alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Mahasiswa S3 Asal Klaten Menikmati Puasa 17 Jam di Austria

Kangen Buka Bareng dan Suara Azan Masjid

19 Mei 2020, 16: 00: 52 WIB | editor : Perdana

Imam Fitri Ramadi harus menjalani puasa dengan durasi lebih lama di Austria.

Imam Fitri Ramadi harus menjalani puasa dengan durasi lebih lama di Austria. (DOKUMEN PRIBADI)

Share this      

Austria dikenal negara yang ramah dengan umat Islam. Terletak di Eropa Tengah, negara ini memiliki waktu puasa sangat panjang. Berkisar 16 sampai 17 jam. Pengalaman ini dialami mahasiswa asal Klaten, Imam Fitri Ramadi. Seperti apa ceritanya?

RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo

BARU kali pertama Imam menjalani puasa Ramadan di Austria. Saat ini dia menuntut ilmu S3 di Department of STEM Education, Linz School of Education, Johannes Kepler Universität Linz, Austria. Meski tinggal di kota ketiga terbesar di Austria, masih jarang dijumpai warga Indonesia. 

Menjalani puasa di Austria diakui Imam memiliki tantangan tersendiri. Baru kali ini dia menjalani durasi puasa relatif lebih panjang dibandingkan di Indonesia. Apalagi semua dilakukan mandiri di apartemennya. Akibat pandemi Covid-19. 

“Selain itu, puasa di sini harus sangat mandiri. Tidak ada suara dari toa masjid atau rombongan anak-anak main drumband ala kadarnya untuk membangunkan orang sahur. Tidak ada suara azan sebagai penanda Maghrib dan buka. Yang pasti juga harus masak sendiri buat sahur dan buka karena tidak ada yang menjual semacam takjil ketika sore hari,” ungkapnya dari seberang telepon, beberapa waktu lalu. 

Semakin mendekati akhir Ramadan, maka durasi puasa juga semakin panjang. Pada awal Ramadan waktu imsak pukul 03:50 dan buka puasa pukul 20:00.  “Sekarang sudah hari ke-22 Ramadan. Waktu imsak menjadi pukul 03:34 dan buka pukul 20:35. Saya lihat di jadwal, besok hari terakhir Ramadan, imsak pukul 03:17 dan buka pukul 20:45. Jadi semakin panjang. Dan sekarang sedang musim semi. Sehingga cuaca cenderung sejuk dan lumayan sering turun hujan ringan,” imbuh dosen Universitas Pamulang ini. 

Menurut Imam, penerimaan warga lokal terhadap muslim sangat baik. Selama enam bulan tinggal di Linz, Imam belum pernah menemukan pandangan negatif terhadap suatu agama tertentu. Keberagaman dan toleransi sangat dijunjung tinggi. Termasuk dalam beragama. Sedangkan dalam urusan berbuka dan sahur tidak terlalu sulit bagi Imam menemukan toko yang menjual bahan makanan halal. 

“Makanan untuk berbuka biasanya saya makan buah, roti, dan pizza. Minumnya bervariasi, mulai dari jus, susu, hingga teh manis. Untuk menu makanan berat, saya makan nasi dan sayur serta lauk hasil masak sendiri. Begitu juga untuk sahur, tetap makan nasi dan lauk hasil masakan sendiri,” katanya. 

Tradisi Ramadan di Indonesia yang biasanya ada es cendol dawet lengkap dengan aneka gorengan diganti dengan makan buah-buahan dan roti. Imam menganggap makan pengganti itu justru lebih sehat. Bahan dan  makanan halal masih mudah ditemukan. Meski hanya toko tertentu saja yang menjual. Sejak diberlakukan pembatasan akibat Covid-19, Imam hanya bisa keluar untuk membeli bahan makanan saja.  

“Kalau makanan halal tidak ada di supermarket-supermarket Austria. Biasanya, makanan halal bisa ditemukan di toko Asia atau toko Turki di sini. Apalagi di sini sendirian karena belum bisa ajak anak istri. Sebab, ketentuan beasiswa baru boleh bawa keluarga nanti di tahun kedua," katanya. 

Akibat pandemi Covid-19 seluruh kegiatan dan ibadah dilakukan Imam di rumah. Seperti salat fardu, baca Alquran dan salat Tarawih yang dilakukan di kamar. Salat berjamaah hanya dilakukan sepekan sekali ketika salat Jumat. Imam akan pergi ke masjid Turki di tengah kota yang bernama Islamic Centre. Bentuknya seperti bangunan rumah biasa. Tidak berbentuk seperti masjid kebanyakan. 

“Hanya ada satu masjid yang memang bentuknya seperti masjid di Austria adanya di Islamic Centre Vienna. Namun, semenjak pandemi Covid-19 sekitar pertengan bulan Maret lalu hingga saat ini salat Jumat ditiadakan,” katanya. 

Imam mengaku ada tiga masjid di Kota Linz. Namun, Imam biasanya pergi ke satu masjid di tengah kota. Kebanyakan masjid-masjid yang ada di Linz adalah masjid Turki. Sehingga tiap khotbah Jumat yang digunakan bahasa Turki. Imam mengatakan ada satu masjid Indonesia bernama Masjid As-Salam Wapena di Austria. Namun, letaknya di Ibukota, Wina. Meski arsitekturnya tetap seperti bangunan rumah. 

“Kondisi di sini sudah membaik dan sangat terkontrol karena semua warga tertib dan taat dengan aturan pemerintah. Ketika social atau physical distancing diberlakukan, semua orang langsung berada di rumah saja. Termasuk saya, terhitung sudah 2 bulan lebih berkegiatan di kamar student dormitory saja. Keluar hanya untuk beli kebutuhan di supermarket dan sesekali jalan-jalan olah raga sedikit di sekeliling kampus,” terangnya. 

Kampus tempatnya belajar masih ditutup hingga akhir semester. Dan terpantau beberapa toko kecil sudah mulai buka awal bulan Mei ini. Data terbaru yang diterima Imam dari KBRI/PTRI Wina, saat ini di Austria terdapat 16.014 jumlah kasus positif Covid-19. Dinyatakan sembuh 14.405 orang dan 626 orang meninggal dunia. Jumlah kasus per hari sudah sangat kecil, yaitu rata-rata di bawah 0,25 persen.

“Momen berjamaah yang sangat saya dirindukan di Indonesia. Maksud saya, bukan hanya berjamaah dalam salat fardhu atau Tarawih, namun juga berjamaah saat berbuka dan sahur, berjamaah ngabuburit, dan berjamaah lainnya. Kehidupan di luar negeri, terutama di tempa saya berada saat ini, semua orang sangat mandiri. Jadi, kehidupan keseharian lebih banyak dilakukan sendiri-sediri,” imbuhnya. 

Demi mengobati kerinduan dengan kampung halaman, Imam akan mengirim komentar di media sosial dengan teman-teman di Indonesia. Melakukan video call rutin dengan keluarga, setidaknya sepekan sekali. “Juga masak masakan Indonesia cukup mengobati kangen dengan Indonesia,” ujarnya. (*/bun/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia