alexametrics
Jumat, 05 Jun 2020
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Memaknai Hari Fitri

22 Mei 2020, 16: 01: 58 WIB | editor : Perdana

H. Priyono, Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS dan Pengurus PP Muhammadiyah 2005-2015.

H. Priyono, Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS dan Pengurus PP Muhammadiyah 2005-2015.

Share this      

Oleh: H. Priyono

DI tengah pandemi Covid-19 ini, Ramadan sepertinya begitu cepat berlalu. Banyak hikmah yang bisa kita petik selama menjalankan ibadah puasa di Ramadan spesial ini. Sebab, kita harus menjaga jarak fisik dan membatasi mobilitas manusia. 

Bila setahun sebelumnya masjid sangat makmur jamaah baik internal maupun eksternal, bahkan masjid yang viral seperti Jogokaryan di Jogjakarta banyak tamu dari luar kota maupun luar Jawa yang menyempatkan iktikaf di sana, tahun ini suasana masjid amat berbeda. 

Pandemi Covid-19 menjadikan rumahku surgaku. Rumah bisa didesin seperti masjid, baik secara fisik maupun suasananya karena bisa dimanfaatkan untuk ibadah salat dan belajar ilmu agama secara intens. Allah SWT sedang menguji umatnya dengan cobaaan virus korona yang memporakporandakan sendi-sendi kehidupan yang berdampak langsung terhadap semua aspek kehidupan, terutama ekonomi. 

Perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta tentu mengalami dampak nyata, bahkan PTS kecil di Jakarta, 80 persen telah kesulitan menggaji dosen dan karyawannya sedang PTS besar di Jateng, baru 40-50 persen keuangan yang masuk alias uang masuk tertunda karena orang tua kesulitan bayar SPP. Bila hal ini berkepanjangan maka PTS kecil bisa kolaps.

 Kini kita telah berada di pengujung Ramadan. Dua hari lagi Hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M akan tiba. Kalau kita ikuti pemberitaan berbagai media, beberapa hari ini di pasar dan mal di berbagai daerah telah ramai dan berjubel dengan hiruk-pikuk masyarakat, meski penerapan social and physical distancing masih digalakkan oleh pemerintah. 

Masyarakat mulai berbelanja untuk kebutuhan hari raya yang tinggal sebentar lagi. Mereka mulai berani melonggarkan physical distancing karena pemerintah juga longgar bahkan menggelar konser amal yang dihadiri banyak orang, sebagaimana pepatah guru kencing berdiri, murid kencing sambil berlari dengan gigit jari.

Momen Hari Raya Idul Fitri di Indonesia memang menjadi saat yang sangat ditunggu-tunggu setiap tahun. Kerinduan terhadap momen ini terutama karena adanya berbagai tradisi seperti mudik, memakai baju baru, berhalal bi halal, dan biasanya saat hari raya segenap keluarga berkumpul, sungkeman dengan orang tua, lalu makan ketupat bersama keluarga dengan sukacita. Namun tahun ini, di tengah wabah yang belum kunjung usai, berbagai tradisi hari raya tersebut tak memungkinkan dijalankan. 

Hari raya tahun ini akan sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya, apakah jika tidak mudik, tidak berbaju baru, tidak salam-salaman halal bihalal, tidak makan ketupat, tidak sungkem kepada orang tua, berarti tidak berhari raya Idul Fitri? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tengok apa makna dan hakikat Idul Fitri itu sebenarnya. Kita mulai dari arti bahasanya. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu yang artinya “kembali”. Hari raya ini disebut ‘id karena hari raya terjadi diadakan secara berulang-ulang atau “kembali” dimeriahkan setiap tahun pada waktu yang sama. 

Sedangkan kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru yang artinya “berbuka” atau “tidak berpuasa”. Maka Idul Fitri merupakan hari raya atau hari besar yang dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa Ramadhan. 

Dengan demikian, makna Idul Fitri adalah hari raya dimana umat Islam kembali berbuka atau makan. Oleh karena itu salah satu sunah sebelum melaksanakan salat Idul Fitri adalah makan dan minum. Sunah ini dikerjakan untuk menunjukkan bahwa pada hari raya Idul Fitri tersebut waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa. 

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW dari Anas bin Malik, “Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW pergi (untuk salat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain disebutkan: “Nabi SAW makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari)

Selanjutnya secara hakikat, Hari Raya Idul Fitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Idul Fitri merupakan simbol tercapainya tujuan dari kewajiban berpuasa, yaitu ketakwaan. Idul Fitri tersebut hadir setelah ditunaikannya kewajiban puasa Ramadan, yang di dalamnya seorang muslim menahan nafsu syahwatnya. Maka, hari raya Idul Fitri hakikatnya adalah perayaan kemenangan iman atas nafsu di medan juang Ramadan. 

Setelah berhasil menundukkan hawa nafsu, maka hari raya Idul Fitri merupakan hari besar yang menjadi momentum untuk kembali memperkuat hubungan vertikal kita dengan Allah (hablun minallah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial yang lebih baik dengan sesame (hablun minnannas).

Namun demikian, kebanyakan kita menganggap Hari Raya Idul Fitri itu dari sisi lahiriahnya saja. Hari raya, misalnya hanya dipandang sebagai momentum untuk memakai baju baru, kendaraan baru dan seterusnya. Sehingga kalau tidak baru bajunya merasa belum berhari raya. 

Padahal, makna Idul Fitri yang sejati bukan hanya itu. Kebahagiaan hari raya bukanlah saat memakai baju baru, tapi kebahagiaan hari raya adalah ketika seseorang muslim itu diampuni dosa-dosanya  dan bertambah ketakwaannya kepada Allah SWT.

Hari raya itu bukan baju baru, hari raya itu bukan mudik, hari raya itu bukan bersalaman-salaman dengan sanak kelaurga, hari raya itu bukan makan ketupat. Melainkan, hari raya itu di mana seorang muslim merdeka dari hawa nafsunya. Maka, siapa saja yang bertambah ketakwaannya kepada Allah SWT maka baginya kebahagiaan pada hari raya Idul Fitri yang akan datang dua hari lagi itu.

Sebaliknya siapa saja yang tidak mendapatkan ketakwaan maka sejatinya dia belum layak merayakan hari raya ini. Keberhasilan ibadah selama sebulan di bulan Ramadan dapat dilihat dari peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus berimbas secara nyata kepada akhlak  pelaku yang menjadikan pelaku memiliki akhlak yang mulia. 

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita selama Ramadan yang penuh rahmat dan ampunan. Dan semoga kita masih dipertemukan Ramadan yang akan datang. Aamiin.. (*)

(rs/ria/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia