alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Boyolali
icon featured
Boyolali

Warga Senting "Kecolongan",Jenazah dari Jakarta Ternyata Positif Covid

Terlanjur Dimakamkan dengan Cara Umumnya

20 Mei 2020, 09: 02: 34 WIB | editor : Perdana

iksaan tes swab di Rumah Sakit Darurat Covid," kata Kepala Dinas Kesehatan Boyolali Ratri S. Survivalina

iksaan tes swab di Rumah Sakit Darurat Covid," kata Kepala Dinas Kesehatan Boyolali Ratri S. Survivalina (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Kejadian di Desa Senting, Kecamatan Sambi ini bisa menjadi pembelajaran untuk lebih hati-hati di masa pandemi Covid-19. Belum lama ini, Desa Senting kedatangan jenazah dari Jakarta dan telah dimakamkan seperti biasa. Namun, belakangan baru ketahuan jika jenazah tersebut terkonfirmasi positif Covid.

"Ini menjadi permasalahan di Boyolali. Kita lakukan tracking dan pemantauan kontak eratnya. Khusus yang langsung membuka tali kafan jenazah, saat ini kita agendakan untuk pemeriksaan tes swab di Rumah Sakit Darurat Covid," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S. Survivalina, kemarin. 

Menurut Lina, kasus pembukaan jenazah itu sudah banyak diketahui masyarakat. Karena informasi itu sudah menyebar melalui media sosial. Di mana ada satu kiriman jenazah dari Jakarta yang dimakamkan di kampung halaman di Desa Senting, Kecamatan Sambi.

Awalnya, warga tak mengira bahwa jenazah berinisial SP itu ternyata terpapar Covid-19. Karena memang almarhum sudah berusia lebih dari 78 tahun. Warga pun menduga SP meninggal biasa. Warga pun memperlakukan jenazah seperti lazimnya. Alias tanpa protap Covid.

"Sebenarnya juga langsung dimakamkan. Hanya saja tidak menggunakan protokol Covid.  Saat di liang lahat, jenazah dilakukan pembukaan tali kafan," tutur kepala dinas yang akrab disapa Lina itu. 

Setelah dimakamkan, dua hari kemudian dari rumah sakit di Jakarta menginformasikan bahwa almarhum SP diketahui positif Covid-19. Untuk itu, seluruh kontak erat dengan jenazah dilakukan pemantauan. Mayoritas kontak erat dengan jenazah tersebut merupakan keluarga sendiri.

"Dari 19 kontak eratnya, hanya dua orang yang ber-KTP Boyolali. Selebihnya ber-KTP Jakarta," ujar Lina.

Meski begitu, seluruh kontak erat dengan jenazah langsung dilakukan pemantauan. "Mudah-mudahan hasilnya nonreaktif," pungkasnya. (wid/ria)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia