alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features
Tebar Optimisme di Tengah Pandemi

Tokoh di Laweyan Ciptakan Batik Corak Covid, Pola Punya Makna Mendalam

20 Mei 2020, 16: 33: 12 WIB | editor : Perdana

Perajin di Kampung Batik Laweyan ini menggambar pola batik di atas kain putih kemarin (19/5).

Perajin di Kampung Batik Laweyan ini menggambar pola batik di atas kain putih kemarin (19/5). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Sektor pariwista dan perdagangan adalah contoh yang paling terpukul pada masa pandemi Covid-19. Agar terus survive, perajin batik Laweyan ini membuat terobosan dengan membuat batik korona. Dari mana idenya? 

RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo 

JARI-jemari pria parobaya ini dengan telaten mencelupkan selembar kain putih yang telah dilukis dengan lilin. Lilin warna cokelat keemasan tersebut membentuk garis pola unik. Dengan bulatan dan titik kecil serta bentuk menggelembung layaknya virus korona (Covid-19). Selain itu, terlihat garis-garis yang saling menghubungkan antar gelembung tersebut.  

Batik corak Covid-19 punya makna yang mendalam di tengah pandemi.

Batik corak Covid-19 punya makna yang mendalam di tengah pandemi. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Di ruangan yang hampir terletak di tengah rumah ini, bekas tumpahan lilin berjajar. Alat hand mangel batik juga terpajang di timur ruangan. Di sini salah satu pekerja di Batik Mahkota Kampung Laweyan ini tengah asyik membatik pola. Dilanjutkan dengan pewarnaan batik korona dengan pakem Batik Soga Solo. 

“Ide ini muncul karena Covid-19 ini sangat memengaruhi dunia pariwisata dan perdagangan. Apalagi batik menjadi komoditi tak terpisahkan dengan pariwisata. Kami mencoba agar bisa tetap bertahan selama masa pandemi ini. Karenanya kami buat corak batik corona ini," ungkap pemilik Batik Mahkota Laweyan Alpha Febela Priyatmono, kemarin (19/5). 

Alpha mengamini bencana Covid-19 bukan sesuatu yang bisa ditolak. Banyak sektor industri pariwisata dan perajin batik yang mulai kesulitan, bahkan kolaps. Alpha mengaku tetap menaruh harap dan optimistis. Agar bisnis kerajinan batik bisa bangkit dan tidak terpuruk. Alpha lantas mendiskusikan hal tersebut dengan perajin batik tulis serta pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

“Ide tersebut kami diskusikan untuk tetap bertahan dan menyesuaikan kondisi ini. Sisi positif Covid-19 ini kita lebih bisa berkumpul dengan keluarga. Ini bisa kami tuangkan dalam bentuk pola batik. Dan kebetulan ada pemesan dari Jakarta yang minta batik korona. Lalu ada keinginan merealisasikannya,” katanya. 

Setelah sepekan pembuatan beberapa pola batik, akhirnya dipilih satu. Pola yang dipilih mencerminkan gambar adanya virus Covid-19 cukup besar. Gambar virus tersebut kemudian saling terhubung satu sama lainnya. Dan membuat sekat-sekat. Di dalam sekat terdapat bulatan dan titik-titik kecil yang menggambarkan orang dalam keluarga. 

“Kami mengambil makna positif dari Covid-19. Di mana banyak keluarga yang tersekat-sekat. Mereka terbatasi geraknya. Meski masih bisa berhubungan lewat media internet. Namun, sisi positifnya Covid-19 ini justru lebih mendekatkan keluarga, homey dan saling kontrol serta mengisi. Berbeda sebelum ada bencana pandemi ini,” katanya. 

Alpha menambahkan sisi positif lainnya agar meningkatkan semangat sesama usaha mikro kecil menengah (UMKM), termasuk perajin batik. Agar tetap berkembang dan berinovasi serta beradaptasi dengan kondisi pandemi. Dengan menumbuhkan nilai positif mulai dari diri sendiri, keluarga dan bisa menularkan ke masyarakat luas. 

Proses pembuatan batik tulis korona ini membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Dengan dua pekerja untuk penjiplakan pola dan pewarnaan. Apalagi dibutuhkan ketelitian tinggi dan pembuatan pola yang sesuai pakem batik. Karena menganut pakem Batik Soga Solo, maka warna-warna yang dipilih dominan hitam dan cokelat. Serta tambahan warna merah dengan pinggiran pola cokelat keemasan. 

“Batik ini bisa untuk baju dan pakaian perempuan. Kami juga membuat masker batik. Kami berharap batik ini bisa untuk menyemangati diri sendiri. Agar bisa bangkit. Dan kekuatan itu muncul dari diri sendiri dan keluarga sendiri. Meski muncul dari lingkungan kecil keluarga, namun, bisa memengaruhi yang lain,” ujarnya. (*/bun/ria) 

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia