alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Dukungan Sosial Di Masa Korona

18 Mei 2020, 17: 36: 01 WIB | editor : Perdana

Dukungan Sosial Di Masa Korona

Dunia tempat hidup kita saat ini mengalami kejadian yang mengungkung hidup semua manusia sehingga tidak bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. Corona virus disease 19 (Covid19) menjadi penyebab dari semua ini. Kejadian yang mendadak dan penyebaran yang masif, ditambah publikasi besar-besaran dari media masa dan media sosial menyebabkan terjadinya gejolak di masyarakat bawah.

Kita bersama menyaksikan bagaimana masyarakat beramai-ramai memadati swalayan sesaat setelah pengumuman kasus pertama, yang diikuti dengan langkanya sarana untuk menjaga kebersihan diri seperti masker dan handsanitizer. Hal ini kemudian memicu adanya kesulitan tim kesehatan di rumah sakit untuk bisa memperoleh alat-alat tersebut. 

Himbauan untuk menjaga jarak dengan orang lain (social distancing) kemudian banyak memunculkan pro kontra. Pada perkembangannya kemudian masyarakat ada yang memaknai dengan menjauhi mereka yang sudah divonis penderita atau yang pernah berinteraksi dengan penderita. Mulai dari menolak kehadiran mereka yang pulang kampung, mengusir para perawat dan dokter dari rumah kontrakannya, bahkan hingga menolak penguburan pasien yang meninggal.

Semua hal tersebut menunjukkan kejadian ini menihilkan dukungan sosial di masyarakat. Individu lebih mementingkan kepentingan pribadinya, dan sebaliknya mengabaikan kepentingan orang lain dan kepentingan umum. Hilangnya dukungan sosial terhadap penderita dan keluarganya memunculkan perasaan kesepian (loneliness), kondisi di mana individu merasa tidak puas dengan relasi interpersonal berupa hilang atau berkurangnya kehadiran teman atau orang lain dalam kehidupannya. 

Kondisi kesepian sangat mungkin dialami oleh para penderita, keluarga dan tenaga kesehatan yang mengalami beragam perlakuan dari masyarakat tersebut di atas. Kondisi yang mungkin tidak sempat dipikirkan oleh masyarakat luas di tengah simpang siurnya beragam informasi. Masyarakat fokus pada kepentingan diri dan keluarganya, dan tidak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Bisa dibayangkan oleh kita, seandainya diri ini kehilangan teman atau tetangga di saat sangat membutuhkan maka yang ada adalah rasa sedih, kecewa, marah, putus asa, kehilangan harapan. Bahkan dalam beberapa kasus kesepian sampai muncul keinginan untuk bunih diri. Beberapa literatur sudah menyebutkan hal ini sejak tahun 1930-an melalui karya Zilboorg dan beberapa waktu kemudian diikuti ahli lain seperti Sullivan pada tahun 1950-an yang hingga sekarang masih relevan.

Masyarakat tidak pernah terpikir, bisa jadi juga karena lemahnya teladan maupun pendidikan karakter keterampilan sosial dari pemerintah. Masyarakat meniru apa yang ditunjukkan aparat, melakukan apa yang pernah diajarkan di sekolah. 

Untuk itulah, kiranya dibutuhkan upaya untuk menggerakkan kembali dukungan sosial pada saat-saat seperti sekarang ini. Istilah social distancing jangan dimaknai menjauhkan individu dari lingkungan sosialnya, namun sebatas menjaga jarak saat berkumpul. 

Dukungan sosial sudah terbukti mampu menjadi faktor utama individu dalam melakukan coping terhadap kondisi stres sehingga individu menjadi lebih sehat lagi. Hal ini sudah diteliti sejak tahun 1966 oleh Lazarus, dan kemudian dikembangkan oleh banyak ahli lain seperti Gottlieb dan Heller tahun 1980 an, yang sekali lagi hal ini juga masih relevan hingga sekarang. Dukungan sosial akan menngkatkan harga diri dan identitas diri. Dukungan sosial juga menguatkan motivasi, kepercayaan diri serta optimisme yang menjadi unsur utama proses penyembuhan diri.

Masyarakat digerakkan kembali dukungan sosialnya dengan memberikan ruang yang cukup bagi tim kesehatan untuk bisa mengakses material yang mereka butuhkan, sehingga tidak perlu berlebihan dalam membeli masker, handsanitizer atau bahkan alat pelindung diri (APD) yang justru sangat dibutuhkan rumah sakit. Hal ini membutuhkan kemauan baik dari para produsen dan distributor dari semua peralatan tersebut, didukung oleh regulasi pemerintah yang ketat. 

Masyarakat juga dapat memberikan dukungan sepenuhnya bagi tim kesehatan dengan mencukupi kebutuhan hidupnya & keluarga. Mereka sudah mendedikasikan waktunya untuk rumah sakit dan sejenak melupakan keluarga. Meskipun sempat pulang tidak leluasa karena setiap saat harus siap kembali ke rumah sakit, bahkan banyak yang tidak sempat pulang. Apalagi kemudian beberapa tenaga kesehatan tersebut justru terpapar virus hingga meninggal, sehingga kondisi keluarga menjadi sangat membutuhkan dukungan. Berikan kemudahan dalam memperoleh kebutuhan hidup, seperti mengirimkan bahan makanan pokok atau makanan siap saji. Hindarkan rasa jijik dan takut kepada mereka, sebaliknya berilah tempat untuk melakukan isolasi diri yang nyaman di rumah / kontrakan mereka. Hal ini tentu membutuhkan kemauan bersama dari segenap elemen masayrakat.

Mereka yang meninggal beserta keluarganya juga membutuhkan dukungan sosial. Jangan menolak penguburan, justru berikan perhatian dan bantuan yang memadai yang bisa dilakukan. Dukungan masyarakat di Lampung Barat yang ikut menyiapkan penguburan bagi pasien yang meninggal perlu ditiru. Tanpa meninggalkan protokol kesehatan, dukungan tersebut sangat berarti bagi keluarga pasien yang meninggal. Mereka akan merasa sangat terbantu, teringankan beban kesedihannya. Hal ini akan mempercepat pulihnya kondisi berkabung sehingga membantu mempercepat proses isolasi diri menyembuhkan anggota keluarga yang juga dicurigai terpapar. 

Perantau yang pulang kampung juga tidak perlu ditolak dengan memasang portal di pintu masuk kampung. Terimalah dengan seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, beri kesempatan pada mereka untuk mengisolasi diri membuktikan kesehatannya. Sebaliknya, mereka yang sedang pulang kampung tetap perlu merasa aman dan nyaman. Beri dukungan dengan ikut menjaga rumah yang ditinggalkan. 

Dukungan ini sekali lagi membutuhkan kesadaran, kemauan baik dan peran nyata pemerintah. Tanpa adanya gerak pemerintah maka masyarakat tidak akan optimal dalam memberikan dukungan sosial. Dengan bersama-sama, maka dukungan sosial akan optimal dalam membantu proses pencegahan dan penyembuhan mereka yang terpapar virus ini. 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia