alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarsolo
Home > Sepak Bola
icon featured
Sepak Bola
Kisah Heroik Skuad Persis Solo di Musim 1994

Memang Bukan Tim Kacangan

24 Mei 2020, 19: 10: 59 WIB | editor : Perdana

AKHIRNYA PROMOSI: Kiper Persis Solo Ratmoko bersama pemain Persis lainnya merayakan usai jadi juara Divisi II Nasional musim 1994.

AKHIRNYA PROMOSI: Kiper Persis Solo Ratmoko bersama pemain Persis lainnya merayakan usai jadi juara Divisi II Nasional musim 1994. (YANIS BUDI UCOK FOR RADAR SOLO)

Share this      

PERIODE 1990an tentu jadi langkah awal Persis Solo untuk bisa bangkit. Semua dimulai kala tim ini sukses menjadi juara di kasta Divisi II Jateng 1993. Semua hasil tangan dingin Hong Widodo sebagai pelatih kepala yang sukses melahirkan tim Persis yang sangat solid. Bintang-bintang muda seperti Totok Supriyanto, Sukisno, Triyanto, Yanis Budi Ucok, Ratmoko, hingga Sarwo Edi jadi kerangka inti pada era tersebut.

November 1993, Persis menjalani babak puncak Divisi IIA PSSI Jateng, di Stadion Sriwedari. Hasil seri dua kali atas tim Persipur Purwodadi (2-2), dan Persikas Kabupaten Semarang (0-0), hingga kemenangan telak 6-0 atas PSISa Salatiga sudah cukup membuat Persis jadi wakil Jateng bersama PSISa ke babak Divisi IIA tingkat Jawa. 

Perjuangan selanjutnya digelar di Jakarta melawan Persijabar Jakarta Barat, Persid Jember, dan Persikabo Bogor. Laga terakhir melawan Persikabo, tentu yang akan paling diingat oleh bek Persikabo bernama Jaenal, dengan striker Persis Yanis “Ucok” Budi.

Keduanya sejatinya sempat tergabung dalam satu tim yang sama yakni di Indocement Bogor, beberapa tahun sebelum pertemuan ini. Tapi usai laga ini berakhir, jelas ada rasa dongkol yang timbul dibenak Jaenal kepada Ucok karena aksinya.

Kala itut skor masih berkedudukan 1-1 hingga di menit 80’-an. Ucok yang ikut tertekan terus berusaha untuk menjalankan tugasnya agar bisa mencetak gol. 

Harapan yang ditunggu-tunggu, akhirnya tiba. Ucok berinisiatif memanggil-manggil nama Jaenal yang kala itu tengah memegang bola untuk melakukan lemparan ke dalam. 

Di luar dugaan Jaenal memberikan bola ke arah Ucok, Jaenal mengira panggilan tersebut berasal dari rekan setimnya. Bola yang mengarah ke Ucok, akhirnya dimaksimalkan menjadi sebuah gol. Hasil ini ikut membuat Persis menang 2-1 di laga tersebut.

“Gol ini sangat penting, kemenangan itu juga yang membuat Persis sukses lolos ke babak nasional dan bisa mengajukan diri menjadi tuan rumah,” ujar Ucok.

Di babak nasional Divisi II, Persis masuk di grup D bersama Persipal Palu, PSK Kendari, dan Persifak Fak-Fak, yang semua pertandingannya digelar di Stadion Sriwedari. Persis akhirnya sukses masuk babak 8 besar di Grup L bersama PS Palembang, Persija Barat, dan PSS.

Di babak ini Persis sukses unjuk gigi, diantaranya saat menang atas PSS Sleman 2-1. Dimana gol Persis dicetak oleh Widiyanto (17’) dan Yanis Budi (88’). Saat laga melawan Persija Barat, Persis menang meyakinkan 3-1, dua gol di laga ini dicetak oleh Widianto.

Sriwedari 1 Juni 1994, masyarakat Solo berpesta. Persis sukses menang 1-0 atas PSLS Lhokseumawe di babak semifinal Divisi II, lewat gol tunggal Widianto di menit ke-65 hasil umpan lambung Yanis Ucok. Sebelumnya Persis berpeluang tambah gol. Yanis di jegal di kotak terlarang. Sayang tendangan penalti Sukisno gagal berbuah gol.

Walau begitu, hasil kemenangan 1-0 atas PSLS sudah cukup buat Persis sukses promosi ke Divisi I di musim 1995. 

“Usai laga semua suporter berteriak histeris. Di salah satu sudut ada kumpulan suporter yang menggunakan kaos seragam, bertuliskan Solonisti. Dulu sebelum ada Pasoepati, yang dukung Persis sepertinya mereka. Mereka mendekati pemain usai laga dan memberikan selamat,” tutur Ucok.

Di partai puncak, Persis akhirnya bisa menggenapi euforianya. Di mana, Persikab Bandung dipaksa menyerah 3-1 di laga ini. Widiyanto lagi-lagi jadi aktor penting kemenangan Persis. Dua golnya ditambah satu gol lainnya dari kaki Mulyono membawa Persis juara. 

Usai dinyatakan menang dan menjadi juara, masyarakat Solo kembali berpesta. Lapangan Sriwedari langsung dikerubuti oleh para loyalis Persis Solo. 

Yang lebih membanggakan, dalam pertandingan ini ditonton langsung oleh legenda Persis yang ikut membawa tim ini menjadi juara lima kali kompetisi Perserikatan pada tahun 1930-1940an, yakni R. Maladi.

“Pak Maladi sempat mendekati saya dan memberi doa, semoga kedepannya Persis bisa kembali jadi juara,” tutur head coach Persis kala itu, Hong Widodo. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP