mengandung lemak membuat cepat kenyang. Sehingga menjadi enggan untuk memakan makanan lainnya. Alhasil asupan seimbang, seperti karbohidrat, protein, vitamin mineral, dan lainnya luput terserap tubuh. Selain itu, makanan mengandung lemak berisiko menimbulkan kegemukan.

”Sehingga menu-menu yang berpotensi mengandung lemak, lebih baik dimasak dengan cara lain atau divariasi pengolahannya. Seperti dipepes atau digadon (dimakan langsung,Red). Dan terpenting jangan berlebihan ketika berbuka puasa," imbuhnya.

Selain itu, dalam sehari tubuh membutuhkan 2 liter air atau setara dengan delapan gelas air. Sehingga masyarakat bisa menerapkan pola minum air putih. Yakni satu gelas ketika berbuka puasa, empat gelas ketika makan utama, dan dua gelas ketika sahur. Dengan begitu, kebutuhan air bisa terpenuhi.

”Kebutuhan air sangat penting. Agar tubuh tidak mengalami dehidrasi ketika berpuasa. Dan jarak antara makan utama dan tidur harus dijaga. Yakni sekitar 30 menit. Kalau makan langsung tidur bisa memicu asam lambung dan obesitas," tandas perempuan asli Bojonegoro, Jawa Timur ini. (rgl/adi/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia