alexametrics
Kamis, 02 Jul 2020
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

88 Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti Assessment di PPDB Tahun Ini

14 Mei 2020, 12: 15: 00 WIB | editor : Perdana

Petugas melakukan assessment kepada ABK yang akan masuk SD dan SMP di UPT  Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Kota Surakarta, Rabu (13/5).

Petugas melakukan assessment kepada ABK yang akan masuk SD dan SMP di UPT Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Kota Surakarta, Rabu (13/5). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Proses assessment terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) terkait penerimaan peserta didik baru (PPDB) mulai dilakukan kemarin (13/5). Sebanyak 88 anak akan mengikuti proses ini di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Kota Surakarta.

Kepala UPT Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi Kota Surakarta Hasto Daryanto mengatakan, assessment merupakan bagian dari PPDB jalur afirmasi bagi ABK. Mulai dari TK ke SD maupun dari SD ke SMP. Sedikitnya ada 88 ABK dijadwalkan mengikuti assessment pada PPDB tahun ini. 

“Ini bagian dari PPDB sebelum online. Assessment ini dilakukan 13-20 Mei bagi 88 ABK di Solo. Setiap hari maksimal 15 anak,” jelas dia saat di temui di ruang kerjanya, Rabu (13/5) siang.

Dalam kegiatan assessment ini, ABK akan mengikuti berbagai rangkaian tes untuk melihat kemampuan masing-masing anak. Mulai dari psikotes, observasi hingga wawancara bersama pihak orang tua. 

“Assessment psikotes untuk memetakan perkembangan kognitif anak. Observasi dan keterampilan terpadu untuk melihat perkembangan fisik motorik bahasa dan wicara. Wawancara dan isian data untuk melihat latar belakang kebutuhan khusus seorang anak. Serta tes untuk melihat kemampuan sosial dan emosional anak,” terang dia.

Pihaknya menegaskan assessment itu bukan untuk menyeleksi, melainkan hanya sebatas memetakan potensi seorang ABK. Tujuannya agar saat seorang ABK sudah memulai pembelajaran, pihak sekolah memiliki kesiapan dalam penanganan maupun materi pelajaran yang diberikan. Hasil assessment akan menunjukkan detail kemampuan ABK mulai dari intelektual, fisik, mental, dan lainnya. 

“Berdasarkan peta potensi ini anak akan diarahkan salah satu sekolah inklusi di Kota Solo. Namun kalau hasilnya tak cukup baik, maka akan diarahkan ke sekolah luar biasa,” jelas Hasto.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Etty Retnowati menambahkan, kegiatan ini sudah dilakukan kali ketiga hingga tahun ajaran baru ini. Pihaknya sengaja melakukan assessment agar pelayanan dan materi pendidikan yang diberikan pada ABK bisa lebih tepat.

“Sepertinya yang seperti ini baru Kota Solo. Tiga tahun ini memang sengaja mengembangkan pendidikan sesuai kebutuhan dan potensi anak,” jelas dia.

Berdasarkan data terakhir ABK di Kota Solo tahun pelajaran  2016/2017 untuk jenjang TK, SD, dan SMA, jumlah ABK di Solo mencapai 1.028 siswa. Mulai 2018 lalu dimulai kebijakan baru yang mengarah pada pembelajaran sesuai kebutuhan dan potensi seorang ABK.

“Manfaatnya peta potensi anak bisa terlihat lebih jelas sehingga orang tua bisa memilih pola asuh yang lebih tepat. Sekolah juga bisa membantu dalam mengambil kebijakan terkait kurikulum atau menambah pendidik yang diperlukan, sehingga ABK yang menuntut ilmu di sekolah itu makin berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki,” tutur Etty. (ves/bun/ria)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia