alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Mahasiswa Hukum Unisri Dipolisikan, Diduga Selewengkan Ratusan Juta

20 Mei 2020, 10: 00: 55 WIB | editor : Perdana

Ilustrasi

Ilustrasi (IRECK OKTAVIANTO/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Diduga melakukan penyelewengan dana hingga ratusan juta rupiah, panitia Lawfest Journey Volume III dipolisikan. Pasalnya panitia yang berasal dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi (Unisri) ini melanggar kontrak dengan pihak pemberi dana yang diketahui bernama Kaleb Aditya Bimantara, 25, warga Grogol, Sukoharjo.

Kuasa hukum pengadu, Farid Hasbi mengatakan, dana yang diduga digelapkan mencapai Rp 353 juta. Dana tersebut dikeluarkan kliennya untuk mendanai festival musik yang terselenggara 29 Juni 2019 silam.

“Jadi dari pihak teradu mendatangi klien kami. Kemudian minta bantuan dana. Setelah dilakukan pengajuan, disetujui nominal tersebut. Sebenarnya kerja sama ini sudah pernah dilakukan pada festival sebelumnya, namun pada saat itu panitianya bagus. Dalam arti hak dari klien kami dikembalikan, baru kali ini tidak,” tutur dia, kemarin.

Farid mengurai, dari keterangan kliennya, uang tersebut digunakan untuk fee lima artis ibukota yang menjadi tamu udangan. Serta menanggung biaya transportasi darat maupun udara dan akomodasi selama event berlangsung.

“Artisnya itu antara lain Marion Jola, Kahitna, Kunto Aji, PeeWeeGaskins, serta Navicula,” katanya.

Perjanjian antara pengadu dan teradu sendiri, yakni pihak panitia berjanji mengembalikan uang yang telah menjadi modal bila tidak ada keuntungan dari event tersebut. Namun alih-alih uang kembali, panita malah tidak menunaikan kewajibannya. Dari perjanjian, waktu pengembalian adalah satu bulan pasca-acara.

“Tapi ketika klien kami bertanya soal haknya, panitia selalu berbelit-belit. Jangankan uang, LPj (laporan pertanggungjawaban) saja klien kami tidak dapat. Padahal acara tersebut dapat terselenggara sukses,” katanya.

Sebelum diadukan ke pihak yang berwajib, lanjut Farid, kliennya sudah mencoba jalur kekeluargaan. Yaitu bermediasi dengan panita, sejak Agustus tahun lalu. Bahkan mediasi juga dilakukan dengan perwakilan kampus yang berlokasi di Jalan Sumpah Pemuda itu.

Sedikitnya ada empat kali dilakukan mediasi antara pengadu, teradu, dan pihak kampus. Mediasi terakhir dilakukan pada Febuari lalu. Namun, tak pernah medapatkan hasil. Kaleb selalu mendapat janji tanpa realisasi. Malah, ketua panita acara tersebut terkesan menghindar.

Lantaran tak kunjung ada titik temu atas permasalahan tersebut, Kaleb akhirnya mengadukan hal tersebut ke Satreskrim Polresta Surakarta, Maret silam dengan nomor aduan:  STBP/168/III/2020/Reskrim.

Dikatakan Farid, dari hasil Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) nomor SP2HP/310/IV/Res.1.1 1/2020/Reskrim yang diterima pihaknya, satreskrim sudah melakukan porses klarifikasi HS, SS, MWN, RMR, dan BGG yang merupakan panitia acara. Sedangkan RTP sebagai ketua panitia meminta penundaan klarifikasi hingga 2 Juni 2020 mendatang.

“Sebenarnya untuk ketua ini orang Solo juga, bukan luar kota. Tapi saya kurang tahu juga kenapa harus menghindar,” ucap Farid.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Surakarta AKP Purbo Anjar Waskito mengatakan, sudah ada beberapa orang yang dimintai klarifikasi atas aduan tersebut. Dan, masih ada beberapa orang lagi yang akan dimintai klarifikasi.

"Setelah itu, akan kita sampaikan kepada pengadu. Apakah nanti akan berlanjut ke tingkat selanjutnya, itu tergantung pengadu. Apakah akan membuat laporan atau tidak,” pungkasnya. (atn/ria)


(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia