alexametrics
Senin, 06 Jul 2020
radarsolo
Home > Karanganyar
icon featured
Karanganyar

Cerita di Balik Pembebasan Lahan Terdampak Proyek Waduk  Jlantah

24 Mei 2020, 12: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Cerita di Balik Pembebasan Lahan Terdampak Proyek Waduk  Jlantah

Proyek pembangunan Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar meninggalkan kenangan bagi warga yang tinggal di kawasan tersebut. Mereka kini memulai hidup baru setelah menerima pembayaran ganti rugi.

RUDI HARTONO, Karanganyar, Radar Solo

PEMANDANGAN berbeda terlihat saat memasuki Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso. Bangunan rumah milik warga mulai terbengkalai. Ada yang sudah rata dengan tanah, ada yang baru dicopot bagian pintu jendelanya saja.

Rumah-rumah tersebut sebagian sudah ditinggal pergi penghuninya. Kampung yang berada perbukitan ini terkena dampak pembangunan Waduk Jlantah. Penghuninya diminta pindah karena proyek sudah dimulai. Mereka sudah mendapatkan ganti rugi, atau istilah lainnya ganti untung. Kenapa ganti untung? Karena uang yang diterima masing-masing pemilik lahan cukup fantastis. Kisarannya antara ratusan hingga miliaran rupiah.

Siswanti 45, salah satunya. Warga Dusun Tlobo, Desa Tlobo ini menerima Rp 700 juta sebagai ganti untung dari rumah dan lahan pekarangannya seluas 325 meter persegi. Rumah sudah berdiri hampir 70an tahun. Sis yang sebelumnya bekerja sebagai penjual jamu di Jakarta ini, harus merelakan rumahnya rata dengan tanah.

”Rumah ini dibangun sejak simbah saya mas. Hampir 70an tahun menempati. Kemairn setelah kami menerima ganti untung, kemudian oleh pemerintah diminta untuk segera membongkar. Barang – barang yang sekiranya perlu, atau nantinya dapat digunakan bisa untuk dibawa, siapa tahu bisa digunakan di tempat yang baru,” ucap Sis ditemui Jawa Pos Radar Solo, beberapa waktu lalu.

Sis bersama suami, dua anak serta orang tuanya memutuskan untuk pindah ke daerah lain yang masih satu kawasan Kecamatan Jatiyoso. Lokasinya tak jauh dari rumah sebelumnya. Sembari menunggu pembangunan rumah baru selesai, Sis masih bertahan di salah satu bangunan rumahnya.

”Sebagian memang untuk membeli tanah dan membangun rumah baru mas. Sisanya untuk tabungan kebutuhan sehari – nanti,” terang Sis.

Sementara nilai ganti untung yang diterima Mardiman, 64 jauh lebih fantastis. Lahan seluas 738 meter persegi beserta rumahnya dihargai Rp 1,015 miliar. Mardiman yang sudah hampir 50 tahun menempati rumah warisan orang tuanya tersebut sudah legawa.

”Meskipun sempat ada ketidakcocokan harga sebelumnya, saya legawa melepas tanah warisan untuk pembangunan Waduk Jlantah,” terangnya.

Mardiman tak menyangka bakal menerima uang sebanyak itu. Dia pun menginvestasikan uangnya untuk membeli lahan baru di luar Jatiyoso. ”Selebihnya untuk kebutuhan hidup, kebutuhan anak – anak, dan membangun rumah,” ucapnya.

Dari data pemerintah desa setempat, rata – rata nilai ganti untung yang diterima warga antara Rp 300 juta sampai Rp 2 miliar. ”Ada yang mendapatkan Rp 2 miliar, dia petani dan pegawai swasta. Dapatnya memang banyak, tapi untuk membeli lagi juga membutuhkan biaya besar. Semenjak ada proyek bendungan ini, harga tanah permeter naik dari Rp 100.000 bisa menjadi Rp 400.000 sampai Rp 500.000,” jelas Kepala Desa Tlobo Heri Waluyo. (*/adi)

(rs/adi/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia